KABARBURSA.COM - Perdagangan saham domestik berakhir dengan nada yang lebih positif setelah Indeks Harga Saham Gabungan berhasil bangkit pada sesi sore. Pada penutupan perdagangan Rabu, 4 Februari 2026, IHSG ditutup menguat 24 poin atau 0,30 persen ke level 8.146.
Rebound ini terjadi setelah tekanan yang sempat mendominasi pada paruh awal perdagangan, sekaligus menandai masuknya kembali minat beli di pasar menjelang penutupan.
Aktivitas transaksi berlangsung sangat ramai. Total volume perdagangan mencapai 444,6 juta lot saham dengan nilai transaksi sebesar Rp24,90 triliun.
Dari jajaran saham unggulan, penguatan IHSG ditopang oleh sejumlah saham LQ45 yang bergerak solid di zona hijau. Bank Tabungan Negara (BBTN) menjadi salah satu motor penggerak, disusul Amman Mineral Internasional (AMMN), Barito Pacific (BRPT).
Vale Indonesia (INCO), United Tractors (UNTR), Trimegah Bangun Persada (NCKL), hingga Bank Mandiri (BMRI), juga masuk dalam top gainers pada saham-saham yang masuk indeks LQ45.
Sebaliknya, tekanan masih terlihat pada sejumlah saham berkapitalisasi besar yang masuk daftar top losers LQ45. Bumi Resources (BUMI), Japfa Comfeed Indonesia (JPFA), Telkom Indonesia (TLKM), Indofood CBP Sukses Makmur (ICBP), Indosat (ISAT), Surya Citra Media (SCMA), hingga AKR Corporindo (AKRA) menjadi penahan laju penguatan yang lebih besar.
Secara sektoral, kontras pergerakan pasar terlihat jelas. Sektor basic industry tampil sebagai penopang utama dengan kenaikan tertinggi sebesar 3,32 persen. Penguatan sektor ini dipimpin oleh lonjakan tajam Barito Pacific (BRPT) yang melesat 7,58 persen, diikuti Chandra Asri Pacific (TPIA) naik 4,98 persen, Pabrik Kertas Tjiwi Kimia (TKIM) menguat 0,74 persen, serta Semen Indonesia (SMGR) naik 0,39 persen.
Di sisi lain, sektor barang konsumen primer kembali menjadi titik terlemah dengan penurunan 4,02 persen. Tekanan terjadi pada saham-saham yang selama ini berperan sebagai penopang defensif. Astra International (ASII) melemah 1,94 persen, disusul Sumber Alfaria Trijaya (AMRT) turun 1,14 persen dan Gajah Tunggal (GJTL) terkoreksi 0,47 persen.
Mayoritas Bursa Asia Menguat
Sentimen global turut membingkai pergerakan pasar domestik. Di Asia, mayoritas bursa saham ditutup menguat pada hari ini, meski Wall Street sebelumnya tertekan oleh aksi jual saham teknologi.
Pasar saham Jepang bergerak tertekan akibat koreksi tajam pada saham-saham teknologi, terutama di subsektor semikonduktor dan gim. Lasertec anjlok 7 persen, Konami Group turun 5,8 persen, dan Tokyo Electron melemah 3,2 persen, menyeret Nikkei 225 turun 0,78 persen meski indeks Topix masih mampu menguat tipis 0,27 persen.
Kekhawatiran terkait disrupsi kecerdasan buatan terhadap bisnis perangkat lunak yang sebelumnya menekan saham-saham teknologi di Amerika Serikat dan Eropa juga menjalar ke Asia. Aksi jual terjadi pada perusahaan analisis data, layanan profesional, dan perangkat lunak, menyusul peluncuran plug-in Anthropic untuk agen Claude Cowork.
Meski demikian, tekanan jual di Asia relatif lebih teredam karena kawasan ini secara historis lebih dominan di sektor manufaktur perangkat keras.
Pandangan tersebut disampaikan Ben Bennett, kepala strategi investasi Asia di L&G Asset Management, yang menilai perdagangan bertema AI kini terbagi antara pemenang dan pecundang.
Menurutnya, kejatuhan saham Microsoft pekan lalu meski mencatat kinerja keuangan yang solid menjadi contoh bahwa sektor teknologi tidak lagi menjadi pemenang universal. Kerentanan pada bisnis perangkat lunak dinilai masih berlanjut, sehingga selektivitas investor menjadi kunci.
Pergerakan indeks Asia mencerminkan dinamika tersebut. Nikkei 225 Jepang turun ke 54.293, sementara Topix menguat ke 3.655. Bursa China bergerak solid dengan Shanghai Composite naik 0,85 persen ke 4.102, Shenzhen Component menguat 0,21 persen ke 14.156, dan CSI300 naik 0,83 persen ke 4.698.
Hang Seng Hong Kong menguat tipis 0,05 persen ke 26.847. Di kawasan lain, Kospi Korea Selatan melonjak 1,57 persen ke 5.371, Taiex Taiwan naik 0,29 persen ke 32.289, dan ASX200 Australia menguat 0,80 persen ke 8.927.
Yen dan Rupiah Ditutup Melemah
Di pasar valuta asing Asia, pergerakan mata uang menunjukkan kehati-hatian pelaku pasar. Yen Jepang melemah 0,46 persen ke 156,47 per dolar AS. Dolar Singapura turun tipis 0,06 persen, sementara dolar Australia justru menguat 0,20 persen.
Rupiah masih berada di zona lemah, turun 0,14 persen ke level 16.777 per dolar AS, sejalan dengan tekanan eksternal dan fluktuasi arus modal. Rupee India melemah tipis, yuan China menguat marginal, sementara ringgit Malaysia dan baht Thailand mencatatkan penguatan ringan.(*)