Logo
>

Sewa Helikopter, SSMS Tambah Beban Operasional

Nilai sewa helikopter yang relatif kecil dinilai tidak mengubah struktur biaya SSMS, sementara kinerja operasional dan profitabilitas perseroan tetap terjaga sepanjang 2025.

Ditulis oleh Yunila Wati
Sewa Helikopter, SSMS Tambah Beban Operasional
Lahan perkebunan sawit yang dimiliki dan dikelola oleh PT Sawit Sumbermas Sarana Tbk (SSMS) (Foto: Dok. SSMS)

KABARBURSA.COM – PT Sawit Sumbermas Sarana Tbk, berkode saham SSMS, bersama enam anak usahanya bekerja sama menyewa helikopter untuk mendung kinerja perusahaan. Adapun biaya sewanya sebesar Rp1,9 per bulan atau sekitar Rp23,3 miliar per tahun sebelum PPN.

Transaksi ini memenuhi definisi transaksi afiliasi, sebagaimana POJK 42/2020. SSMS Bersama PT Air Route Aviation (ARA) berada di bawah kendali pemegang saham yang sama, yaitu Citra Borneo Indah (CBI Group), yang menguasai sekitar 62,30 persen saham SSMS. Sementara ARA dimiliki 85 persen.

Jika dipertanyakan apakah akan menambah beban operasional, aksi ini nilai ekonominya relatif kecil, hanya setara 1 persen laba bersih tahunan SSMS. Angka tersebut mengacu pada kinerja 2025 yang mencatat laba bersih kuartalan di kisaran Rp317 miliar hingga Rp355 miliar.

Bahkan, jika dibebankan secara penuh sebagai biaya operasional, dampaknya terhadap margin usaha maupun laba bersih tergolong sangat terbatas. 

Beban Usaha Relatif Stabil

Berdasarkan data keuangan, sepanjang enam kuartal terakhir, beban usaha SSMS relative stabil, yaitu di Rp595 miliar hingga Rp634 miliar per kuartal. Pada Q3 2025, total beban usaha tercatat Rp595 miliar, justru lebih rendah dibanding Q2 2025 sebesar Rp632 miliar dan Q1 2025 sebesar Rp634 miliar.

Ini menunjukkan bahwa di tengah fluktuasi pendapatan, perusahaan masih mampu menjaga disiplin biaya operasional dan tidak membiarkan beban usaha tumbuh agresif.

Jika dibandingkan dengan kinerja topline, posisi beban operasional SSMS tergolong terkendali. Pada Q3 2025, pendapatan melonjak menjadi Rp3,82 triliun, naik dari Rp3,54 triliun pada kuartal sebelumnya. 

Kenaikan pendapatan ini membuat rasio beban usaha terhadap laba kotor tetap proporsional. Laba kotor memang turun ke Rp1,14 triliun dari Rp1,26 triliun, namun masih berada jauh di atas beban usaha, sehingga laba usaha tetap solid di level Rp543 miliar.

Dari sisi dampak ke profitabilitas, beban operasional juga tidak menggerus kemampuan perusahaan mencetak laba. Laba sebelum pajak Q3 2025 tercatat Rp404 miliar, sementara laba bersih tahun berjalan mencapai Rp317 miliar. 

Angka ini masih lebih tinggi dibandingkan Q4 2024 dan jauh di atas Q2 2024, menandakan bahwa struktur biaya operasional SSMS masih mampu ditopang oleh kinerja operasional inti.

Indikator rasio juga memperkuat kesimpulan tersebut. Return on Equity Q3 2025 berada di level 9,64 persen, relatif stabil dibanding Q3 2024 dan hanya sedikit di bawah puncaknya di Q2 2025. Return on Assets sebesar 2,77 persen menunjukkan aset perusahaan tetap produktif meski beban usaha berjalan. 

Selain itu, interest coverage ratio sebesar 4,02 kali mengindikasikan bahwa laba operasional masih cukup kuat untuk menutup beban bunga, sehingga beban operasional tidak menimbulkan tekanan tambahan pada struktur pendanaan.

Dengan demikian, beban operasional SSMS saat ini lebih mencerminkan biaya untuk menjaga skala dan kontinuitas bisnis, bukan sumber tekanan fundamental. Selama pendapatan dan EBITDA tetap berada di level tinggi seperti yang terlihat sepanjang 2025, beban operasional justru berfungsi sebagai penopang aktivitas, bukan penghambat kinerja keuangan.(*)

Disclaimer:
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Jurnalis

Yunila Wati

Telah berkarier sebagai jurnalis sejak 2002 dan telah aktif menulis tentang politik, olahraga, hiburan, serta makro ekonomi. Berkarier lebih dari satu dekade di dunia jurnalistik dengan beragam media, mulai dari media umum hingga media yang mengkhususkan pada sektor perempuan, keluarga dan anak.

Saat ini, sudah lebih dari 1000 naskah ditulis mengenai saham, emiten, dan ekonomi makro lainnya.

Tercatat pula sebagai Wartawan Utama sejak 2022, melalui Uji Kompetensi Wartawan yang diinisiasi oleh Persatuan Wartawan Indonesia (PWI), dengan nomor 914-PWI/WU/DP/XII/2022/08/06/79