KABARBURSA.COM – Bursa saham Amerika Serikat atau Wall Street ditutup di zona merah pada perdagangan Selasa, 12 Mei 2026. Hal ini terjadi di tengah lonjakan inflasi Amerika Serikat dan meningkatnya tensi konflik AS-Iran yang kembali memicu kekhawatiran pasar global.
Indeks S&P 500 dan Nasdaq terkoreksi dari rekor tertinggi sebelumnya setelah saham-saham teknologi mengalami tekanan. Sementara itu, indeks Dow Jones masih mampu bertahan di zona hijau ditopang sektor defensif dan kesehatan.
S&P 500 ditutup turun 0,16 persen ke level 7.400,96. Nasdaq melemah 0,71 persen menjadi 26.088,20, sedangkan Dow Jones Industrial Average naik tipis 0,11 persen ke posisi 49.760,56.
Tekanan di pasar saham muncul setelah data inflasi AS April 2026 tercatat lebih tinggi dari ekspektasi pasar. Consumer Price Index (CPI) naik 3,8 persen secara tahunan atau yoy, tertinggi sejak Mei 2023.
Kenaikan inflasi tersebut dipicu lonjakan harga energi di tengah konflik AS-Iran yang belum menunjukkan tanda mereda.
Presiden AS Donald Trump sebelumnya mengatakan gencatan senjata dengan Iran berada dalam kondisi kritis setelah Washington menolak proposal terbaru Teheran terkait negosiasi perdamaian.
Kondisi tersebut kembali memicu kekhawatiran pasar terhadap gangguan pasokan energi global dan inflasi yang lebih tinggi.
Harga minyak mentah dunia pun kembali melonjak. Minyak mentah Brent naik 3,42 persen menjadi USD107,77 per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) menguat 4,19 persen ke level USD102,18 per barel.
Chief Investment Officer Northlight Asset Management, Chris Zaccarelli mengatakan kenaikan inflasi saat ini sangat dipengaruhi dampak perang Iran dan gangguan distribusi energi global. “Inflasi kembali bergerak naik seiring perang di Iran,” ujar dia dikutip dari TheStreet.
Ia menilai kondisi tersebut membuat peluang penurunan suku bunga The Federal Reserve semakin kecil dalam waktu dekat. “Dengan inflasi yang bergerak ke arah yang salah,” katanya.
Tekanan inflasi dan kenaikan imbal hasil obligasi AS membuat saham teknologi kembali mengalami aksi jual setelah reli panjang dalam beberapa pekan terakhir.
Sepanjang sesi perdagangan, Nasdaq bahkan sempat turun lebih dari 2 persen sebelum memangkas pelemahan menjelang penutupan pasar. Saham-saham teknologi dan sektor discretionary menjadi penekan utama indeks.
Di sisi lain, sektor defensif seperti kesehatan, keuangan, dan consumer staples membantu Dow Jones bertahan di zona positif.
Sebelumnya pada perdagangan Senin, 11 Mei 2026, Wall Street masih mampu ditutup menguat dengan S&P 500 dan Nasdaq mencetak rekor tertinggi baru di tengah optimisme sektor kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).
Namun sentimen pasar berubah cepat setelah inflasi kembali memanas dan konflik Timur Tengah memicu kekhawatiran baru terhadap stabilitas ekonomi global.(*)