Logo
>

Saat MSCI Jadi Alarm, Pasar Saham RI Rapuh di Hadapan Modal Asing

Aksi jual asing triliunan rupiah di tengah isu MSCI mengungkap rapuhnya struktur pasar saham Indonesia yang masih bergantung pada arus dana global.

Ditulis oleh Moh. Alpin Pulungan
Saat MSCI Jadi Alarm, Pasar Saham RI Rapuh di Hadapan Modal Asing
Isu MSCI memicu aksi jual asing dan membuat IHSG tertekan. Fenomena ini menjadi alarm ketergantungan pasar saham RI pada modal global. Foto: Dok. IDX Channel

Poin Penting :

    KABARBURSA.COM — Penurunan tajam Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSH pada Rabu, 28 Januari 2026, bukan sekadar soal teknis indeks global. Di balik koreksi yang sudah melewati 7 persen dan membuat pasar limbung itu, tersimpan cerita yang lebih dalam tentang bagaimana pasar saham Indonesia berdiri di atas fondasi yang masih mudah goyah ketika arus modal global berubah arah.

    Isu peninjauan metodologi free float oleh Morgan Stanley Capital International (MSCI) memang menjadi pemicu yang terlihat di permukaan. Namun, data perdagangan menunjukkan reaksi pasar sudah dimulai bahkan sebelum keputusan apa pun diumumkan. Investor asing terlihat lebih dulu angkat kaki, seolah membaca sinyal bahwa risiko di pasar Indonesia sedang meningkat.

    Pada Senin, 26 Januari 2026, misalnya, IHSG justru ditutup menguat tipis 0,27 persen ke level 8.975. Tapi di balik penguatan indeks itu, investor asing mencatatkan penjualan bersih sekitar Rp1 triliun di pasar reguler. Saham-saham besar menjadi sasaran utama. BBCA dilepas asing sekitar Rp785,39 miliar, disusul BMRI Rp448,85 miliar, dan BUMI sekitar Rp357,92 miliar. Angka-angka ini menunjukkan bahwa penguatan indeks tidak lagi mencerminkan keyakinan investor global.

    Tekanan tersebut bukan kejadian tunggal. Beberapa hari sebelumnya, Rabu 21 Januari 2026, ketika IHSG turun 1,36 persen ke level 9.010,33, aksi jual asing justru lebih besar. Total net sell asing mencapai sekitar Rp1,9 triliun, dengan Rp1,88 triliun terjadi di pasar reguler dan sisanya di pasar tunai serta negosiasi. Dalam dua sesi itu saja, sebelum kejatuhan besar IHSG, dana asing yang keluar sudah mendekati Rp3 triliun.

    Jika ditarik ke skala mingguan, gambarnya semakin jelas. Sepanjang periode 19 hingga 23 Januari 2026, investor asing mencatatkan penjualan bersih sekitar Rp3,25 triliun di pasar saham Indonesia. Padahal pada pekan sebelumnya, pasar masih menikmati aliran dana masuk bersih sekitar Rp4,2 triliun.

    Perubahan arah yang tajam ini menunjukkan bahwa sentimen asing berbalik dengan cepat, seiring meningkatnya kekhawatiran terhadap faktor eksternal dan domestik.

    Isu MSCI memperkuat kecemasan tersebut. Sejumlah analis memperkirakan bahwa jika MSCI benar-benar mengubah metodologi free float, potensi arus keluar dana dari pasar saham Indonesia bisa mencapai lebih dari USD2 miliar. Dengan kurs sekitar Rp16.850 per USD, nilai itu setara kurang lebih Rp33,7 triliun. Meski masih berupa estimasi, angka sebesar itu cukup untuk mengguncang pasar yang likuiditasnya masih sangat bergantung pada investor asing.

    Tekanan di pasar saham juga datang dari arah lain. Pergerakan rupiah yang cenderung melemah membuat aset Indonesia terlihat kurang menarik di mata investor global. Ketika nilai tukar tertekan, imbal hasil saham dalam denominasi dolar ikut tergerus.

    Pada penutupan pekan ketiga Januari, IHSG sempat turun 0,46 persen ke level 8.951,01, di tengah kekhawatiran pasar terhadap arah fiskal, geopolitik, dan stabilitas nilai tukar.

    Kombinasi faktor-faktor ini membentuk satu pola yang konsisten. Aksi jual asing terjadi bahkan saat indeks menguat, arus modal mingguan berbalik dari masuk menjadi keluar, dan sentimen eksternal memperbesar tekanan. MSCI, dalam konteks ini, bukan sekadar penyebab langsung, melainkan katalis yang mempercepat respons pasar terhadap kerentanan yang sudah ada.

    Fenomena ini sekaligus menjadi pengingat bahwa pasar saham Indonesia masih sangat sensitif terhadap perubahan sentimen global. Selama basis investor domestik belum cukup kuat untuk menjadi penyangga, setiap sinyal negatif dari luar berpotensi berubah menjadi koreksi tajam. Kejatuhan IHSG kali ini bukan hanya soal angka indeks, melainkan soal struktur pasar yang kembali diuji.

    Bagi otoritas dan pembuat kebijakan, peristiwa ini menjadi alarm bahwa stabilitas makro dan narasi kebijakan yang konsisten sangat menentukan kepercayaan pasar. Sementara bagi investor, koreksi tajam ini mengajarkan bahwa membaca data arus modal sering kali lebih penting daripada sekadar mengikuti headline. MSCI mungkin hanya satu episode, tetapi cerita besarnya adalah tentang bagaimana pasar Indonesia beradaptasi, atau gagal beradaptasi, dengan arus modal global yang kian cepat berubah.(*)

    Disclaimer:
    Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.

    Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

    Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

    Gabung Sekarang

    Jurnalis

    Moh. Alpin Pulungan

    Asisten Redaktur KabarBursa.com. Jurnalis yang telah berkecimpung di dunia media sejak 2020. Pengalamannya mencakup peliputan isu-isu politik di DPR RI, dinamika hukum dan kriminal di Polda Metro Jaya, hingga kebijakan ekonomi di berbagai instansi pemerintah. Pernah bekerja di sejumlah media nasional dan turut terlibat dalam liputan khusus Ada TNI di Program Makan Bergizi Gratis Prabowo Subianto di Desk Ekonomi Majalah Tempo.

    Lulusan Sarjana Hukum Universitas Pamulang. Memiliki minat mendalam pada isu Energi Baru Terbarukan dan aktif dalam diskusi komunitas saham Mikirduit. Selain itu, ia juga merupakan alumni Jurnalisme Sastrawi Yayasan Pantau (2022).