Logo
>

Yen Menguat Usai Sinyal Hati-Hati BOJ, Pasar Valas Masih Minim Arah

Yen terapresiasi 0,12 persen terhadap dolar AS ke level 156,15 per dolar, setelah sebelumnya menyentuh titik terendah dua pekan di 156,82

Ditulis oleh Pramirvan Datu
Yen Menguat Usai Sinyal Hati-Hati BOJ, Pasar Valas Masih Minim Arah
Ilustrasi Mata Uang Dolar Amerika. Foto: Dok KabarBursa.com

KABARBURSA.COM - Mata uang Jepang mencatat penguatan pada perdagangan Kamis. Nada kebijakan yang lebih terukur dari Gubernur Bank of Japan (BOJ), Kazuo Ueda, menjadi katalis. Ia mengisyaratkan bahwa setiap langkah kenaikan suku bunga selanjutnya akan sepenuhnya bertumpu pada data ekonomi yang masuk. Tidak tergesa. Tidak pula apriori.

Yen terapresiasi 0,12 persen terhadap dolar AS ke level 156,15 per dolar, setelah sebelumnya menyentuh titik terendah dua pekan di 156,82. Laporan tersebut disampaikan oleh Reuters dari New York, Jumat 27 Februari pagi WIB.

Ueda menegaskan bank sentral akan melanjutkan normalisasi suku bunga apabila pertumbuhan dan inflasi bergerak selaras dengan proyeksi. Namun orkestrasi kebijakan moneter Jepang tidak sepenuhnya linear. Ada kehati-hatian politik di balik layar.

Laporan sebelumnya menyebutkan Perdana Menteri Jepang, Sanae Takaichi, menyampaikan keraguan atas tambahan kenaikan suku bunga dalam pertemuannya dengan Ueda pekan lalu. Sinyal ini menambah nuansa ambivalen dalam lanskap kebijakan.

Secara keseluruhan, pasar valuta asing bergerak dalam rentang sempit. Investor menunggu katalis baru di tengah ketidakpastian global yang belum surut. Arah besar belum terbentuk.

Indeks Dolar AS (DXY), yang mengukur kinerja greenback terhadap enam mata uang utama termasuk yen dan euro, naik 0,18 persen ke posisi 97,79. Sementara euro terkoreksi 0,11 persen menjadi USD1,1796.

Chief Market Strategist Corpay, Karl Schamotta, menilai sentimen risiko global masih relatif suportif, tetapi keyakinan investor belum solid. Tren yang definitif sulit tercipta karena rendahnya conviction di pasar, ujarnya. Pasar bergerak, namun tanpa determinasi kuat.

Fokus juga tertuju pada kebijakan dagang Amerika Serikat. Perwakilan Dagang AS, Jamieson Greer, menyatakan tarif impor bagi sejumlah negara akan dinaikkan menjadi 15 persen atau lebih dari sebelumnya 10 persen, meski tanpa merinci negara terdampak. Pernyataan itu menambah lapisan ketidakpastian.

Di sisi lain, Federal Reserve diperkirakan mempertahankan suku bunga setidaknya hingga pertemuan Juni, seraya menyeimbangkan tekanan inflasi dan dinamika pasar tenaga kerja. Ekspektasi ini membuat arah dolar belum sepenuhnya konklusif.

Data terbaru menunjukkan klaim pengangguran di AS meningkat tipis pekan lalu, sementara tingkat pengangguran Februari relatif stabil. Gambaran tersebut merefleksikan pasar tenaga kerja yang masih resilien—cukup kuat, meski tak lagi seagresif sebelumnya.

Analis TD Securities melihat peluang pelemahan dolar dalam beberapa kuartal mendatang. Penurunan daya tariknya sebagai aset safe-haven serta dinamika perdagangan global menjadi faktor pendorong. Ketahanan ekonomi AS dinilai berpotensi melandai, yang dalam konteks pertumbuhan global solid dan suku bunga lebih rendah dapat menjadi sentimen negatif bagi greenback.

Dari Eropa, Presiden Bank Sentral Eropa (ECB), Christine Lagarde, menyatakan inflasi diproyeksikan kembali ke target 2 persen dalam waktu dekat. Data juga menunjukkan ECB telah mengurangi porsi dolar dalam cadangan devisa sejak awal tahun lalu—sebuah reposisi strategis yang tak luput dari perhatian pasar.

Poundsterling terkoreksi 0,52 persen menjadi USD1,3486, terbebani risiko politik domestik, termasuk pemilihan sela di Manchester yang dipandang sebagai ujian bagi Perdana Menteri Inggris Keir Starmer dan Partai Buruh.

Di Asia, yuan China melonjak 0,22 persn ke 6,842 per dolar dalam perdagangan offshore, menyentuh level terkuat hampir tiga tahun terakhir. Apresiasi ini terjadi meski otoritas moneter memberi sinyal ingin menahan penguatan berlebihan.

Investor juga memonitor perkembangan relasi antara Amerika Serikat dan Iran. Kedua negara dilaporkan mencatat kemajuan berarti dalam perundingan terkait program nuklir, upaya yang dimaksudkan untuk menghindari konflik baru di tengah peningkatan kehadiran militer AS di Timur Tengah.

Meski demikian, ketidakpastian geopolitik tetap menjadi bayang-bayang laten. Ia membingkai pergerakan pasar global—termasuk pasar valuta asing—dengan nuansa waspada yang belum sirna.(*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Jurnalis

Pramirvan Datu

Pram panggilan akrabnya, jurnalis sudah terverifikasi dewan pers. Mengawali karirnya sejak tahun 2012 silam. Berkecimpung pewarta keuangan, perbankan, ekonomi makro dan mikro serta pasar modal.