Logo
>

UBS (AK) Rajin Borong Saham ini Sepekan, Apa yang Dilepas?

Sepanjang lima hari bursa, UBS aktif mengoleksi saham energi dan komoditas, sementara saham bank besar justru dilepas dalam jumlah signifikan.

Ditulis oleh Syahrianto
UBS (AK) Rajin Borong Saham ini Sepekan, Apa yang Dilepas?
UBS borong saham energi dan komoditas, lepas saham bank sepanjang sepekan. (Foto: Dok. Kabarbursa.com)

KABARBURSA.COM Aktivitas UBS Sekuritas Indonesia (AK) sepanjang sepekan perdagangan Senin, 13 April–Jumat, 17 April 2026 menunjukkan pembelian signifikan pada sejumlah saham, sementara pada sisi lain broker ini juga melepas saham tertentu. 

Di sisi pembelian, saham energi dan komoditas menjadi target utama AK. EMAS diborong senilai Rp45,1 miliar dengan 52.587 lot di harga rata-rata Rp8.558, MBMA Rp25,8 miliar dengan 343.314 lot di harga Rp750, serta PGEO Rp25,1 miliar melalui 240.900 lot di kisaran harga Rp1.042. 

Saham ENRG dan DSSA juga masuk dalam daftar akumulasi dengan nilai masing-masing Rp19,3 miliar dan Rp17,4 miliar.

Sementara itu, saham-saham bank besar justru menjadi objek distribusi. BBCA dilepas Rp323,4 miliar dengan 500.191 lot di harga Rp6.464, BBRI Rp68,3 miliar melalui 199.491 lot di harga Rp3.426, dan BMRI Rp55,5 miliar dengan 120.025 lot di kisaran Rp4.619. 

TLKM juga mengalami tekanan jual sebesar Rp19,1 miliar dengan 61.349 lot. Pola ini memperlihatkan bahwa AK tidak hanya mengakumulasi saham tertentu, tetapi juga melakukan distribusi di sektor lain.

Distribusi dan akumulasi ini tampak bersamaan dengan aktivitas broker lain. Maybank Sekuritas (ZP) membeli saham energi dan komoditas seperti MEDC Rp118,1 miliar dengan 705.901 lot di harga Rp1.671, BRMS Rp108 miliar melalui 1,2 juta lot di harga Rp865, serta BUMI Rp73,1 miliar dengan 2,9 juta lot. 

Aktivitas ini menandakan pergeseran sebagian arus dana asing dari bank ke sektor komoditas dan energi.

Di sisi domestik, Mandiri Sekuritas (CC) ikut menyerap beberapa saham perbankan. BBCA dibeli Rp514,2 miliar melalui 777.952 lot di harga Rp6.612, BMRI Rp100,9 miliar dengan 219.280 lot, dan TLKM Rp121,1 miliar melalui 386.303 lot. 

Namun, CC juga melepas BBRI Rp682,1 miliar dengan 2 juta lot, menambah dinamika aliran dana di pasar.

Ritel melalui Stockbit Sekuritas Digital (XL) turut mendukung akumulasi. BBRI diborong Rp240,4 miliar dengan 700.676 lot, BBCA Rp186,6 miliar melalui 287.990 lot, dan BMRI Rp112,6 miliar dengan 243.397 lot. 

Mirae Asset Sekuritas Indonesia (YP), broker hybrid, juga mencatatkan pola serupa. BBCA Rp128,7 miliar dibeli dengan 197.734 lot, BBRI Rp107,9 miliar dengan 314.135 lot, BMRI Rp95,4 miliar melalui 205.770 lot, dan BUMI Rp61,6 miliar dengan 2,4 juta lot. 

Di sisi penjualan, YP melepas MEDC Rp36,9 miliar (219.597 lot), ANTM Rp32,8 miliar (81.779 lot), serta ADRO Rp31 miliar (122.177 lot).

Data ini menunjukkan bahwa selama sepekan perdagangan, UBS (AK) fokus menambah posisi di saham energi dan komoditas, sementara melepas sebagian besar saham perbankan. 

Pergeseran ini terjadi di saat broker domestik dan ritel justru masuk sebagai penampung saham bank besar.

Kombinasi pembelian dan pelepasan oleh AK menandai rotasi yang jelas di pasar saham. Aktivitas broker ini mencerminkan strategi alokasi dana asing yang selektif, dengan akumulasi di sektor yang diproyeksikan memiliki momentum dan distribusi di saham dengan likuiditas tinggi.(*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Jurnalis

Syahrianto

Jurnalis ekonomi yang telah berkarier sejak 2019 dan memperoleh sertifikasi Wartawan Muda dari Dewan Pers pada 2021. Sejak 2024, mulai memfokuskan diri sebagai jurnalis pasar modal.

Saat ini, bertanggung jawab atas rubrik "Market Hari Ini" di Kabarbursa.com, menyajikan laporan terkini, analisis berbasis data, serta insight tentang pergerakan pasar saham di Indonesia.

Dengan lebih dari satu tahun secara khusus meliput dan menganalisis isu-isu pasar modal, secara konsisten menghasilkan tulisan premium (premium content) yang menawarkan perspektif kedua (second opinion) strategis bagi investor.

Sebagai seorang jurnalis yang berkomitmen pada akurasi, transparansi, dan kualitas informasi, saya terus mengedepankan standar tinggi dalam jurnalisme ekonomi dan pasar modal.