KABARBURSA.COM – Menjadi top losers dalam perdagangan bursa sepekan (periode 8-12 Desember 2025), membawa saham PT Harapan Duta Pertiwi Tbk, berkode emiten HOPE, seperti tidak memiliki harapan. Pelemahan Nampak begitu terstruktur dan bukan sekadar koreksi sesaat.
Berdasarkan data historisnya, HOPE berbalik arah tajam setelah sempat bertahan di level 236 pada awal pekan. Namun pada 10 Desember, tekanan jual mulai terasa dan menggerus harga ke level 202 denan nilai transaksi mencapai Rp80,55 miliar.
Tekanan tersebut berlanjut di dua sesi berikutnya. Pada 11 Desember, HOPE kembali melemah ke 172, lalu pada 12 Desember turun lebih dalam ke 147. Pada hari terakhir itu, saham terkunci penuh di level bawah, dengan harga pembukaan, tertinggi dan terendah berada di titik yang sama.
Dalam lima hari perdagangan, HOPE sudah kehilangan sekitar 37,71 persen nilainya. Pola penurunan bertahap yang diakhiri dengan “lock” di harga bawah ini memberi arti bahwa suplai jauh melampaui daya serap pasar.
Struktur transaksi memperkuat gambaran tersebut. Tekanan jual terbesar pada 12 Desember datang dari NH Korindo Sekuritas (XA) yang melepas saham senilai sekitar Rp4,8 miliar dengan volume lebih dari 326 ribu lot.
Angka ini jauh lebih besar dibandingkan pembelian dari broker mana pun pada hari yang sama. Di sisi beli, minat memang ada, tetapi terfragmentasi. Beberapa broker seperti Stockbit Sekuritas (XL) dan Lotus Andalan (YJ) muncul sebagai pembeli.
Namun, nilainya berada di kisaran ratusan juta rupiah dan tidak cukup untuk menandingi suplai besar yang dilepas satu pihak. Ketimpangan ini membuat harga sulit bergerak naik dan cenderung tertekan.
Pelemahan juga tercermin di data orderbook. Pada level 147, antrean jual terlihat menumpuk sangat tebal, dengan ratusan ribu lot menunggu di satu harga. Ketika offer setebal itu tidak diimbangi bid yang kuat dan berlapis, pasar membaca bahwa tekanan distribusi belum selesai.
Situasi inilah yang menjelaskan mengapa HOPE masuk jajaran top losers sepekan. Bukan karena satu peristiwa tunggal, melainkan karena tekanan jual yang konsisten dan terpusat.
Momentum Jenuh Jual Sudah Terlihat
Dari sisi teknikal, sinyal yang muncul bersifat campuran. Beberapa indikator momentum jangka pendek sudah masuk area jenuh jual, yang secara teori membuka peluang pantulan teknikal.
Namun di saat yang sama, indikator tren menunjukkan bahwa tekanan masih kuat dan volatilitas berada di level tinggi. Artinya, peluang pemulihan memang ada, tetapi masih rapuh dan sangat bergantung pada meredanya suplai di pasar.
Jika pekan depan terjadi perbaikan sentimen, ruang gerak HOPE kemungkinan akan terbatas pada area resistensi terdekat. Level di kisaran 151 hingga 172 menjadi zona yang paling rasional untuk diuji terlebih dahulu, mengingat area tersebut merupakan bekas level harga sebelum penurunan terakhir.
Selama antrean jual di area bawah belum menyusut dan distribusi dari pihak penjual besar belum berhenti, pasar akan cenderung melihat setiap kenaikan sebagai pantulan teknikal semata, bukan awal tren naik yang baru.
Dengan demikian, pelemahan HOPE sepekan ini lebih tepat dibaca sebagai fase distribusi yang agresif, dengan satu broker sebagai sumber suplai utama. Harapan pemulihan masih terbuka, tetapi bersyarat.
Tanpa perubahan nyata pada struktur orderbook dan keseimbangan antara bid dan offer, pergerakan harga ke depan masih akan sangat sensitif terhadap tekanan jual lanjutan.
Asing Mulai Buang Saham
Tidak hanya oleh investor lokal, saham HOPE juga banyak ditinggalkan oleh investor asing. Hal ini mempertegas alasan mengapa HOPE berada di daftar teratas top losers. R Val Buy sebesar Rp5,8 miliar dan R Val Sell Rp6,8 miliar menunjukkan bahwa nilai jual lebih besar daripada nilai beli dalam periode pengamatan.
Selisih sekitar Rp1 miliar ini bukan angka kecil untuk saham dengan likuiditas yang relatif terbatas. Artinya, secara agregat, uang yang keluar dari HOPE lebih besar daripada uang yang masuk.
Angka Free Float tersisa minus Rp1 miliar adalah kunci paling penting. Nilai negatif ini berarti saham yang dilepas ke pasar lebih banyak daripada saham yang diserap investor publik. Dengan kata lain, distribusi itu belum habis diserap pasar.
Masih ada “barang” yang ingin keluar, namun tidak seluruhnya tertampung oleh demand yang ada. Inilah alasan teknikal kenapa harga bisa jatuh bertahap lalu terkunci di bawah, meski ada pembeli yang terlihat di broker summary.
Sementara itu, Status “buang” menegaskan interpretasi tersebut. Ini bukan kondisi netral atau sekadar rotasi tangan jangka pendek, melainkan fase di mana pemegang sahamsecara aktif mengurangi eksposur.
Dalam fase buang, kenaikan harga yang muncul biasanya bersifat sementara dan mudah dipatahkan, karena setiap pantulan berpotensi dimanfaatkan untuk melepas sisa saham.
Di sini sudah jelas terlihat menjaga pantulan harga sulit terjadi. Bukan karena tidak ada pembeli, tetapi karena tekanan suplai masih lebih besar daripada kapasitas serap pasar.
Implikasinya ke depan cukup jelas. Selama R Val Sell masih konsisten lebih besar dari R Val Buy dan free float tersisa masih negatif, HOPE berada dalam fase rawan. Setiap kenaikan cenderung menjadi kesempatan distribusi lanjutan, bukan awal akumulasi.
Sinyal perbaikan baru bisa mulai dipercaya jika terjadi pembalikan struktur, yakni R Val Buy mulai melampaui R Val Sell dan free float kembali positif, yang menandakan suplai sudah terserap dan tekanan buang mereda.(*)
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.