KABARBURSA.COM — Pergerakan rupiah memasuki Kamis, 22 Januari 2026, belum sepenuhnya keluar dari bayang-bayang tekanan global. Setelah sempat menguat tipis di perdagangan sebelumnya, nilai tukar rupiah kembali dihadapkan pada kombinasi faktor eksternal dan domestik yang membuat arah pasar cenderung tidak tegas. Di tengah menguatnya dolar Amerika Serikat dan memanasnya isu geopolitik, pelaku pasar memilih bersikap hati-hati.
Direktur PT Traze Andalan Futures sekaligus pengamat mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuabi, menilai pergerakan rupiah hari ini masih akan berlangsung volatil, tanpa katalis kuat yang mampu mendorong penguatan signifikan.
Ibrahim mencatat indeks dolar AS menguat pada Rabu, 21 Januari 2026. Penguatan ini tidak lepas dari meningkatnya ketegangan antara Amerika Serikat dan Uni Eropa, menyusul sikap Presiden AS Donald Trump yang kembali menegaskan ambisi strategis negaranya terhadap Greenland.
Trump bahkan menyebut tidak ada “jalan mundur” dalam isu tersebut dan mengaitkannya dengan kepentingan keamanan Amerika di kawasan Arktik. Retorika itu langsung memicu respons dari Eropa. Presiden Prancis Emmanuel Macron menegaskan bahwa Eropa tidak akan tunduk pada tekanan, dan hubungan antar-sekutu seharusnya dibangun atas dasar saling menghormati, bukan paksaan.
Meski Trump berupaya menenangkan pasar dengan menyatakan Amerika Serikat tengah mencari solusi yang dapat diterima NATO, investor global tetap berhati-hati. Ketegangan ini juga dilaporkan berdampak pada tertundanya pembahasan paket dukungan ekonomi pascaperang Ukraina senilai USD800 miliar (sekitar Rp13.440 triliun), yang semula direncanakan dibahas di Forum Ekonomi Dunia di Davos.
Situasi tersebut memperburuk sentimen risiko global dan memperkuat dolar AS, yang pada gilirannya menekan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.
Dari sisi domestik, Ibrahim menyoroti kebijakan fiskal pemerintah yang secara sadar memperlebar defisit APBN 2025 menjadi 2,92 persen, mendekati batas psikologis 3 persen. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan langkah ini diambil sebagai strategi countercyclical untuk mendorong pemulihan ekonomi nasional setelah bayang-bayang perlambatan sepanjang 2025.
Pemerintah menilai intervensi fiskal agresif dibutuhkan untuk menghidupkan kembali permintaan dan penawaran dalam negeri. Tanpa dorongan tersebut, perekonomian nasional dinilai berisiko masuk ke fase krisis. Menurut pemerintah, kebijakan ini mulai menunjukkan hasil dengan pergerakan ekonomi kembali ke zona positif.
Sementara itu, Bank Indonesia memilih menjaga stabilitas dengan menahan suku bunga acuan di level 4,75 persen pada Desember 2025. Suku bunga deposit facility tetap di 3,75 persen, dan lending facility di 5,5 persen. Kebijakan ini diarahkan untuk menjaga stabilitas rupiah di tengah ketidakpastian global, sekaligus memperkuat transmisi moneter dan makroprudensial.
Meski suku bunga ditahan, BI masih membuka ruang penurunan ke depan, dengan catatan inflasi 2026 diproyeksikan berada di kisaran 4,5 persen plus minus 1 persen.
Proyeksi Rupiah Hari ini
Ibrahim menjelaskan pergerakan rupiah pada perdagangan sebelumnya sempat melemah, namun akhirnya ditutup menguat tipis. Mata uang rupiah ditutup menguat 20 poin, sebelumnya sempat melemah 20 poin di level Rp16.936 dari penutupan sebelumnya di level Rp16.956.
Adapun untuk perdagangan hari ini, Kamis, 22 Januari 2026, Ibrahim secara eksplisit memproyeksikan arah rupiah masih akan bergerak tidak stabil.
“Sedangkan untuk perdagangan hari ini, mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup melemah di rentang Rp16.930–Rp16.950,” ujarnya dalam keterangan tertulis yang dikutip Kamis, 22 Januari 2026.
Proyeksi tersebut mencerminkan kondisi pasar yang masih dibayangi tekanan eksternal, sementara dukungan dari dalam negeri belum cukup kuat untuk mendorong penguatan berkelanjutan.(*)