KABARBURSA.COM – MSCI Inc. resmi merilis lima pengumuman berbeda pada Selasa, 12 Mei 2026, terkait hasil MSCI Global Standard Index Review Mei 2026.
Dari seluruh pengumuman tersebut, perhatian investor domestik tertuju pada hasil rebalancing indeks global yang kembali memberi tekanan terhadap pasar modal Indonesia.
Dalam pengumuman utamanya, MSCI menyampaikan seluruh perubahan hasil review indeks akan efektif pada penutupan perdagangan 29 Mei 2026 atau berlaku mulai 1 Juni 2026.
MSCI menyebut terdapat 49 sekuritas yang ditambahkan dan 101 sekuritas yang dihapus dari MSCI ACWI Index dalam review Mei 2026.
“Tiga tambahan terbesar pada MSCI World Index diukur berdasarkan full company market capitalization adalah Medline A, MasTec dan TechnipFMC,” tulis MSCI dalam pengumuman resminya tertanggal 12 Mei 2026 atau dalam waktu Indonesia Rabu, 13 Mei 2026.
Sementara untuk MSCI Emerging Markets Index, tiga tambahan terbesar berasal dari Itau Unibanco dari Brasil, Yangtze Optical Fibre and Cable Company Limited A dari China, serta Sichuan Biokin Pharmaceutical A dari China.
Selain itu, MSCI juga mengumumkan terdapat 246 penambahan dan 195 penghapusan pada MSCI ACWI Small Cap Index. Kemudian pada MSCI ACWI Investable Market Indexes (IMI), terdapat 208 penambahan dan 209 penghapusan.
Adapun pada MSCI World All Cap Indexes, MSCI mencatat terdapat 144 saham masuk dan 81 saham keluar. Sementara di MSCI Frontier Markets Index, terdapat lima penambahan dan delapan penghapusan.
MSCI dalam pengumumannya juga kembali menyinggung persoalan aksesibilitas pasar yang masih menjadi perhatian. Dalam keterangannya, MSCI menyatakan masih tidak menerapkan perubahan terhadap sekuritas Bangladesh pada indeks MSCI Bangladesh maupun indeks terkait lainnya.
“Mengingat isu aksesibilitas pasar yang sedang diamati, MSCI akan terus tidak mengimplementasikan perubahan,” tulis MSCI.
Bagi pasar Indonesia, hasil review kali ini menjadi sorotan karena tidak terdapat penjelasan mengenai penambahan saham baru Indonesia ke MSCI Global Standard Index.
Kondisi tersebut membuat investor kembali mencermati status evaluasi pasar modal Indonesia yang sebelumnya sempat menjadi perhatian MSCI terkait aksesibilitas pasar, free float, hingga struktur kepemilikan saham.
Pada hari yang sama, MSCI juga menerbitkan empat pengumuman tambahan. Pengumuman kedua berkaitan dengan pembaruan buku metodologi indeks. MSCI menyatakan metodologi yang diperbarui mencakup MSCI Global Investable Market Indexes Methodology dan MSCI Index Calculation Methodology.
“MSCI Inc. mengumumkan hari ini bahwa sebagai bagian dari Tinjauan Indeks Mei 2026, buku metodologi berikut telah diperbarui,” tulis MSCI.
Pengumuman ketiga membahas simulasi reklasifikasi Yunani dari emerging market menjadi developed market. MSCI menyebut telah menyediakan simulated constituent list untuk MSCI Greece IMI dan MSCI Europe IMI sebagai bagian dari persiapan reklasifikasi tersebut.
Sebagai pengingat, MSCI sebelumnya telah mengumumkan pada 1 April 2026 bahwa Yunani akan direklasifikasi dari emerging market menjadi developed market dalam satu tahap pada Mei 2027.
Sementara pengumuman keempat berkaitan dengan review pembatasan investasi Mandatory Provident Fund Schemes Authority (MPFA) Hong Kong. MSCI memastikan pembatasan investasi MPFA Hong Kong tetap tidak berubah dalam review Mei 2026.
“Pembatasan investasi MPFA Hong Kong akan tetap tidak berubah,” tulis MSCI.
Adapun pengumuman kelima membahas saham yang masuk kategori non-eligible securities monitoring board. Dalam pengumuman tersebut, MSCI menyebut saham Adani Energy Solutions dari India tidak akan dimasukkan ke MSCI Investable Market Indexes karena masuk pengawasan Additional Surveillance Measure (ASM) di National Stock Exchange of India.
“MSCI tidak akan melaksanakan tambahan ke IMI untuk sekuritas yang memasuki pengawasan tambahan jangka pendek dan jangka panjang,” tulis MSCI.
MSCI juga menegaskan seluruh perubahan dalam review Mei 2026 akan diterapkan efektif pada 29 Mei 2026 setelah penutupan pasar.
Meski tidak terdapat rincian resmi terkait saham Indonesia dalam pengumuman yang dirilis MSCI kali ini, pelaku pasar tetap menaruh perhatian besar terhadap hasil review tersebut karena berpotensi memengaruhi aliran dana asing, khususnya pada saham-saham berkapitalisasi besar di Bursa Efek Indonesia.(*)