Logo
>

Saham Bank Besar Disebut jadi Korban Awal Penguatan Dolar

Penguatan dolar AS menuju level psikologis 100 dinilai berpotensi memicu perubahan arus modal dan tekanan pada sektor keuangan domestik.

Ditulis oleh Citra Dara Vresti Trisna
Saham Bank Besar Disebut jadi Korban Awal Penguatan Dolar
Ilustrasi penguatan indeks dolar Amerika Serikat (DXY) menuju level psikologis 100 berpotensi memberikan tekanan awal terhadap saham-saham perbankan. Gambar dibuat oleh AI untuk KabarBursa.com.

KABARBURSA.COM – Penguatan indeks dolar Amerika Serikat (DXY) menuju level psikologis 100 berpotensi memberikan tekanan awal terhadap saham-saham perbankan berkapitalisasi besar di Indonesia. Berdasarkan pola historis, sektor keuangan kerap menjadi sasaran pertama aksi jual investor ketika dolar AS menguat dan sentimen risiko global meningkat.

Analis Komoditas sekaligus Founder Traderindo, Wahyu Tribowo Laksono, mengatakan pasar Indonesia biasanya mengalami tiga fase ketika DXY berhasil menembus dan bertahan di area psikologis tersebut.

“Dari pengalaman siklus ekonomi sebelumnya, ketika DXY berhasil menembus dan bertahan di atas level psikologis penting seperti area 100, pasar Indonesia biasanya menunjukkan pola pergerakan yang berpola tiga tahap,” ujar Wahyu kepada KabarBursa.com, Kamis, 28 Mei 2026.

Menurut dia, fase pertama biasanya berupa knee-jerk reaction atau kepanikan sesaat yang memicu koreksi di pasar saham domestik.

“Tahap pertama adalah knee-jerk reaction atau kepanikan sesaat. Sektor keuangan domestik akan mengalami koreksi tajam dalam hitungan hari, di mana IHSG mengalami penurunan harian yang signifikan dipimpin oleh saham-saham perbankan berkapitalisasi besar yang likuid dibeli asing,” katanya.

Wahyu menjelaskan saham perbankan besar umumnya menjadi pilihan utama investor asing saat melakukan aksi jual karena memiliki likuiditas tinggi dan porsi kepemilikan asing yang relatif besar.

Kondisi tersebut membuat tekanan pasar sering kali lebih dulu terlihat pada saham-saham perbankan sebelum merembet ke sektor lain.

Tekanan Berlanjut ke Pasar Obligasi

Setelah tekanan awal di pasar saham, Wahyu menilai dampak penguatan dolar biasanya berlanjut ke pasar obligasi pemerintah. “Tahap kedua adalah pelebaran yield SBN, di mana harga obligasi pemerintah turun dan imbal hasilnya dipaksa naik oleh pasar agar tetap terlihat kompetitif bagi sisa investor yang bertahan,” ujarnya.

Menurut dia, kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah terjadi karena investor menuntut kompensasi risiko yang lebih tinggi ketika aset berbasis dolar menjadi semakin menarik.

Situasi tersebut dapat mempersempit selisih imbal hasil antara instrumen keuangan Indonesia dan Amerika Serikat sehingga mendorong sebagian investor global mengurangi eksposur di pasar negara berkembang. Pada tahap berikutnya, pasar biasanya memasuki fase konsolidasi. 

“Tahap ketiga adalah konsolidasi dan diferensiasi, di mana pasar saham mulai bergerak mendatar secara volatil, dan investor domestik mulai melakukan rotasi portofolio ke sektor-sektor yang dinilai memiliki ketahanan fundamental lebih kuat terhadap guncangan eksternal,” kata Wahyu.

Menurut dia, pola tersebut berulang dalam beberapa siklus penguatan dolar sehingga menjadi salah satu indikator yang perlu dicermati pelaku pasar ketika DXY mendekati level 100.(*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Jurnalis

Citra Dara Vresti Trisna

Citra Dara Vresti Trisna adalah Asisten Redaktur KabarBursa.com yang memiliki spesialisasi dalam analisis saham dan dinamika pasar modal. Dengan ketelitian analitis dan pemahaman mendalam terhadap tren keuangan, ia berperan penting dalam memastikan setiap publikasi redaksi memiliki akurasi data, konteks riset, dan relevansi tinggi bagi investor serta pembaca profesional. Gaya kerjanya terukur, berstandar tinggi, dan berorientasi pada kualitas jurnalistik berbasis fakta.