KABARBURSA.COM – Nilai tukar rupiah menguat pada penutupan perdagangan Selasa, 10 Maret 2026, di tengah meningkatnya ekspektasi pasar bahwa konflik geopolitik di Timur Tengah berpotensi mereda.
Sentimen tersebut muncul setelah sejumlah pernyataan dari pejabat global yang memberi sinyal kemungkinan berakhirnya konflik antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel dalam waktu yang lebih cepat dari perkiraan awal.
Berdasarkan data Bloomberg hingga pukul 15.00 WIB, rupiah ditutup menguat 86 poin ke level Rp16.863 per dolar AS, dibandingkan posisi penutupan hari sebelumnya di Rp16.949 per dolar AS. Penguatan ini terjadi setelah beberapa sesi sebelumnya mata uang domestik berada dalam tekanan akibat meningkatnya ketegangan geopolitik dan lonjakan harga energi global.
Pengamat ekonomi, mata uang, dan komoditas Ibrahim Assuaibi, menjelaskan bahwa pergerakan rupiah pada hari ini dipengaruhi oleh meredanya kekhawatiran pasar terhadap potensi gangguan pasokan energi global.
Kekhawatiran tersebut sebelumnya meningkat setelah eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah yang melibatkan Iran serta serangan militer yang memicu lonjakan harga minyak dunia.
Menurut Ibrahim, pasar mulai merespons perkembangan diplomasi internasional yang membuka kemungkinan penyelesaian konflik dalam waktu yang lebih cepat. Ia menyebut Presiden Rusia Vladimir Putin melakukan komunikasi dengan Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk membahas proposal penyelesaian konflik Iran.
“Presiden Rusia Vladimir Putin melakukan panggilan telepon dengan Trump dan berbagi proposal yang bertujuan untuk penyelesaian cepat perang Iran, menurut seorang ajudan Kremlin, meredakan kekhawatiran tentang gangguan pasokan yang berkepanjangan,” tulis Ibrahim dalam publikasi risetnya.
Sentimen tersebut diperkuat oleh pernyataan Trump dalam wawancara dengan CBS News yang menyebut konflik dengan Iran dapat berakhir lebih cepat dari perkiraan awal. Trump mengatakan Washington “jauh lebih maju” dari jadwal awal yang sebelumnya diperkirakan berlangsung empat hingga lima minggu.
Meski demikian, pasar masih mencermati perkembangan lanjutan dari konflik tersebut. Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) merespons pernyataan Trump dengan sikap keras. Mereka menyatakan bahwa Iran tidak akan mengizinkan ekspor minyak dari kawasan tersebut apabila serangan militer Amerika Serikat dan Israel berlanjut.
Pernyataan ini menunjukkan bahwa risiko geopolitik belum sepenuhnya mereda. Ketegangan di kawasan Timur Tengah masih berpotensi memengaruhi stabilitas pasar energi global, terutama karena kawasan tersebut menjadi salah satu jalur utama distribusi minyak dunia melalui Selat Hormuz.
Dolar AS Stabil
Di pasar global, dolar Amerika Serikat pada perdagangan Selasa relatif stabil terhadap sejumlah mata uang utama setelah sempat mengalami pelemahan pada sesi sebelumnya. Dalam perdagangan Asia, dolar diperdagangkan di sekitar 157,73 yen Jepang dan sekitar USD1,1632 per euro.
Stabilnya pergerakan dolar terjadi setelah pasar sebelumnya merespons lonjakan harga energi akibat kekhawatiran konflik Iran dapat mengganggu pasokan minyak global. Dalam kondisi ketidakpastian geopolitik, dolar sering menjadi salah satu aset yang dicari investor sebagai instrumen lindung nilai.
Namun tekanan pada dolar muncul setelah muncul sinyal kemungkinan meredanya konflik. Harga minyak mentah Brent diperdagangkan di kisaran USD93 per barel, lebih rendah dibandingkan puncak hampir USD120 per barel yang sempat tercapai pada awal eskalasi konflik.
Rodrigo Catril, analis dari National Australia Bank di Sydney, mengatakan volatilitas pasar masih berpotensi berlanjut karena ketidakpastian geopolitik belum sepenuhnya hilang.
“Kami merasa volatilitas belum berakhir. Masih ada potensi peristiwa yang dapat memicu peningkatan risiko di pasar,” ujarnya.
Menurut Catril, situasi geopolitik saat ini tidak sesederhana sekadar mengumumkan berakhirnya konflik. Ia menilai masih belum jelas apakah Iran benar-benar berniat menurunkan eskalasi konflik secara signifikan.
Pergerakan mata uang global juga menunjukkan respons yang beragam terhadap perkembangan tersebut. Mata uang yang sensitif terhadap risiko seperti dolar Australia melemah sekitar 0,2 persen ke level USD0,7063, sementara dolar Selandia Baru turun sekitar 0,4 persen ke USD0,5912.
Di sisi lain, poundsterling tercatat pulih dari tekanan sebelumnya dan diperdagangkan di kisaran USD1,3434.
Dalam laporan riset Deutsche Bank, analis Henry Allen menyebut pasar global masih menunggu beberapa faktor utama sebelum terjadi perubahan tren yang lebih besar pada aset berisiko. Faktor tersebut antara lain harga minyak yang bertahan tinggi dalam waktu lama, perubahan kebijakan bank sentral, serta munculnya tanda-tanda perlambatan ekonomi global.
Allen menilai pasar saat ini memang semakin dekat dengan kondisi tersebut dibandingkan satu minggu sebelumnya. Namun menurutnya, indikator yang ada belum sepenuhnya menunjukkan tekanan sebesar yang terjadi pada periode krisis energi pada 2022.(*)