Logo
>

Daya Beli Lemah, Penjualan Mobil RI Anjlok Nyaris 10 Persen

Penjualan mobil baru Indonesia turun 9,6 persen sepanjang 2025. Kelas menengah tertekan biaya hidup dan suku bunga tinggi, LCGC jadi segmen paling terpukul.

Ditulis oleh Harun Rasyid
Daya Beli Lemah, Penjualan Mobil RI Anjlok Nyaris 10 Persen
Ilustrasi penjualan mobil Low Cost Green Car (LCGC) di Indonesia. Foto: KabarBursa.com/Harun.

Poin Penting :

    KABARBURSA.COM - Penjualan mobil baru tahun 2025 terkoreksi cukup dalam. Penurunan penjualan pada tahun lalu sekaligus menjadi indikator pelemahan daya beli masyarakat. 

    Berdasarkan data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), sepanjang periode Januari hingga November 2025 menghasilkan penjualan wholesales (dari pabrik ke dealer) mobil baru sebanyak 710.084 unit.

    Angka penjualan mobil baru tahun 2025 terhitung turun 9,6 persen dibanding periode yang sama pada 2024 yang membukukan 785.917 unit.

    Pengamat otomotif, Yannes Martinus Pasaribu menyoroti, turunnya penjualan mobil baru merupakan imbas tekanan ekonomi konsumen kelas menengah yang didukung beberapa faktor lainnya.

    "Anjloknya penjualan mobil pada 2025 itu sangat related dengan susutnya daya beli middle class, ketika harga kebutuhan pokok naik dan suku bunga acuan masih tinggi," ujarnya saat dihubungi KabarBursa.com, Jumat, 9 Januari 2025.

    Situasi tersebut, membuat masyarakat kelas menengah lebih memprioritaskan kebutuhan lain di mana mobil baru tidak tergolong dal kebutuhan primer.

    "Banyak keluarga middle class terutama yang berpotensi kuat untuk naik kelas secara sosial, dan ekonomi, terpaksa memindahkan uang dari belanja barang tahan lama seperti mobil, ke kebutuhan primer dan dana darurat," sebut Yannes.

    Yannes menilai, kebutuhan konsumen kelas menengah berimbas pada penundaan pembelian mobil anyar. Lebih parahnya lagi, kata dia, kondisi ekonomi global maupun dalam negeri yang tidak menentu akhirnya mengoreksi jumlah masyarakat kelas menengah.

    "Data juga menunjukkan middle class menyusut 16,6 persen dari 57,33 juta jiwa (2019) jadi 47,85 juta jiwa (2024). Sementara sekitar 80 persen pembelian mobil bergantung kredit.  Jadi bunga yang tinggi langsung membuat cicilan (kendaraan baru) terasa berat," ungkap Yannes.

    Lebih dalam lagi, berkurangnya kelas menengah di Indonesia membuat mobil baru di segmen terjangkau semisal Low Cost Green Car (LCGC) juga kurang dilirik pasar. 

    "Dampaknya paling terasa di segmen entry level. contohnya penjualan LCGC turun 28,7 persen secara tahunan. Ini karena harga naik jauh dari sekitar Rp80 jutaan pada 2013 jadi Rp138 juta hingga 200 jutaan saat ini," ucap Yannes.

    Diketahui, LCGC diisi beberapa model yang diproduksi pabrikan asal Jepang, mulai dari Toyota Agya dan Calya, Daihatsu Ayla dan Sigra, hingga Honda Brio Satya.

    Sementara model LCGC lain yang sebelumnya dipasarkan, beberapa tahun lalu telah disuntik pabrikan. Contohnya Datsun Go Panca serta Suzuki Karimun Wagon R.

    Berikutnya, penurunan penjualan mobil baru termasuk LCGC juga diikuti kebijakan politik sampai perkembangan industri otomotif yang mengarah ke teknologi elektrifikasi.

    Sementara elektrifikasi kendaraan sampai pada tahap hadirnya mobil listrik murah semisal BYD Atto 1 atau Wuling Air ev dengan banderol mulai Rp190 jutaan hingga Rp200 jutaan ke atas.

    "Di luar itu, ada faktor tambahan seperti kompetisi EV murah dari Tiongkok, depresiasi rupiah yang membuat komponen impor tambah mahal, sampai ketidakpastian kebijakan yang membuat konsumen wait and see," terang Yannes.

    Masyarakat kelas menengah yang tengah tertekan juga memikirkan beberapa hal lain dalam pembelian kendaraan baru. Mulai dari total cost ownership, nilai jual kembali kendaraan yang dipilih hingga biaya operasional semisal pembelian BBM. 

    "Dan biaya kepemilikan seperti BBM, depresiasi, PKB (Pajak Kendaraan Bermotor), Opsen, service dan spareparts, hingga bunga kredit ikut menekan konsumen," tutup Yannes.

    Melihat kondisi ini, sudah seharusnya pemerintah memberi perhatian lebih bagi kestabilan ekonomi kelas menengah. Hal ini untuk menjaga hingga merangsang daya beli, termasuk produk otomotif hingga keberlangsungan industri pendukungnya.(*)

    Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

    Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

    Gabung Sekarang

    Jurnalis

    Harun Rasyid

    Harun Rasyid adalah jurnalis KabarBursa.com yang fokus pada liputan pasar modal, sektor komersial, dan industri otomotif. Berbekal pengalaman peliputan ekonomi dan bisnis, ia mengolah data dan regulasi menjadi laporan faktual yang mendukung pengambilan keputusan pelaku pasar dan investor. Gaya penulisan lugas, berbasis riset, dan memenuhi standar etika jurnalistik.