KABARBURSA.COM - Digitalisasi sistem kendaraan yang menggantikan odometer mekanis dengan pencatat jarak tempuh digital membuka celah baru dalam kejahatan otomotif.
Teknologi yang dirancang untuk meningkatkan akurasi dan kemudahan pencatatan justru menciptakan kerentanan baru, karena data jarak tempuh kini dapat diubah tanpa meninggalkan jejak fisik yang mudah dikenali oleh pembeli mobil bekas.
CarFax mencatat bahwa manipulasi odometer semakin mudah dilakukan seiring pergeseran teknologi tersebut. Perusahaan itu memperkirakan sekitar 2,45 juta mobil di jalan raya Amerika Serikat (AS) saat ini kemungkinan memiliki jarak tempuh yang dimanipulasi. Lonjakan ini terjadi bersamaan dengan meningkatnya penggunaan odometer digital pada kendaraan modern.
Menurut CarFax, perubahan dari sistem mekanis ke digital mengubah karakter risiko di pasar mobil bekas. Jika pada odometer mekanis manipulasi kerap meninggalkan bekas fisik, pada sistem digital data jarak tempuh dapat langsung ditimpa. Setelah diubah, informasi tersebut hampir tidak mungkin dilacak tanpa catatan jarak tempuh historis yang lengkap.
“Seiring transisi kendaraan modern dari odometer mekanis ke digital, pemalsuan sayangnya menjadi lebih umum karena ketersediaan alat-alat murah yang lebih luas,” kata Faisal Hasan, Wakil Presiden Akuisisi Data di CarFax, dilansir dari Carscoops, Senin, 29 Desember 2025.
CarFax mendemonstrasikan perangkat “koreksi” jarak tempuh yang dijual secara daring dengan harga sekitar 200 hingga 300 dolar AS. Alat ini diklaim mampu menghapus puluhan ribu mil dari catatan digital kendaraan hanya dalam hitungan detik. Perubahan tersebut secara langsung menimpa data sebelumnya yang tersimpan di sistem kendaraan.
Dampak dari kerentanan digital ini tercermin dalam tren terbaru. Dari 2023 ke 2024, CarFax memperkirakan manipulasi odometer hanya meningkat 4 persen.
Namun, pada 2025, angka tersebut melonjak dengan estimasi kenaikan 14 persen, seiring meningkatnya persaingan di pasar mobil bekas dan semakin luasnya akses terhadap alat manipulasi digital.
Bagi konsumen, jarak tempuh selama ini dipandang sebagai indikator objektif usia dan nilai kendaraan. Namun, dalam sistem digital, angka tersebut tidak selalu mencerminkan kondisi sebenarnya.
CarFax memperkirakan pembeli rata-rata menghabiskan sekitar 3.300 dolar AS lebih banyak untuk kendaraan dengan jarak tempuh yang telah dimanipulasi dibandingkan jika datanya akurat, di luar potensi biaya perawatan dan keselamatan yang tidak terduga.
Kasus-kasus manipulasi ini paling banyak ditemukan di negara bagian dengan populasi besar seperti California, Texas, Florida, New York, dan Illinois.
Sementara itu, sejumlah negara bagian dengan populasi lebih kecil mencatat pertumbuhan tercepat dalam dugaan pemalsuan odometer, termasuk Montana, Tennessee, Arkansas, Oklahoma, dan Kansas.
Menghadapi risiko tersebut, CarFax menekankan pentingnya penggunaan laporan riwayat kendaraan dan pemeriksaan fisik komponen untuk mendeteksi ketidaksesuaian antara kondisi mobil dan jarak tempuh yang tercatat.
Dalam era digitalisasi kendaraan, verifikasi data historis menjadi semakin krusial karena angka pada layar tidak lagi selalu meninggalkan jejak yang mudah dibaca.(*)