KABARBURSA.COM - Masuknya baterai ion natrium berpotensi mengubah struktur biaya kendaraan listrik secara fundamental. Selama ini, baterai menjadi komponen biaya termahal untuk kendaraan listrik. Perubahan ini membuka ruang bagi kendaraan listrik berbiaya rendah untuk masuk ke segmen penggunaan harian.
Pengamat otomotif Yannes Martinus Pasaribu menilai baterai ion natrium realistis diaplikasikan kepada kendaraan listrik berbiaya rendah atau Low Cost Electric Vehicle (LCEV), baik roda dua maupun roda banyak, yang beroperasi di dalam kota dengan jarak tempuh terbatas.
“Baterai ion natrium (Na-ion) ini tampaknya akan mendominasi Low Cost Electric Vehicle (LCEV) roda 2 sd roda banyak (lbh dari 4) yang digunakan untuk aktivitas harian di dalam kota atau radius 100–200 km, karena murah harganya,” ujar Yannes kepada KabarBursa.com, Jumat, 2 Januari 2026.
Pengamat otomotif asal Institut Teknologi Bandung (ITB) ini menyebut segmen yang paling relevan mencakup kendaraan komersial ringan, armada logistik, hingga transportasi massal dalam kota yang menekankan efisiensi biaya.
Menurut Yannes, kehadiran baterai natrium membuka peluang penurunan harga baterai secara signifikan dibandingkan teknologi baterai yang saat ini dominan digunakan pada kendaraan listrik.
“Dengan adanya Na-ion, harga baterai yang awalnya jadi komponen termahal EV (bisa 30–40 persen harga kendaraan) bakal jadi semakin murah, ada peluang turun hingga sekitar 60 persen dari harga baterai LFP (Lithium Ferro Phosphate) saat ini,” katanya.
Penurunan biaya tersebut dinilai akan memperluas adopsi kendaraan listrik ke segmen yang selama ini sensitif terhadap harga, sekaligus mengubah komposisi biaya kendaraan listrik secara keseluruhan.(*)