KABARBURSA.COM – Pasar otomotif di Indonesia bakal bersiap menghadapi banjir mobil China pada 2026. Ancaman ini terjadi ketika produsen mobil China mematok target penjualan yang ambisius pada 2026.
Target itu dibuat di tengah berbagai tantangan seperti perang harga, lahirnya beragam produk baru dan pasar domestik yang kurang bergairah.
Ketika pasar domestik kurang menjanjikan, maka solusi terbaik untuk menghindari kerugian adalah dengan menjadikan pasar ekspor sebagai penopang penjualan.
Kondisi tersebut menempatkan pasar luar negeri, termasuk Indonesia, sebagai salah satu kawasan yang diperhitungkan dalam peta ekspansi industri otomotif China.
Pengamat otomotif Yannes Martinus Pasaribu menilai, kondisi pasar otomotif di Tanah Air tetap menjanjikan meski kondisi ekonominya sedang tidak baik-baik saja. Penurunan kelas menengah dianggap sebagai tantangan penjualan mobil di Indonesia.
“Kelas menengah kita menyusut dari 23 persen populasi (2018) menjadi 17 persen (2023) dan Sebanyak 49 persen di antaranya memangkas belanja non-esensial, termasuk mobil sebagai barang konsumsi mewah,” kata Yannes kepada KabarBursa.com beberapa waktu lalu.
Di Indonesia, pasar otomotif sepanjang 2025 mencatat pelemahan dibanding tahun-tahun sebelumnya. Data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) menunjukkan penjualan wholesales mobil nasional sepanjang Januari–Desember 2025 mencapai 803.687 unit.
Struktur pasar masih didominasi kendaraan penumpang berpenggerak 4x2 dengan kontribusi lebih dari separuh total penjualan, diikuti segmen LCEV, pikap, dan truk.
Meski pasar secara umum melambat, kendaraan listrik justru mencatat pertumbuhan signifikan. Gaikindo mencatat penjualan wholesales mobil listrik berbasis baterai (BEV) sepanjang Januari–November 2025 mencapai 82.525 unit.
Sementara kontribusi merek asal China menonjol di segmen ini, dengan BYD mencatat penjualan lebih dari 40 ribu unit, disusul Wuling di atas 10 ribu unit. Beberapa merek China lain, seperti Chery dan Denza, juga mencatat penjualan ribuan unit pada periode yang sama.
Masuknya kendaraan listrik China ke pasar domestik masih didominasi produk impor. Sepanjang Januari–November 2025, total impor kendaraan ke Indonesia tercatat 151.495 unit.
BYD menjadi merek dengan volume impor terbesar, diikuti Toyota dan VinFast. Data tersebut menunjukkan peran impor, khususnya dari produsen China, masih signifikan dalam memenuhi pasokan kendaraan listrik di dalam negeri.
Indonesia jadi Sasaran China
Dari sisi perdagangan, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat China merupakan salah satu negara asal utama impor kendaraan bermotor Indonesia dalam beberapa tahun terakhir, baik dari sisi nilai maupun volume.
Ketergantungan terhadap pasokan dari China tidak hanya terlihat pada kendaraan utuh, tetapi juga pada komponen otomotif dan komponen kendaraan listrik.
Sementara itu, investasi China di sektor otomotif dan kendaraan listrik Indonesia terus bertambah. Data realisasi investasi yang dirilis Kementerian Investasi/BKPM menunjukkan sektor industri kendaraan bermotor dan alat transportasi menjadi salah satu penerima penanaman modal asing dalam beberapa tahun terakhir.
Sejumlah proyek manufaktur kendaraan listrik dan komponen baterai telah direalisasikan maupun memasuki tahap konstruksi, terutama di kawasan industri Jawa dan Sulawesi.
Masuknya investasi tersebut sejalan dengan kebijakan pemerintah Indonesia yang mendorong pengembangan kendaraan listrik. Pemerintah memberikan berbagai insentif fiskal, termasuk keringanan pajak dan fasilitas impor, dengan syarat tingkat komponen dalam negeri (TKDN). Regulasi ini mendorong produsen asing, termasuk dari China, untuk mempertimbangkan perakitan lokal dibandingkan impor penuh.
Di sisi hulu, posisi Indonesia dalam rantai pasok global kendaraan listrik turut menjadi daya tarik. Indonesia memiliki cadangan dan produksi nikel terbesar di dunia, yang menjadi bahan baku utama baterai kendaraan listrik.
Kebijakan hilirisasi mineral mendorong pembangunan smelter dan fasilitas pengolahan lanjutan yang terhubung langsung dengan industri baterai dan kendaraan listrik.
Dengan kombinasi pasar domestik yang masih besar, pertumbuhan penjualan kendaraan listrik, peran impor dari China, serta arus investasi manufaktur dan baterai, Indonesia menjadi bagian penting dalam hubungan ekonomi otomotif China–Indonesia.
Data perdagangan, penjualan, dan investasi menunjukkan keterkaitan yang semakin erat, seiring produsen mobil China mencari pasar dan basis produksi di luar negeri di tengah keterbatasan pertumbuhan pasar domestik mereka.(*)