Logo
>

Saham Dibeli Asing VS Dibuang Asing: Apa Saja?

Asing melepas BMRI, DEWA, dan UNTR, namun justru mengoleksi BRMS, CBDK, dan BREN, mencerminkan rotasi portofolio yang selektif di tengah IHSG yang bergerak stabil.

Ditulis oleh Yunila Wati
Saham Dibeli Asing VS Dibuang Asing: Apa Saja?
Selama sepekan ini, asing banyak melakukan aksi jual terhadap saham BMRI. Foto: Dok PT Bank Mandiri (Persero) Tbk.

KABARBURSA.COM – Arus dana asing di Bursa Efek Indonesia (BEI) menjadi salah satu sisi yang paling menarik untuk diperhatikan. Di tengah pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang stabil, asing kadang kala melakukan rotasi selektif dengan melepas sejumlah saham, sembari mengoleksi yang lainnya, yang dinilai menyimpan potensi.

Pola ini menegaskan bahwa langkah asing bukan sekadar keluar atau masuk pasar, melainkan menyusun ulang portofolio sekaligus memberikan sinyal perubahan preferensi risiko dan prospek ke depan.

Sepanjang sepekan ini, 8-12 Desember 2025, ada tiga emiten yang berstatus dibuang dan dibeli oleh asing. 

Tekanan terbesar terlihat di saham PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. Saham perbankan ini dijual asing mencapai Rp1,446 triliun, jauh melampaui nilai belinya yang hanya sekitar Rp712 miliar. Di sini ada selisih sekitar Rp734 miliar yang menandakan arus dana keluar bersih masih sangat signifikan, yaitu lebih dari setengahnya.

Asing sepertinya sedang mengurangi eksposur pada bank himbara ini. Kemungkinan besar sebagai bagian dari rebalancing portofolio, bukan karena sentimen jangka pendek semata. Jika dilihat dari pergerakan saham selama sepekan ini, saham BMRI sudah tergerus sebanyak 1,63 persen atau setara dengan 80 poin.

Tekanan serupa, meski dalam skala lebih kecil, juga terlihat pada DEWA (Darma Henwa Tbk). Nilai jual asing tercatat sekitar Rp1,042 triliun, sementara belinya berada di kisaran Rp729 miliar. Free float tersisa yang minus lebih dari Rp313 miliar menunjukkan bahwa suplai saham yang dilepas asing belum sepenuhnya terserap pasar. 

Ini selaras dengan karakter DEWA sebagai saham yang sensitif terhadap siklus komoditas dan sentimen risiko, sehingga kerap menjadi objek keluar-masuk dana asing secara taktis.

Sementara itu, UNTR (United Tractors Tbk) juga masuk dalam kategori buang, meski dengan tekanan yang relatif lebih moderat. Nilai jual asing sekitar Rp533 miliar sedikit lebih besar dibanding nilai belinya Rp516 miliar, menghasilkan free float tersisa negatif sekitar Rp16,6 miliar. 

Angka ini menunjukkan bahwa meski asing cenderung keluar, intensitasnya tidak agresif. Ini lebih menyerupai distribusi ringan atau pengurangan posisi parsial, bukan eksodus besar-besaran.

BRMS Terbanyak Diborong Asing

Berbanding terbalik dengan itu, ada tiga saham besar yang justru berada dalam status ambil. Artinya, arus dana asing masuk dengan begitu deras. 

BRMS (Bumi Resources Minerals) menonjol sebagai salah satu tujuan utama, dengan nilai beli asing sekitar Rp697 miliar dan nilai jual hanya Rp398 miliar. Free float tersisa yang positif hampir Rp299 miliar mengindikasikan bahwa permintaan asing lebih besar daripada suplai, sehingga saham ini sedang berada dalam fase akumulasi. 

Pola ini biasanya muncul ketika asing melihat adanya potensi lanjutan, baik dari sisi harga komoditas maupun prospek fundamental jangka menengah.

Hal serupa juga terlihat pada Bangun Kosambi Sukses Tbk (CBDK). Nilai beli asing mencapai sekitar Rp404 miliar, lebih tinggi dibanding nilai jual Rp231 miliar. Free float positif sekitar Rp173 miliar menunjukkan bahwa saham ini sedang dikoleksi secara bertahap. 

Akumulasi semacam ini biasanya dilakukan secara lebih senyap, tidak selalu mendorong harga melonjak tajam dalam waktu singkat, tetapi membangun basis kepemilikan yang lebih stabil.

Sementara itu, Barito Renewables Energy Tbk (BREN) juga masuk kategori ambil dengan karakter yang cukup menarik. Nilai beli asing sekitar Rp281 miliar, sementara nilai jual hanya Rp133 miliar, menghasilkan free float positif sekitar Rp148 miliar. 

Ini menandakan bahwa asing masih melihat daya tarik pada saham ini, meski mungkin dengan pendekatan yang lebih selektif dibanding BRMS atau CBDK. Arus masuk yang konsisten menunjukkan bahwa saham ini masih dipertahankan dalam radar investasi asing.(*)

Disclaimer:
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Jurnalis

Yunila Wati

Telah berkarier sebagai jurnalis sejak 2002 dan telah aktif menulis tentang politik, olahraga, hiburan, serta makro ekonomi. Berkarier lebih dari satu dekade di dunia jurnalistik dengan beragam media, mulai dari media umum hingga media yang mengkhususkan pada sektor perempuan, keluarga dan anak.

Saat ini, sudah lebih dari 1000 naskah ditulis mengenai saham, emiten, dan ekonomi makro lainnya.

Tercatat pula sebagai Wartawan Utama sejak 2022, melalui Uji Kompetensi Wartawan yang diinisiasi oleh Persatuan Wartawan Indonesia (PWI), dengan nomor 914-PWI/WU/DP/XII/2022/08/06/79