KABARBURSA.COM – Pertumbuhan motor listrik di Indonesia mulai mendorong pergerakan industri pendukung, terutama di sisi rantai pasok. Perkembangan ini tidak hanya berkaitan dengan produk akhir, tetapi juga menarik keterlibatan sektor baterai, membuka peluang di industri karoseri, serta mendorong penguatan riset dan pengembangan (R&D) di dalam negeri.
Ketua Umum Asosiasi Industri Sepeda Motor Listrik Indonesia (Aismoli) Budi Setiyadi mengatakan, baterai menjadi komponen utama dalam ekosistem motor listrik dan memiliki peran sentral dalam menentukan kinerja kendaraan. Karena itu, penguatan industri baterai menjadi bagian penting dari pendalaman rantai pasok motor listrik.
“Karena motor listrik ini kan untuk menentukan kinerjanya, sebagian besar dari komponen utamanya dari baterainya,” ujar Budi saat diwawancarai KabarBursa.com, Senin, 5 Januari 2025.
Seiring meningkatnya penggunaan motor listrik, kebutuhan terhadap sistem penilaian dan pengujian baterai juga ikut berkembang. Hal ini membuka ruang bagi industri pendukung, termasuk lembaga pengujian dan verifikasi, untuk terlibat dalam rantai nilai kendaraan listrik roda dua.
Aismoli, kata Budi, tengah menjajaki kerja sama dengan sejumlah lembaga verifikasi untuk melakukan pengujian kondisi baterai. Upaya ini tidak hanya ditujukan untuk pasar sekunder, tetapi juga berpotensi mendorong penguatan kapabilitas teknis industri baterai di dalam negeri.
“Mungkin kita kerjasama dengan lembaga verifikasi, mungkin Sucofindo dan sebagainya dan juga lembaga untuk melakukan pengetesan terhadap kondisi dari baterai,” katanya.
Selain baterai, pertumbuhan motor listrik juga membuka peluang bagi sektor karoseri dan bengkel. Aismoli berencana melibatkan bengkel atau workshop yang tersebar di berbagai daerah sebagai bagian dari sistem verifikasi dan penilaian kondisi motor listrik.
“Dan kemudian kita akan bekerjasama dengan beberapa bengkel atau workshop yang sudah tersebar di beberapa daerah, sehingga mereka akan bisa menjadi kepanjangan tangan untuk melakukan verifikasi tadi,” ujar Budi.
Keterlibatan bengkel dan workshop tersebut dinilai dapat memperkuat ekosistem pendukung motor listrik, sekaligus mendorong transfer pengetahuan teknis dan pengembangan kemampuan sumber daya manusia di tingkat lokal.
Budi menambahkan, hingga saat ini motor listrik belum dilengkapi fitur standar untuk memantau kondisi baterai secara langsung. Kondisi tersebut membuka ruang bagi pengembangan teknologi dan R&D lokal untuk mendukung kebutuhan pemantauan dan pengujian baterai ke depan.
Aismoli menargetkan perumusan sistem penilaian dan pengujian baterai dapat dilakukan pada paruh pertama 2026 dan diakui oleh lembaga terverifikasi. Standar tersebut diharapkan tidak hanya mendukung transaksi motor listrik bekas, tetapi juga memperkuat struktur rantai pasok dan industri pendukung motor listrik di Indonesia.(*)