Logo
>

Serap Capex Rp1,04 Triliun, Begini Proyeksi ASSA di 2026?

ASSA memasuki fase ekspansi struktural, dengan capex besar, armada 30.000 unit, dan proyeksi kinerja yang terus menguat hingga 2026 menurut konsensus analis.

Ditulis oleh Yunila Wati
Serap Capex Rp1,04 Triliun, Begini Proyeksi ASSA di 2026?
Gedung PT Adi Sarana Armada Tbk. Foto: Dok ASSA.

KABARBURSA.COM – PT Adi Sarana Armada Tbk, berkode saham ASSA, berhasil menyerap belanja modal (capex) yang cukup besar, mendekati dua pertiga dari total anggaran sebesar Rp1,5 triliun yang disiapkan untuk tahun ini. 

ASSA sedang berada pada fase percepatan yang jarang terlihat dalam siklus bisnis perusahaan rental kendaraan. Bahkan dapat dinarasikan bahwa Adi Sarana sedang memasuki periode pertumbuhan structural hingga 2026. 

Pasar saat ini tidak hanya mengakui ekspansi perusahaan, tetapi menilai bahwa strategi penguatan armada mulai menghasilkan momentum finansial yang lebih besar dari tahun-tahun sebelumnya.

Hingga September 2025, ASSA telah menyerap capex sebanyak Rp1,04 triliun. Angka ini mendekati dua pertiga dari total anggaran Rp1,5 triliun yang disiapkan tahun ini. Mayoritas belanja dialokasikan untuk pembelian armada baru.

Tidak hanya memanfaatkan capex, ASSA juga mendapatkan tambahan kredit Rp500 miliar dari QNB Indonesia. Dana tersebut memperbesar kapasitas belanja perusahaan, sehingga ASSA memiliki ruang fleksibilitas untuk meremajakan dan menambah unit kendaraan tanpa menekan arus kas operasional. 

Dengan total armada mencapai 30.000 unit, ASSA menegaskan posisinya sebagai salah satu pemain terbesar di industri rental kendaraan dan menjaga utilisasi menjadi faktor kunci untuk menjaga margin tetap sehat.

Pertumbuhan pendapatan kuartal III-2025 sebesar 21 persen yoy, menjadi Rp4,41 triliun menjadi bukti bahwa ekspansi armada bukan sekadar langkah bersifat defensif, tetapi memberikan dampak langsung terhadap performa bisnis. 

Permintaan pasar yang meningkat untuk layanan sewa kendaraan, baik roda dua maupun roda empat, memperlihatkan tren konsisten bahwa segmen bisnis inti ASSA masih memiliki ruang pertumbuhan meski ekonomi nasional tengah berada dalam fase kompetitif. 

Direktur Utama Prodjo Sunarjanto menjelaskan, kenaikan permintaan di sepanjang tahun ini bukan bersifat siklikal, melainkan sinyal kuat diversifikasi industri yang mulai mengandalkan jasa rental kendaraan untuk efisiensi operasional.

Pendapatan Hingga Laba Diperkirakan Naik

Yang menarik adalah bagaimana optimisme pasar tercermin pada konsensus analis untuk periode 2024–2026. Proyeksi pendapatan diperkirakan naik bertahap dari Rp4,956 triliun pada 2024 menjadi Rp5,663 triliun pada 2025, dan akhirnya menembus Rp6,224 triliun pada 2026. 

Kenaikan ini mengindikasikan bahwa analis melihat pemanfaatan armada baru akan mencapai level optimal dalam dua tahun ke depan. Laba operasional pun diperkirakan melonjak dari Rp705 miliar pada 2024 menjadi Rp1,074 triliun pada 2026. Artinya, pasar yakin bahwa ASSA mampu menjaga efisiensi meskipun depresiasi armada baru akan meningkat.

Konsensus laba bersih juga memperkuat narasi pertumbuhan tersebut. Proyeksi net income mencapai Rp508 miliar pada 2026. Angka ini lebih dari dua kali lipat perolehan 2024. Proyeksi ini masuk akal, apalagi jika melihat dari pendapatan yang naik, utilisasi yang terjaga, dan potensi diversifikasi bisnis melalui ekosistem logistik dan jasa digital. 

Dengan EPS yang diproyeksikan mencapai 87,23 pada 2026, ASSA bergerak menuju valuasi yang lebih matang. Hal ini ikut memberikan ruang bagi harga saham untuk mengapresiasi seiring realisasi kinerja.

Sentimen pasar atas ASSA saat ini berada dalam posisi netral-positif. Investor memahami bahwa perusahaan sedang membangun kapasitas jangka panjang yang tidak langsung menghasilkan lonjakan laba secara instan. 

Namun pasar juga menyadari bahwa model bisnis ASSA yang berbasis aset memiliki time lag, bahwa apa yang dibeli hari ini baru memberikan hasil penuh dalam dua hingga tiga tahun ke depan. Konsensus 2026 mencerminkan pemahaman ini, dengan analis mengasumsikan bahwa pertumbuhan pendapatan dan laba akan mencapai kecepatan maksimum mulai tahun tersebut.

Dengan capex yang besar, utilisasi tinggi, pendapatan tumbuh kuat, dan proyeksi analis yang semakin optimistis, ASSA berada dalam lintasan positif untuk memasuki fase re-rating valuasi. 

Namun semua proyeksi ini bergantung pada kemampuan perusahaan menjaga utilisasi armada di tengah persaingan dan memastikan ekspansi dilakukan tanpa menekan struktur biaya. 

Bila strategi ini dieksekusi konsisten, ASSA bukan hanya mempertahankan momentum 2025, tetapi juga berpotensi memasuki babak pertumbuhan baru pada 2026.(*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Jurnalis

Yunila Wati

Telah berkarier sebagai jurnalis sejak 2002 dan telah aktif menulis tentang politik, olahraga, hiburan, serta makro ekonomi. Berkarier lebih dari satu dekade di dunia jurnalistik dengan beragam media, mulai dari media umum hingga media yang mengkhususkan pada sektor perempuan, keluarga dan anak.

Saat ini, sudah lebih dari 1000 naskah ditulis mengenai saham, emiten, dan ekonomi makro lainnya.

Tercatat pula sebagai Wartawan Utama sejak 2022, melalui Uji Kompetensi Wartawan yang diinisiasi oleh Persatuan Wartawan Indonesia (PWI), dengan nomor 914-PWI/WU/DP/XII/2022/08/06/79