KABARBURSA.COM – Hubungan antara pertumbuhan kendaraan listrik (electric vehicle/EV) dan permintaan nikel mulai memasuki fase baru. Perkembangan teknologi baterai global menunjukkan bahwa nikel tidak lagi menjadi satu-satunya penopang utama elektrifikasi, seiring meningkatnya adopsi kimia baterai alternatif dan terbentuknya struktur pasar multi-kimia.
Berdasarkan data dari International Energy Agency (IEA) dalam Global EV Outlook 2024 mencatat, pangsa baterai Lithium Iron Phosphate (LFP) telah mencapai sekitar 33 persen dari total baterai EV global.
Pangsa pasar ini meningkat tajam dalam beberapa tahun terakhir, terutama didorong oleh penetrasi kendaraan listrik segmen mass market. Sementara itu, baterai berbasis nikel seperti NMC dan NCA masih mendominasi dengan porsi sekitar 62 persen, meski secara relatif mengalami penurunan.
Di sisi lain, baterai ion natrium (sodium-ion/Na-ion) masih menyumbang kurang dari 1 persen pasar global. Namun, teknologi ini mulai memasuki tahap produksi massal terbatas, terutama untuk kendaraan listrik entry-level dan sistem penyimpanan energi (energy storage system/ESS).
Pengamat Komoditas dan Founder Traderindo, Wahyu Tribowo Laksono, menilai perkembangan tersebut menandai berakhirnya narasi tunggal yang selama ini mengaitkan pertumbuhan EV secara langsung dengan lonjakan permintaan nikel.
“Langkah CATL ini menandai berakhirnya era di mana nikel dianggap sebagai satu-satunya jalan menuju elektrifikasi,” kata Wahyu kepada KabarBursa.com, Selasa, 6 Januari 2026.
Menurut Wahyu, industri baterai global kini bergerak ke pendekatan multi-kimia. Nikel tetap memiliki peran penting, tetapi tidak lagi bersifat eksklusif. “Nikel tidak lagi menjadi satu-satunya mesin pertumbuhan, namun tetap menjadi standar emas untuk performa,” kata dia.
Ia menjelaskan, baterai berbasis nikel masih menjadi tulang punggung untuk kendaraan listrik jarak menengah hingga jauh, khususnya segmen premium dan kendaraan dengan kebutuhan performa tinggi.
Sebaliknya, LFP dan sodium-ion mulai mengambil peran di segmen kendaraan kota, kendaraan murah, serta aplikasi penyimpanan energi.
Perubahan struktur teknologi ini turut memengaruhi cara pasar membaca prospek nikel. Penurunan sentimen terhadap nikel, menurut Wahyu, lebih mencerminkan penyesuaian ekspektasi atas arah teknologi baterai ketimbang kekhawatiran yang tidak berdasar.
“Asumsi ‘EV = Nikel’ sudah tidak valid secara absolut,” ujarnya.
Dengan terbentuknya segmentasi teknologi baterai, pertumbuhan EV secara global tidak lagi diterjemahkan secara linier sebagai peningkatan permintaan nikel. Sementara itu, pasar mulai membedakan peran masing-masing kimia baterai sesuai dengan segmen kendaraan dan kebutuhan pengguna, seiring berlanjutnya transisi energi dan elektrifikasi transportasi.(*)