KABARBURSA.COM – Gelombang konsolidasi internal yang dilakukan produsen otomotif besar Tiongkok sepanjang 2025 menjadi sinyal kuat berakhirnya fase “easy money” di industri otomotif.
Setelah bertahun-tahun ekspansi agresif dan proliferasi merek, para OEM beralih ke strategi integrasi untuk merespons tekanan persaingan harga, lonjakan biaya pengembangan teknologi, serta melambatnya pertumbuhan permintaan tambahan.
Perubahan strategi ini tercermin dari langkah sejumlah pemain utama yang merestrukturisasi merek dan unit bisnis mereka. Geely Automobile Holdings menjadi salah satu contoh paling menonjol setelah menyelesaikan privatisasi dan penggabungan Zeekr Intelligent Technology.
Melansir dari CarNewsChina, pada 22 Desember 2025, Geely mengumumkan bahwa Zeekr resmi diintegrasikan sebagai anak usaha yang sepenuhnya dimiliki dan dihapus dari Bursa Saham New York, dengan tujuan memperkuat sinergi strategis di pengembangan produk, manufaktur, dan saluran penjualan.
Langkah tersebut menandai pergeseran tajam dari fase sebelumnya, ketika banyak produsen Tiongkok membangun banyak merek untuk menjangkau segmen pasar yang semakin terfragmentasi.
Melalui integrasi ini, merek-merek penumpang utama di bawah Geely, termasuk Geely, Lynk & Co, dan Zeekr, kembali berada dalam kendali manajemen terpusat yang lebih ketat, sekaligus mengakhiri periode ekspansi multi-merek yang agresif.
Manajemen Geely sebelumnya menyebut strategi integrasi “One Geely” sebagai upaya untuk menghilangkan biaya berlebih, meningkatkan produktivitas riset dan pengembangan, serta mempertajam fokus kompetitif.
Koordinasi internal yang lebih erat diharapkan dapat menekan biaya pengembangan teknologi, pemasaran, administrasi, dan pengadaan di tengah lingkungan industri yang semakin menantang.
Pola serupa juga terlihat pada Guangzhou Automobile Group (GAC), yang pada akhir 2025 mengumumkan penataan ulang merek kendaraan energi baru Aion dan Haobo ke dalam unit bisnis yang terkonsolidasi.
Integrasi saluran penjualan dan distribusi direncanakan berlangsung bertahap hingga awal 2026 sebagai bagian dari upaya perampingan operasi dan penyatuan strategi lintas merek.
SAIC Motor, produsen mobil terbesar di Tiongkok berdasarkan volume penjualan, turut melakukan konsolidasi struktural dengan menggabungkan sejumlah unit bisnis internal dan mengoptimalkan operasi lintas merek di segmen kendaraan penumpang, kendaraan listrik, dan kendaraan komersial.
Perusahaan menekankan pentingnya berbagi sumber daya, koordinasi teknologi, dan manajemen R&D terpusat untuk menjaga daya saing di tengah tekanan pasar.
Para pengamat industri mencatat bahwa integrasi internal ini mencerminkan perubahan fase industri otomotif Tiongkok. Seiring berakhirnya era pertumbuhan permintaan yang sangat cepat, produsen semakin memprioritaskan efisiensi operasional dan skala ekonomi dibandingkan ekspansi merek yang agresif.
Persaingan harga yang ketat dan tekanan margin mendorong perusahaan untuk mengalihkan fokus dari pertumbuhan volume semata ke keberlanjutan profitabilitas.
Data pasar pada akhir 2025 juga menunjukkan lanskap yang semakin terkonsentrasi, dengan pemain besar seperti BYD mempertahankan pangsa pasar dominan di segmen kendaraan energi baru, sementara merek lain berjuang mempertahankan volume di tengah persaingan yang kian intens. Kondisi ini memperkuat logika konsolidasi sebagai bagian dari rasionalisasi pasar jangka panjang.
Secara keseluruhan, konsolidasi OEM Tiongkok pada 2025 menandai transisi industri menuju fase yang lebih matang. Integrasi internal bukan lagi sekadar pilihan strategis, melainkan respons terhadap realitas baru industri otomotif yang menuntut efisiensi, ketahanan biaya, dan fokus teknologi di tengah berakhirnya periode pertumbuhan yang mudah.(*)