Logo
>

Baterai Mobil Na-ion Segera Produksi Massal, Ancaman Baru untuk Nikel?

CATL akan produksi massal baterai Na-ion pada 2026, lebih murah & ramah lingkungan. Dampaknya ke industri nikel Indonesia? Pengamat: Masih aman.

Ditulis oleh Harun Rasyid
Baterai Mobil Na-ion Segera Produksi Massal, Ancaman Baru untuk Nikel?
Ilustrasi peluncuran jenis baterai baru. Foto: dok KabarBursa.com

Poin Penting :

    KABARBURSA.COM - Industri mobil listrik dunia mulai berkembang ke arah yang lebih ekonomis. Pabrik baterai asal China Contemporary Amperex Technology Co., Ltd. (CATL), memutuskan langkah agresif dengan menggunakan baterai jenis ion natrium bermerek Naxtra untuk berbagai sektor termasuk kendaraan listrik.

    Rencananya, baterai Ion Natrium akan diproduksi massal pada 2026 dengan proyeksi diserap pasar otomotif China terlebih dahulu sebelum dipasarkan ke global, termasuk Indonesia.

    Baterai mobil listrik berjenis Ion Natrium dari Naxtra diklaim memiliki banyak keunggulan dibanding jenis yang sudah ada seperti Lithium hingga Nickel Manganese Cobalt (NMC). 

    Kelebihan baterai Ion Natrium antara lain mampu mendukung jarak tempuh lebih dari 500 kilometer, optimal beroperasi di suhu -40-70 derajat Celsius, hingga telah lulus standar keselamatan terbaru di China. 

    Menariknya, baterai mobil listrik jenis baru juga lebih terjangkau karena tidak memakai kandungan nikel dan lithium yang terbilang sebagai material mahal dan langka yang didapat dari hasil tambang.

    Sebab Ion Natrium (Na-ion) mengusung bahan yang lebih murah yakni natrium, besi, hingga mangan. Lalu, jika tidak lagi menggunakan nikel, apakah kehadiran baterai Na-ion bakal mengancam industri nikel yang ada di Indonesia?

    Pengamat ekonomi, mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi menyatakan, hadirnya baterai baru jenis Na-ion merupakan hasil perkembangan industri yang wajar. Mengingat China merupakan negara produsen sekaligus pasar terbesar kendaraan listrik di dunia.

    "Ini sedang difokuskan di China, tapi Indonesia akan kecipratan. Manfaatnya banyak misalnya untuk transportasi umum dengan jangkauan 500 kilometer lebih. Harus diingat, Tiongkok itu 80 persen masyarakatnya memang menggunakan kendaraan listrik, semua transportasinya juga menggunakan listrik," ujarnya saat dihubungi KabarBursa.com belum lama ini.

    Ibrahim lalu menyebut, baterai Na-ion akan membawa dampak ekonomi terhadap Indonesia. Terutama dari sisi produk mobil listrik yang jadi lebih terjangkau.

    "Indonesia akan kecipratan, jadi nanti harga baterainya akan relatif lebih murah karena akan diproduksi secara massal. Begitu juga transportasi umum yang menggunakan mobil listrik ini akan dibangun secara massal. Sehingga akan berdampak terhadap produksi baterai mobil listrik," ungkapnya.

    Terkait nikel, Ibrahim menilai bahwa dibuatnya baterai Na-ion tidak akan mengganggu industri nikel dalam negeri karena sejumlah faktor.

    "Kita lihat bahwa salah satu perusahaan nikel Tiongkok terbesar itu di Indonesia bagian timur. Sementara nikel adalah salah satu bahan dasar untuk baterai listrik. Kalau seandainya tahun 2026 akan melakukan pembuatan baterai listrik (ion natrium) secara besar-besaran sangat wajar," jelasnya.

    "Imbasnya ke Indonesia tidak besar karena mereka (China) akan fokus pertama itu untuk pasar domestik Tiongkok dulu. Tiongkok itu sudah salah satu negara yang visioner yaitu menjadi negara yang mewajibkan masyarakatnya untuk menggunakan mobil listrik. Sehingga akan berdampak terhadap produksi baterai listrik," sambung Ibrahim.

    Karena daya serap dan penggunaan mobil listrik di Indonesia belum sebesar China, Ibrahim menyatakan jika nikel masih strategis sebagai komoditas Indonesia meskipun baterai EV (Electric Vehicle) terus beralih. 

    "Pasti masih (nikel masih menjadi tulang punggung untuk baterai EV). Jadi gini, kalau orang bilang nanti kan ada baterai yang lebih canggih lagi dibandingkan dengan baterai berbasis nikel, saya melihat bahwa nikel yang memang sekarang ada dari Indonesia timur itu sudah cukup luar biasa. Mungkin akan ada tempelan-tempelan (bahan baku nikel), misalnya kayak lithium untuk digabung dengan nikel. Artinya ini kan tinggal polesan saja," jelas Ibrahim.

    Ia menambahkan, China yang telah berinvestasi untuk smelter nikel di Indonesia dianggap sudah tahu arah bisnis dari komoditas tersebut. Sehingga kehadiran baterai Na-ion dianggap tidak akan melumpuhkan bisnis nikel Indonesia dengan China. 

    "Tiongkok pasti lebih tahu. Karena perusahaannya di Indonesia bidang nikel itu terbesar. Saya satu bulan yang lalu, saya baru bertemu dengan pengusaha untuk smelter nikel. Dia orang Tiongkok, mereka berbicara bahwa ke depan untuk smelter ini ya kemungkinan besar akan masih berfokus terhadap produk-produk dari Tiongkok. Karena mereka kirim (nikel) ke Tiongkok," papar Ibrahim.

    "Nikel yang dikirim ke Tiongkok baru sisanya itu dimasukkan ke Indonesia. Ini karena Tiongkok itu sudah tahu pasarnya dan pangsa pasar terbesar mobil listrik itu di Tiongkok," tutupnya menambahkan.

    Sebagai informasi, investasi Tiongkok menurut penelitian Transparency International Indonesia (TII), menguasai 75 persen kapasitas peleburan nikel di Tanah Air. Salah satunya di Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP) dan Indonesia Weda Bay Industrial Park (IWIP).

    Di sisi lain, Indonesia jadi negara penyumbang lebih dari 50 persen pasokan dan cadangan nikel global. TII juga mencatat, 98 persen nikel Indonesia mengalir ke China.

    Nilai ekonominya terus berkembang, tahun 2024 mencapai USD38,0 miliar. Sedangkan pada 2020 sebesar USD11,9 miliar.(*)

    Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

    Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

    Gabung Sekarang

    Jurnalis

    Harun Rasyid

    Harun Rasyid adalah jurnalis KabarBursa.com yang fokus pada liputan pasar modal, sektor komersial, dan industri otomotif. Berbekal pengalaman peliputan ekonomi dan bisnis, ia mengolah data dan regulasi menjadi laporan faktual yang mendukung pengambilan keputusan pelaku pasar dan investor. Gaya penulisan lugas, berbasis riset, dan memenuhi standar etika jurnalistik.