Logo
>

Rugi AirAsia Indonesia (CMPP) Susut, Ekspansi Penumpang jadi Target 2026

Pendapatan CMPP turun tipis pada 2025, namun rugi berhasil ditekan. Maskapai ini menargetkan ekspansi kapasitas kursi lebih dari 30 persen dan pertumbuhan penumpang sekitar 32 persen pada 2026.

Ditulis oleh Yunila Wati
Rugi AirAsia Indonesia (CMPP) Susut, Ekspansi Penumpang jadi Target 2026
Meskipun AirAsia catatkan rugi bersih yang menyusut, namun beban bahan bakar, perbaikan pesawat, hingga aset, menjadi perhatian khusus. (Foto: Dok CMPP)

KABARBURSA.COM – PT AirAsia Indonesia Tbk (CMPP), berhasil memangkas rugi sepanjang 2025. Dalam laporan keuangan per 31 Desember 2025, CMPP mencatat rugi bersih sebesar Rp1,29 triliun, menyusut Rp233,86 miliar atau 15,17 persen dibandingkan rugi bersih tahun 2024 yang mencapai Rp1,53 triliun.

Perbaikan tersebut terjadi meskipun pendapatan usaha mengalami penurunan tipis. Sepanjang 2025, pendapatan CMPP tercatat sebesar Rp7,87 triliun atau turun sekitar Rp69,84 miliar dibandingkan pendapatan 2024 sebesar Rp7,94 triliun. Penurunan ini setara sekitar 0,88 persen secara tahunan.

Struktur pendapatan CMPP masih didominasi oleh bisnis inti penjualan kursi penerbangan. Pos ini menyumbang Rp6,63 triliun atau sekitar 84 persen dari total pendapatan perusahaan pada 2025. 

Selain itu, perusahaan juga memperoleh pendapatan dari layanan bagasi sebesar Rp1,00 triliun, pelayanan penerbangan Rp108,38 miliar, kargo Rp70,95 miliar, serta charter Rp31,88 miliar.

Komposisi tersebut menunjukkan bahwa pendapatan tambahan di luar tiket atau ancillary revenue masih menjadi kontributor yang relatif lebih kecil dibandingkan pendapatan utama dari kursi penerbangan. 

Jika digabungkan, seluruh pendapatan non-ticket tersebut berada di kisaran sekitar Rp1,21 triliun atau sekitar 15 persen dari total pendapatan perusahaan.

Biaya Bahan Bakar Menurun, Ongkos Perbaikan Pesawat Melonjak

Perbaikan kinerja pada 2025 terutama terlihat dari sisi operasional. Rugi usaha CMPP tercatat sebesar Rp644,59 miliar, turun dari Rp790,39 miliar pada 2024. Penurunan rugi usaha ini mencapai sekitar Rp145,8 miliar atau setara 18,44 persen secara year on year.

Perbaikan tersebut terjadi bersamaan dengan penurunan total beban usaha. Sepanjang 2025, total beban usaha tercatat sebesar Rp8,52 triliun, lebih rendah sekitar Rp209,86 miliar dibandingkan beban usaha 2024 yang mencapai Rp8,73 triliun.

Struktur biaya perusahaan menunjukkan bahan bakar masih menjadi komponen pengeluaran terbesar. Pada 2025, biaya bahan bakar tercatat Rp3,16 triliun, turun dari Rp3,45 triliun pada tahun sebelumnya. Penurunan biaya bahan bakar ini mencapai sekitar Rp289 miliar atau sekitar 8,4 persen.

Namun demikian, beberapa komponen biaya lain justru mengalami kenaikan. Beban perbaikan dan pemeliharaan pesawat meningkat menjadi Rp2,06 triliun dari sebelumnya Rp1,66 triliun. Kenaikan ini mencapai sekitar Rp400 miliar atau lebih dari 24 persen secara tahunan.

Selain itu, beban pemasaran juga meningkat menjadi Rp455,57 miliar dari Rp422,61 miliar pada 2024. Sementara itu, beban gaji dan tunjangan karyawan tercatat sebesar Rp728,32 miliar pada 2025.

Di luar beban operasional, tekanan juga muncul dari sisi biaya pendanaan dan risiko nilai tukar. Beban keuangan perusahaan tercatat sebesar Rp439,66 miliar pada 2025, meningkat dibandingkan Rp424,34 miliar pada 2024. Sementara itu, rugi selisih kurs dari aktivitas pendanaan tercatat sebesar Rp207,81 miliar.

Total Aset Perusahaan Melemah, Utang Membengkak

Dari sisi posisi keuangan, neraca CMPP menunjukkan kondisi permodalan yang masih sangat terbatas. Total aset perusahaan per akhir 2025 tercatat sebesar Rp5,05 triliun, turun sekitar Rp669,87 miliar atau 11,71 persen dibandingkan posisi akhir 2024 sebesar Rp5,72 triliun.

Di sisi lain, total liabilitas meningkat menjadi Rp15,79 triliun dari Rp15,15 triliun pada tahun sebelumnya. Peningkatan utang sekitar Rp640 miliar ini menyebabkan defisiensi modal perusahaan semakin melebar.

Ekuitas CMPP pada akhir 2025 tercatat negatif Rp10,73 triliun, lebih dalam dibandingkan ekuitas negatif Rp9,43 triliun pada akhir 2024. Dengan demikian, defisit ekuitas meningkat sekitar Rp1,30 triliun dalam satu tahun.

Kondisi tersebut membuat laporan keuangan CMPP masih mencantumkan ketidakpastian material terkait kelangsungan usaha atau going concern. Dalam laporan manajemen, direksi menyatakan bahwa perusahaan terus memonitor perkembangan situasi dan menjalankan berbagai langkah pemulihan untuk menjaga keberlangsungan operasional.

Langkah yang dilakukan antara lain efisiensi biaya operasional, negosiasi ulang kontrak sewa pesawat, serta optimalisasi kapasitas pada rute yang dinilai memberikan kontribusi pendapatan lebih tinggi.

Perusahaan juga menargetkan peningkatan kontribusi pendapatan dari bisnis kargo, charter, serta berbagai layanan tambahan atau ancillary revenue. Selain itu, manajemen menyatakan terus mencari peluang pendanaan eksternal untuk memperkuat struktur permodalan.

Strategi CMPP Tahun ini

Di sisi korporasi global, CMPP juga berada dalam struktur restrukturisasi yang lebih luas di tingkat induk. Pada 16 Januari 2026, pemegang saham pengendali Capital A Berhad mengumumkan rencana restrukturisasi strategis yang melibatkan pengalihan seluruh bisnis penerbangan grup kepada AirAsia X Berhad.

Rencana tersebut mencakup investasi Capital A pada AirAsia Aviation Group Limited yang menjadi induk dari berbagai maskapai AirAsia, termasuk PT Indonesia AirAsia sebagai entitas operasional CMPP di Indonesia.

Selain langkah restrukturisasi, perusahaan juga telah menyiapkan strategi ekspansi operasional untuk periode berikutnya. Dalam paparan publik, manajemen CMPP menyampaikan target operasional yang lebih agresif untuk 2026.

Salah satu indikator utama yang ditargetkan adalah tingkat keterisian kursi atau load factor di atas 85 persen. Selain itu, perusahaan menargetkan ketepatan waktu penerbangan atau on-time performance juga berada di atas 85 persen.

Dari sisi kapasitas, perusahaan memproyeksikan peningkatan kapasitas kursi lebih dari 30 persen dibandingkan proyeksi tahun 2025. Peningkatan kapasitas ini akan diikuti perubahan komposisi rute penerbangan.

Kontribusi rute internasional diproyeksikan mencapai sekitar 64 persen dari total jaringan penerbangan, sementara rute domestik diperkirakan berada di kisaran 36 persen.

Sejalan dengan peningkatan kapasitas tersebut, jumlah penumpang pada 2026 diproyeksikan meningkat sekitar 32 persen dibandingkan proyeksi tahun sebelumnya.

Perusahaan juga menargetkan peningkatan pangsa pasar melalui perluasan konektivitas domestik serta penguatan jaringan internasional. Salah satu strategi yang disiapkan adalah pengembangan konsep virtual hub di Makassar untuk memperkuat konektivitas penerbangan.

Di sisi distribusi penjualan, CMPP menargetkan optimalisasi berbagai saluran pemasaran. Perusahaan berencana memperluas kerja sama dengan online travel agent, non-online travel agent, serta segmen korporasi.

Selain itu, perusahaan juga menargetkan peningkatan pendapatan tambahan melalui berbagai layanan ancillary seperti seat bundle, infraservice, serta dynamic bundle yang ditawarkan melalui platform digital seperti AirAsia Move dan berbagai mitra agen perjalanan daring.

Strategi tersebut menunjukkan bahwa pemulihan kinerja CMPP pada periode berikutnya tidak hanya bergantung pada pertumbuhan jumlah penumpang, tetapi juga pada peningkatan kontribusi pendapatan tambahan serta optimalisasi jaringan penerbangan.(*)

Disclaimer:
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Jurnalis

Yunila Wati

Telah berkarier sebagai jurnalis sejak 2002 dan telah aktif menulis tentang politik, olahraga, hiburan, serta makro ekonomi. Berkarier lebih dari satu dekade di dunia jurnalistik dengan beragam media, mulai dari media umum hingga media yang mengkhususkan pada sektor perempuan, keluarga dan anak.

Saat ini, sudah lebih dari 1000 naskah ditulis mengenai saham, emiten, dan ekonomi makro lainnya.

Tercatat pula sebagai Wartawan Utama sejak 2022, melalui Uji Kompetensi Wartawan yang diinisiasi oleh Persatuan Wartawan Indonesia (PWI), dengan nomor 914-PWI/WU/DP/XII/2022/08/06/79