KABARBURSA.COM – Saham PT Ace Hardware Indonesia Tbk (ACES) kian tersisih dari radar pelaku pasar setelah terlempar dari indeks LQ45 dan mencatatkan kinerja harga yang konsisten melemah sepanjang satu tahun terakhir.
Pada perdagangan sesi pertama Selasa, 27 Januari 2026, ACES bahkan ditutup di level 410, turun 0,49 persen. Pelemahan ini melanjutkan tren tekanan yang sudah berlangsung lama.
Sepanjang hari, pergerakan ACES relatif terbatas di rentang 408–412, dengan nilai transaksi sekitar Rp78 miliar dan volume 191 ribu lot. Likuiditas masih terjaga, namun struktur perdagangannya menunjukkan tekanan jual yang belum sepenuhnya mereda.
Antrean bid terbesar terkonsentrasi di 408 dengan lebih dari 105 ribu lot, sementara supply berlapis muncul di 410 hingga 420. Kondisi ini menggambarkan pasar yang masih defensif, dengan pembeli cenderung menunggu di bawah dan penjual belum agresif melepas di harga pasar.
Jika ditarik ke performa harga yang lebih panjang, gambaran ACES terlihat berat. Dalam satu tahun terakhir, saham ini telah terkoreksi sekitar 45 persen, dari area 800-an menuju kisaran 400-an saat ini.
Bahkan dalam horizon enam bulan, penurunan masih mencapai lebih dari 13 persen, sementara secara tiga bulanan turun sekitar 7,6 persen. Fakta bahwa ACES kini berada dekat area terendah tahunan menegaskan bahwa saham ini belum keluar dari fase tekanan struktural.
Fundamental Tidak Sepenuhnya Rapuh
Namun, di balik kinerja harga yang lesu, kondisi fundamental ACES tidak sepenuhnya rapuh. Laporan keuangan menunjukkan bahwa hingga kuartal III 2025, ACES masih mampu mencetak laba bersih Rp187 miliar, relatif stabil dibanding kuartal sebelumnya Rp151 miliar dan Rp138 miliar di awal tahun.
Pendapatan memang cenderung stagnan dan sedikit menurun dari Rp2,35 triliun pada akhir 2024 menjadi sekitar Rp2,06 triliun di Q3 2025, namun laba usaha tetap positif di Rp252 miliar. Artinya, bisnis inti masih berjalan dan menghasilkan.
Dari sisi efisiensi, margin laba kotor ACES bertahan di kisaran Rp1 triliun, sementara beban usaha terkontrol. EBITDA kuartalan berada di sekitar Rp394 miliar, lebih baik dibanding Q2 dan Q1 2025. Rasio profitabilitas seperti ROA 2,31 persen dan ROE 2,95 persen memang tidak tinggi, tetapi mencerminkan bisnis ritel yang stabil dan defensif, bukan dalam kondisi distress.
Valuasi menjadi salah satu isu utama yang membebani persepsi pasar. Dengan PER kuartalan sekitar 39 kali, ACES masih tergolong mahal untuk saham ritel yang pertumbuhan labanya relatif datar. Price to sales ratio di kisaran 3,5 kali juga menunjukkan bahwa pasar belum sepenuhnya menyesuaikan valuasi dengan perlambatan kinerja top line.
Ini menjelaskan mengapa, meski laba tidak anjlok, meskipun tekanan harga saham tetap berlanjut.
Asing Masih Rutin Beli
Pembacaan broker summary memperkuat kesan bahwa pasar masih dalam fase distribusi ringan. Pada perdagangan 26 Januari 2026, Indo Premier (PD) dan Korea Investment and Sekuritas (BQ) tercatat sebagai pembeli bersih terbesar.
Sementara tekanan jual datang dari UOB Kay Hian (AI) dan Maybank Sekuritas (ZP). Aliran ini mencerminkan adanya rotasi kepemilikan, bukan akumulasi agresif berskala besar.
Dengan status yang sudah keluar dari LQ45, ACES kehilangan satu katalis struktural penting berupa alokasi dana indeks dan perhatian institusi besar. Tanpa pemicu baru dari sisi ekspansi, inovasi format toko, atau percepatan pertumbuhan penjualan, saham ini cenderung bergerak mengikuti ritme defensif bisnis ritel domestik.
Dalam kondisi saat ini, ACES lebih mencerminkan saham bertipe bertahan, bukan saham momentum. Likuiditas masih ada, fundamental belum runtuh, tetapi arah harga belum menunjukkan tanda pembalikan yang meyakinkan.
Pergerakan di area 400-an memperlihatkan pasar masih melakukan penilaian ulang terhadap valuasi dan prospek pertumbuhan jangka menengah, seiring berubahnya posisi ACES dari saham unggulan indeks menjadi emiten ritel yang harus kembali membuktikan daya tariknya di mata investor.(*)
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.