Logo
>

Efek Perang Harga: Harga Mobil Anjlok di China, Dealer Rugi Massal

Perang harga mobil di China menekan margin industri otomotif ke level terendah kedua. Lebih dari 70 persen model dijual rugi, dealer pun alami kerugian massal.

Ditulis oleh Citra Dara Vresti Trisna
Efek Perang Harga: Harga Mobil Anjlok di China, Dealer Rugi Massal
Ilustrasi perang harga industri otomotif. Foto: dok KabarBursa.com

Poin Penting :

    KABARBURSA.COM - Perang harga di industri otomotif China tidak hanya menekan produsen, tetapi telah merembet ke seluruh rantai nilai, mulai dari pabrikan hingga dealer dan jaringan distribusi.

    CarNewsChina melaporkan, persaingan harga yang bermula di segmen kendaraan energi baru meluas ke mobil berbahan bakar bensin. Hal ini berdampak terhadap margin industri yang menipis dan meningkatnya tekanan finansial di tingkat penjualan ritel.

    Data yang dirilis oleh Cui Dongshu, Sekretaris Jenderal Asosiasi Mobil Penumpang Tiongkok (CPCA), menunjukkan bahwa periode Januari-November 2025, margin keuntungan industri otomotif hanya mencapai 4,4 persen.

    Capaian ini merupakan yang terendah terendah kedua dalam sejarah. Pendapatan rata-rata per kendaraan di sepanjang rantai industri tercatat sebesar 322.000 yuan, sementara laba kotor per kendaraan hanya 14.000 yuan.

    Tekanan tersebut terjadi di tengah pertumbuhan skala industri. Selama periode Januari–November 2025, pendapatan industri otomotif melampaui 10 triliun yuan, meningkat 8,1 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

    Pada saat yang sama, biaya industri naik lebih cepat, mencapai 8,84 triliun yuan atau tumbuh 9 persen secara tahunan, sehingga keuntungan hanya tercatat 440,3 miliar yuan.

    Persaingan harga yang semakin intensif menjadi salah satu faktor utama di balik kondisi tersebut. Kompetisi antara kendaraan energi baru dan kendaraan berbahan bakar bensin tradisional semakin tajam, dengan perang harga yang meluas lintas segmen dan terus menggerus ruang laba. Tekanan biaya juga diperberat oleh fluktuasi harga bahan baku baterai dan kenaikan biaya tenaga kerja.

    Dampak perang harga tidak berhenti di tingkat produsen. Menurut laporan media otomotif Tiongkok Autohome, lebih dari separuh dealer saat ini mengalami kerugian, sementara lebih dari 70 persen model mobil dijual dengan harga rugi. Kondisi ini mencerminkan tekanan yang menjalar hingga ke ujung rantai distribusi.

    Situasi tersebut juga tercermin dalam kinerja perusahaan otomotif besar. Great Wall Motor (GWM), misalnya, mencatat kenaikan pendapatan hampir 8 persen dalam tiga kuartal pertama tahun ini, namun laba bersihnya turun hampir 17 persen akibat meningkatnya investasi pada saluran distribusi dan ketatnya persaingan harga.

    Secara bulanan, data November menunjukkan sedikit perbaikan. Pada bulan tersebut, pendapatan industri mencapai 1.144,5 miliar yuan, meningkat 9,7 persen dibandingkan tahun sebelumnya, sementara biaya naik 11,4 persen menjadi 1.016,2 miliar yuan.

    Laba industri tercatat 50,8 miliar yuan, dengan margin keuntungan sebesar 4,4 persen, lebih tinggi dibandingkan 3,9 persen pada Oktober dan 3,3 persen pada November tahun lalu.

    Sementara dari sisi produksi, industri otomotif Tiongkok menghasilkan 31,09 juta kendaraan selama Januari–November 2025, meningkat 11 persen secara tahunan.

    Produksi kendaraan energi baru mencapai 14,53 juta unit atau naik 27 persen, dengan tingkat penetrasi 47 persen, sementara produksi kendaraan berbahan bakar bensin tercatat 16,57 juta unit dan relatif stagnan dibandingkan tahun sebelumnya.

    Data tersebut menunjukkan bahwa di tengah pertumbuhan volume dan ekspansi pasar, perang harga telah menjadi faktor yang menekan profitabilitas di seluruh mata rantai industri otomotif Tiongkok.(*)

    Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

    Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

    Gabung Sekarang

    Jurnalis

    Citra Dara Vresti Trisna

    Citra Dara Vresti Trisna adalah Asisten Redaktur KabarBursa.com yang memiliki spesialisasi dalam analisis saham dan dinamika pasar modal. Dengan ketelitian analitis dan pemahaman mendalam terhadap tren keuangan, ia berperan penting dalam memastikan setiap publikasi redaksi memiliki akurasi data, konteks riset, dan relevansi tinggi bagi investor serta pembaca profesional. Gaya kerjanya terukur, berstandar tinggi, dan berorientasi pada kualitas jurnalistik berbasis fakta.