KABARBURSA.COM – Moody’s Ratings menurunkan peringkat corporate family rating (CFR) PT Indika Energy Tbk (INDY) menjadi B1 dari sebelumnya Ba3. Penurunan peringkat ini disebabkan tekanan leverage, lonjakan belanja modal, dan prospek arus kas yang dinilai belum cukup kuat untuk menopang tambahan utang dalam dua tahun ke depan.
Faktor utama yang mendorong penurunan peringkat adalah memburuknya metrik kredit seiring eskalasi belanja modal proyek tambang emas Awak Mas. Moody’s mencatat, total biaya proyek berpotensi naik menjadi sekitar USD567 juta setelah terjadi kenaikan anggaran sebesar USD100 juta hingga USD150 juta.
Kenaikan ini sebagian besar akan dibiayai melalui tambahan utang, yang diperkirakan mendorong utang disesuaikan naik menjadi sekitar USD1,4 miliar pada 2026 dari USD1,1 miliar pada 2025.
Kenaikan utang tersebut berdampak langsung terhadap rasio leverage. Moody’s memperkirakan rasio utang terhadap EBITDA akan meningkat menjadi sekitar 7,0 kali pada akhir 2026, dibandingkan sekitar 6,0 kali pada akhir 2025.
Level leverage tersebut dinilai tidak lagi konsisten dengan profil kredit pada peringkat Ba3 sebelumnya, sehingga penurunan ke B1 mencerminkan risiko keuangan yang lebih tinggi.
Proyek Awak Mas
Di sisi lain, proyek Awak Mas belum memberikan kontribusi laba yang signifikan dalam jangka pendek. Produksi komersial penuh baru diperkirakan dimulai pada 2027. Meski diasumsikan harga emas tetap tinggi dan mampu menghasilkan EBITDA sekitar USD130 juta per tahun saat produksi mencapai 100.000 ounce, kontribusi tersebut belum tersedia pada periode ketika tekanan leverage memuncak. Artinya, tambahan utang muncul lebih dahulu sebelum tambahan EBITDA terealisasi.
Sementara itu, kualitas kredit INDY saat ini masih sangat bergantung pada kinerja anak usaha batu bara, Kideco Jaya Agung. Moody’s memperkirakan harga batu bara termal rata-rata sekitar USD51 per metrik ton pada 2026.
Dengan asumsi tersebut, EBITDA konsolidasian diproyeksikan hanya stabil di kisaran USD200 juta. Dalam struktur seperti ini, kemampuan menyerap tambahan utang menjadi terbatas karena pertumbuhan laba tidak cukup kuat untuk mengimbangi kenaikan beban pembiayaan.
Moody’s juga menyoroti menyempitnya ruang kepatuhan terhadap covenant utang, khususnya batas maksimum net debt terhadap EBITDA sebesar 3,75 kali pada 2026. Dengan proyeksi leverage yang meningkat, ruang headroom terhadap batas tersebut menjadi lebih tipis.
Tanpa peningkatan laba yang signifikan atau langkah seperti divestasi aset, fleksibilitas keuangan dinilai berpotensi tertekan.
Outlook INDY Stabil
Meski peringkat diturunkan, outlook direvisi menjadi stabil dari sebelumnya negatif. Outlook stabil mencerminkan ekspektasi bahwa risiko eksekusi proyek Awak Mas akan berkurang seiring progres pembangunan dan bahwa proyek tersebut mulai memberikan tambahan laba pada 2027.
Selain itu, Moody’s menilai likuiditas INDY masih memadai untuk 12 hingga 18 bulan ke depan, didukung posisi kas, fasilitas kredit yang belum ditarik, serta proyeksi arus kas operasional.
Secara keseluruhan, penurunan peringkat INDY bukan semata-mata karena kinerja operasional saat ini, melainkan karena struktur pendanaan ekspansi yang meningkatkan risiko leverage dalam jangka menengah.
Lonjakan belanja modal yang dibiayai utang, di tengah kontribusi emas yang belum terealisasi dan harga batu bara yang lemah, menjadi kombinasi utama yang menekan profil kredit perusahaan.
Saham Bergerak Hijau
Kabar Moody’s ini sedikit banyak memberikan pengaruh pada pergerakan saham INDY. Hingga perdagangan Jumat sore, 13 Februari 2026, INDY melemah 0,56 persen ke level 3.570.
Harga dibuka di 3.610, sempat menyentuh level tertinggi 3.660, lalu berbalik turun hingga mencatatkan level terendah 3.540 sebelum stabil di kisaran 3.570 pada sesi sore.
Pergerakan intraday menunjukkan pola tekanan jual yang muncul setelah fase penguatan di pagi hari. Pada awal sesi, harga sempat bergerak naik mendekati 3.650–3.660, namun momentum tersebut tidak berlanjut.
Setelah jeda siang, tekanan kembali terlihat dengan harga turun ke bawah level pembukaan dan mendekati area support 3.550. Pola ini mengindikasikan adanya respons pasar terhadap sentimen negatif dari penurunan peringkat kredit.
Dari sisi teknikal jangka sangat pendek, area 3.540–3.550 menjadi support intraday yang berhasil menahan tekanan. Sementara itu, area 3.600–3.660 menjadi resistance terdekat yang gagal ditembus secara konsisten.
Selama harga masih bergerak di bawah 3.600, sentimen cenderung defensif. Namun, penurunan yang tidak disertai pelemahan tajam menunjukkan belum terjadi panic selling.
Dengan kapitalisasi pasar sekitar Rp18,60 triliun dan posisi harga yang masih jauh dari level tertinggi 52 minggu di 3.840, pergerakan hari ini lebih mencerminkan penyesuaian risiko dibanding aksi jual agresif.
Secara keseluruhan, pelemahan 0,56 persen pada saham INDY mencerminkan respons pasar terhadap memburuknya profil kredit akibat peningkatan utang dan leverage.
Namun reaksi harga yang terukur mengindikasikan bahwa pelaku pasar masih menunggu perkembangan lanjutan, khususnya progres proyek Awak Mas dan realisasi kinerja operasional yang dapat mengimbangi kenaikan beban utang.(*)
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.