KABARBURSA.COM - PT WIjaya Karya Beton Tbk (WIKA Beton) memiliki produk yang bisa menjadi alternatif hunian perkotaan. Produk yang dinamai Wika Beton Home (WHOME) yang diluncurkan pada 2025 ini merupakan upaya perusahaan menghadirkan hunian pracetak yang didesain kokoh dan ramah lingkungan.
WHOME diluncurkan untuk mendukung Program 3 Juta Rumah dari pemerintah. Sebab berdasarkan data yang dihimpun WIKA Beton, terdapat sekitar 29,2 juta penduduk Indonesia yang mengalami krisis perumahan atau belum memiliki hunian yang layak.
"WHOME adalah sebuah inovasi rumah modular berbasis beton pracetak. Kehadiran WHOME merupakan bentuk komitmen nyata perusahaan dalam mendukung Program Strategis Nasional untuk membangun 3 juta rumah bagi masyarakat Indonesia," ujar Yushadi Abdulhay, Sekretaris Perusahaan PT Wijaya Karya Beton Tbk saat dihubungi KabarBursa.com, Kamis, 16 April 2026.
KabarBursa.com sempat mengunjungi rumah contoh WHOME yang berada di Pabrik Precast WIKA Beton di Bogor, Jawa Barat pada Rabu 16 April 2026.
Di lokasi tersebut, berdiri satu unit WHOME tipe 36 atau memiliki luas 36 meter. Secara tampilan, WHOME mengusung desain minimalis modern yang mengikuti tren hunian saat ini. Isi bangunannya terdiri dari ruang tamu, dua kamar mandi, dapur, dan satu kamar mandi.
WHOME juga diklaim memiliki konstruksi berbeda dengan rumah konvensional yang memakan waktu lama dalam pembangunannya.
"WHOME menawarkan efisiensi tinggi melalui sistem off-site construction. Komponen struktural yang terdiri dari fondasi, kolom, balok, dan sloof yang diproduksi dengan standar kualitas di Pabrik Produk Beton (PPB) WIKA Beton, sementara di lokasi hanya dilakukan proses perangkaian," jelas Yushadi.
Keunggulan WHOME
WHOME juga dipastikan merupakan hunian tetap. Prototipenya dibuat dengan waktu seminggu untuk proses precast-nya. Secara total, pembangunannya diestimasikan butuh waktu 15 hari.
"Jika dihitung beserta pemasangan totalnya memakan waktu 15 hari. Untuk struktur dua hari, arsitektur sampai finishing 13 hari. Semuanya dikerjakan oleh enam orang, satu mandor dan lima pekerja," kata Yushadi.
Kecepatan waktu pembangunan juga dinilai sebagai salah satu nilai lebih dari WHOME.
"Keunggulannya, precast ini beda dengan cor proyek. Pasti mutu kita jamin. Material kita juga cek kualitasnya, proses sampai produksi sampai pengiriman kita sudah cek semua, produksinya cepat. Kalau cara konvensional, membuat rumah tipe 36 biasanya sulit bahkan tidak bisa selama 15 hari," kata Tim Konstruksi WHOME.

Lebih lanjut, WHOME juga dirancang tahan gempa dengan Kategori Desain Seismik (KDS) D di wilayah yang memiliki nilai SDS (Parameter Percepatan Respons Spektral Desain pada Periode Pendek) kurang dari 0,710g.
Menurut catatan perusahaan berkode saham WTON ini, SDS tersebut terdapat di 21 wilayah Indonesia seperti Merauke, Palangka Raya, Tanjungpinang, Banjarbaru, Samarinda, Pangkalpinang, Pontianak, Makassar, Palembang, Tanjung Selor, dan kota-kota besar lainnya.
Hasil rancangan tahan gempa tersebut didasarkan kepada pengembangan yang melibatkan uji siklik struktur yang dilakukan di Laboratorium Balai Besar Struktur Bangunan dan Geoteknik (BBSBG) Kementerian Pekerjaan Umum di Bandung.
Rumah ini juga sudah memenuhi Standard Nasional Indonesia (SNI) untuk ketahanan gempa, beban premium, persyaratan beton struktural, hingga perancangan beton pracetak.
Selain itu, WHOME memiliki aspek ramah lingkungan yang dinilai sejalan dengan prinsip ESG (Environmental, Social, and Governance).
"WHOME adalah Green Home. WIKA Beton berhasil mereduksi penggunaan semen, salah satu penyumbang emisi karbon terbesar dengan material ramah lingkungan seperti slag dan fly ash tanpa mengurangi kekuatan beton," pungkas Yushadi.
Sementara ini, WHOME telah berdiri di Aceh Tamiang untuk mendukung pemulihan kawasan terdampak bencana. Adapun biaya pembangunan satu unit WHOME tipe 36 dengan pengerjaan 15 hari kerja, ditawarkan sekitar Rp120 juta. Banderol tersebut di luar harga tanah.(*)