Logo
>

Wall Street Bangkit di Tengah Perang Iran

S&P 500, Dow Jones, dan Nasdaq kembali menguat setelah harga minyak mereda di tengah kekhawatiran perang Iran dan inflasi global.

Ditulis oleh Moh. Alpin Pulungan
Wall Street Bangkit di Tengah Perang Iran
Wall Street bangkit saat perang Iran memicu volatilitas pasar. S&P 500, Dow Jones, dan Nasdaq naik setelah harga minyak mereda. Foto: Dok. Xinhua

KABARBURSA.COM — Perang di Timur Tengah belum reda, tetapi Wall Street mulai mencoba bernapas. Setelah dua hari dihantam volatilitas tajam, pasar saham Amerika Serikat akhirnya berbalik naik pada perdagangan Kamis ketika harga minyak berhenti melonjak dan sejumlah laporan ekonomi memberi sedikit kabar baik.

Dilansir dari AP, Kamis, 5 Maret 2026, indeks S&P 500 menguat 0,8 persen dan berhasil menutup hampir seluruh kerugian yang muncul sejak konflik dengan Iran pecah. Dow Jones Industrial Average naik 238 poin atau sekitar 0,5 persen, sementara Nasdaq Composite melesat 1,3 persen.

Kenaikan ini datang setelah pembukaan hari yang menegangkan. Di Asia, indeks Kospi Korea Selatan sempat anjlok 12,1 persen, menjadi penurunan harian terburuk dalam sejarah bursa negara itu. Ketidakpastian perang membuat pasar global bergerak liar sepanjang pekan ini. Arah pergerakan sebagian besar ditentukan oleh satu indikator utama, yakni harga minyak.

Ketika perdagangan bergerak dari Asia ke Eropa lalu ke Amerika, tekanan pada harga minyak mulai mereda. Minyak Brent sempat menembus USD84 per barel atau sekitar Rp1.415.400, sebelum akhirnya turun dan stabil di USD81,40 per barel atau sekitar Rp1.371.590. Harga ini kembali mendekati level sehari sebelumnya. Sementara minyak mentah acuan Amerika Serikat naik tipis 0,1 persen ke USD74,66 per barel atau sekitar Rp1.257.021.

Meredanya lonjakan minyak menjadi faktor kunci yang menenangkan pasar. Investor tahu betul bahwa perang di Timur Tengah bisa cepat merambat ke inflasi global jika harga energi melonjak terlalu tinggi.

Selain faktor minyak, pasar juga mendapat dorongan dari laporan ekonomi yang menunjukkan ketahanan ekonomi Amerika Serikat.

Salah satu laporan menyebut aktivitas bisnis di sektor jasa seperti properti, keuangan, dan layanan lainnya meningkat pada bulan lalu dengan laju tercepat sejak musim panas 2022. Laporan yang sama juga memberi sinyal yang cukup melegakan terkait inflasi. Harga layanan memang masih naik, tetapi lajunya mulai melambat, setidaknya sebelum konflik Iran meletus.

Laporan lain menunjukkan perekrutan tenaga kerja oleh perusahaan swasta di luar sektor pemerintah meningkat pada bulan lalu. Data ini dianggap sebagai sinyal awal yang cukup positif menjelang laporan resmi pasar tenaga kerja Amerika Serikat yang akan dirilis pemerintah pada Jumat.

Namun di balik optimisme tersebut, kekhawatiran tetap membayangi pasar. Investor masih mencoba menjawab tiga pertanyaan besar. Seberapa lama perang Iran akan berlangsung. Seberapa tinggi inflasi akan melonjak akibat kenaikan harga minyak. Dan seberapa dalam laba perusahaan akan tertekan.

Pasar Terbiasa dengan Konflik Timur Tengah

Sejarah menunjukkan pasar saham Amerika sering kali mampu pulih relatif cepat dari konflik militer di Timur Tengah. Namun ada satu syarat penting agar skenario ini terulang. Harga minyak tidak boleh melonjak terlalu tinggi.

Karena itu sejumlah investor profesional memilih bersabar menghadapi gejolak pasar. Namun tidak semua melihat situasi dengan optimisme.

“Saya pikir situasi Iran semakin tidak terkendali, dan saya pikir Presiden Amerika Serikat Donald Trump melakukan kesalahan perhitungan yang sangat besar,” kata Francis Lun, CEO Venturesmart Asia.

Ia menambahkan dengan nada pesimistis. “Situasinya sangat suram.”

Saham Kripto, Ritel, dan Teknologi Dorong Pasar

Di Wall Street, kenaikan indeks didorong oleh berbagai sektor. Saham perusahaan yang terhubung dengan industri kripto melonjak setelah harga bitcoin kembali naik menembus USD73.000 atau sekitar Rp1.230.050.000. Saham Coinbase Global melesat 14,6 persen, sementara Robinhood Markets naik 8,1 persen.

Perusahaan ritel dan pariwisata juga ikut menguat. Investor berharap ekonomi yang tetap kuat dan meredanya kenaikan harga bensin akan membuat konsumen tetap belanja.

Ross Stores melonjak 8 persen setelah melaporkan laba dan pendapatan kuartalan yang melampaui ekspektasi analis. Perusahaan ini bahkan menyatakan memasuki tahun 2026 dengan “solid momentum”. Saham Expedia Group juga naik 3,1 persen.

Namun kekuatan terbesar pasar tetap datang dari raksasa teknologi. Amazon melonjak 3,9 persen dan Nvidia naik 1,7 persen. Karena kapitalisasi pasar mereka sangat besar, pergerakan kedua saham ini memiliki pengaruh besar terhadap arah indeks S&P 500.

Pada penutupan perdagangan, S&P 500 naik 52,87 poin ke level 6.869,50. Dow Jones naik 238,14 poin menjadi 48.739,41. Nasdaq melompat 290,79 poin ke posisi 22.807,48.

Disclaimer:
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Jurnalis

Moh. Alpin Pulungan

Asisten Redaktur KabarBursa.com. Jurnalis yang telah berkecimpung di dunia media sejak 2020. Pengalamannya mencakup peliputan isu-isu politik di DPR RI, dinamika hukum dan kriminal di Polda Metro Jaya, hingga kebijakan ekonomi di berbagai instansi pemerintah. Pernah bekerja di sejumlah media nasional dan turut terlibat dalam liputan khusus Ada TNI di Program Makan Bergizi Gratis Prabowo Subianto di Desk Ekonomi Majalah Tempo.

Lulusan Sarjana Hukum Universitas Pamulang. Memiliki minat mendalam pada isu Energi Baru Terbarukan dan aktif dalam diskusi komunitas saham Mikirduit. Selain itu, ia juga merupakan alumni Jurnalisme Sastrawi Yayasan Pantau (2022).