KABARBURSA.COM - Perkembangan adopsi dan penjualan mobil listrik bukan cuma terjadi di China. Salah satu negara tetangga Indonesia yakni Australia telah mencetak sejarah. Secara perdana, penjualan mobil listrik dan hybrid di Australia sudah melampaui jumlah pasar mobil bermesin konvensional.
Mengutip Carscoops, data penjualan kendaraan terbaru di Negeri Kangguru mengindikasikan perubahan struktural di pasar otomotif roda empat.
Data tersebut menunjukkan penjualan kendaraan listrik dan elektrifikasi lain seperti hybrid, untuk pertama kalinya melampaui mobil bensin dalam satu bulan.
Momentum ini muncul pada Desember, ketika total penjualan kendaraan elektrifikasi yang mencakup hybrid, plug-in hybrid electric vehicle (PHEV), dan battery electric vehicle (BEV) mencapai 35.058 unit secara nasional.
Angka tersebut sedikit lebih tinggi dibandingkan 34.559 unit mobil bensin yang terjual pada bulan yang sama.
Pencapaian tersebut dinilai menjadi sinyal awal titik balik pasar, sekaligus membuka peluang bahwa 2026 berpotensi menjadi tahun pertama bagi mobil listrik dapat melampaui penjualan mobil bensin secara tahunan di Australia.
Secara kumulatif sepanjang tahun, penjualan kendaraan elektrifikasi (EV-Hybrid) di Australia mencapai 355.887 unit, dengan pangsa pasar 28,6 persen.
Dari jumlah tersebut, BEV memegang penjualan 103.270 unit, atau setara 8,3 persen pangsa pasar. Menilik penyebabnya, adopsi BEV di Australia tidak terlepas dari semakin agresifnya produsen otomotif China di pasar global termasuk Australia sendiri.
Merek-merek mobil China yang lekat dengan produk elektrifikasi seperti BYD, Geely, MG, Xpeng, dan Zeekr terus menyerbu pasar Australia. Dalam strateginya, merek mobil China terus memperluas portofolio produk, menawarkan harga produk yang kompetitif dengan teknologi mutakhir, dan pilihan model yang semakin beragam.
Tren mobil China ini diproyeksikan berlanjut pada 2026, seiring masuknya gelombang mobil listrik berukuran kecil dan terjangkau ke pasar Australia. Sejumlah model anyar seperti Nio Firefly, Geely EX2, dan BYD Atto 1 disebut akan segera meluncur menurut laporan Drive Australia.
Meski begitu, mobil bermesin bensin masih menjadi kontributor terbesar secara tahunan. Sepanjang 2025, penjualan mobil bensin mencapai 475.279 unit, atau punya pangsa pasar sebesar 38,3 persen dari total pasar mobil Australia.
Sementara permintaan mobil bermesin diesel juga masih kuat dengan pangsa 29,4 persen, atau relatif stabil dalam lima tahun terakhir. Lebih lanjut, perubahan lanskap pasar mobil Australia ini menjadi semakin kontras jika dibandingkan satu dekade lalu.
Pada 2015, mobil bensin mendominasi pasar otomotif Australia dengan pangsa mencapai 67 persen. Jika dibanding tahun 2025, sudah terjadi pergeseran besar dalam preferensi konsumen selama.
Sementara untuk pasar mobil hybrid konvensional, menunjukkan performa cukup baik dengan penjualan 199.133 unit pada 2025, atau memegang pangsa 16 persen di pasar Australia.
Untuk PHEV, meski masih berkontribusi lebih kecil, mencatat pertumbuhan signifikan dengan penjualan 53.484 unit atau 4,3 persen pangsa pasar.
Melihat tren EV dan Hybrid tersebut, menunjukkan keberhasilan merek China dalam memperkuat posisinya di pasar Australia. Pencapaian merek China akan menekan kompetisi bagi produsen Jepang, Korea, dan Eropa yang selama ini dominan di pasar Australia.
Lonjakan EV di Australia juga dapat memicu reorientasi pasokan EV China ke kawasan Asia-Pasifik hingga Asia Tenggara termasuk Indonesia. Dampaknya, persaingan harga EV di negara berkembang berpotensi semakin ketat.
Terlebih, pertumbuhan penjualan mobil listrik di suatu negara akan mendorong peningkatan investasi pada infrastruktur pengisian daya, jaringan listrik, dan energi terbarukan, dengan efek ganda (multiplier effect) ke sektor konstruksi sampai energi.(*)