Logo
>

EV Lebih Murah dari LCGC? Ini Teknologi di Baliknya

Baterai sodium-ion dengan harga ultra murah diprediksi mendorong EV masuk pasar entry-level dan mengakhiri dominasi mobil murah berbahan bakar bensin.

Ditulis oleh Harun Rasyid
EV Lebih Murah dari LCGC? Ini Teknologi di Baliknya
Ilustrasi kendaraan listrik. Foto: dok KabarBursa.com.

KABARBURSA.COM – Perkembangan teknologi baterai generasi baru mulai mengubah lanskap ekonomi kendaraan listrik (EV), termasuk di Indonesia. Masuknya baterai berbiaya rendah seperti sodium-ion dan solid-state membuka peluang bagi EV untuk turun kelas dari produk mahal berbasis subsidi menjadi kendaraan massal yang bersaing langsung dengan mobil murah berbahan bakar bensin.

Selama ini baterai menjadi komponen termahal dalam struktur biaya EV. Komponen ini berkontribusi sekitar 30–40 persen dari harga kendaraan. Namun, kehadiran teknologi baterai baru dengan biaya produksi jauh lebih rendah berpotensi menurunkan harga jual EV secara signifikan dan mempercepat adopsi di pasar entry-level.

Pengamat otomotif Yannes Martinus Pasaribu menilai baterai sodium-ion akan menjadi titik balik utama dalam perubahan tersebut. “Na-ion CATL Naxtra jika benar-benar dilaunch akan jadi game changer yang secara resmi mengakhiri era EV sebagai barang mewah dan diprediksi bakal menutup masa depan mobil ICE jauh lebih cepat dari perkiraan,” kata Yannes.

Ia menyebut rencana penerapan massal baterai sodium-ion pada lebih dari 30 model kendaraan mulai 2026 akan membuka jalan bagi EV untuk masuk ke segmen yang selama ini dikuasai mobil murah berbasis mesin pembakaran internal (ICE).

“Dengan rencana penerapan massal di lebih dari 30 model kendaraan pada 2026, teknologi ini meruntuhkan hambatan harga yang selama ini jadi ganjalan utama adopsi EV, sehingga EV kini siap masuk pasar entry level dari yang sebelumnya dikuasai mobil LCGC ICE murah,” ujarnya.

Yannes menjelaskan bahwa keunggulan utama baterai sodium-ion terletak pada struktur biayanya. Harga sel baterai jenis ini diperkirakan berada di bawah USD19 per kWh, jauh lebih rendah dibanding baterai LFP yang berada di kisaran USD55–70 per kWh maupun NMC yang dapat mencapai USD80–100 per kWh.

“Secara fundamental, CATL Naxtra bakal hadir dengan harga lebih murah, kualitas lebih unggul di kondisi ekstrem, serta keamanan lebih tinggi dibanding LFP dan NMC,” kata Yannes.

Dengan biaya baterai yang lebih rendah, harga beli kendaraan listrik atau capital expenditure (CAPEX) dinilai bisa turun hingga setara, bahkan lebih murah, dibanding mobil ICE di kelas yang sama.

EV Jadi Keputusan Ekonomi

Selain harga beli, Yannes menyoroti perubahan besar pada biaya operasional dan total biaya kepemilikan kendaraan. “EV yang pakai baterai Na-ion CATL Naxtra bakal punya harga beli (CAPEX) yqng jauh lebih kompetitif karena biaya produksi selnya rendah,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa biaya operasional harian EV berbasis sodium-ion juga jauh lebih rendah karena efisiensi energi listrik dan minimnya perawatan rutin.

“Kombinasi CAPEX + OPEX ini bikin total biaya kepemilikan (Total Cost Ownership/TCO) jadi jauh lebih murah dna menguntungkan dalam jangka panjang dibandingkan EV berbaterai LFP apalagi BBM fosil,” kata Yannes.

Menurutnya, perubahan ini akan menggeser cara konsumen dan pabrikan memandang spesifikasi kendaraan listrik.

“Implementasi baterai Na-ion sangat dimungkinkan bakal menggeser paradigma pabrikan dalam menentukan spesifikasi EV dari yang sebelumnya berorientasi pada performa mewah, menjadi berorientasi pada utilitas harian dan keterjangkauan harga (CAPEX dan OPEX),” ujarnya.

Dampak bagi Pasar Indonesia

Yannes menilai dalam tiga hingga lima tahun ke depan, kendaraan listrik tidak lagi diposisikan sebagai teknologi masa depan, melainkan sebagai komoditas arus utama.

“Tren perkembangan EV dalam 3–5 tahun ke depan (2026–2030) akan berpindah ke perspektif baru yang tidak lagi memandang EV sebagai teknologi masa depan, melainkan sebagai komoditas mainstream,” katanya.

Ia menambahkan bahwa perubahan ini akan memaksa pasar otomotif Indonesia melakukan transisi secara masif. “Perkembangan EV di Indonesia tidak lagi ditentukan oleh kemewahan atau kecanggihan fitur, melainkan oleh kekuatan ekonomi murni yang dibawa oleh teknologi baterai. Biaya awal yang setara dengan mobil bensin dan biaya operasional yang sangat rendah akan memaksa pasar otomotif nasional untuk melakukan transisi secara masif,” ujar Yannes.

Dengan turunnya biaya teknologi inti, persaingan EV di Indonesia ke depan diperkirakan tidak lagi bergantung pada insentif pemerintah, melainkan pada efisiensi biaya dan nilai ekonomi yang ditawarkan kepada konsumen.(*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Jurnalis

Harun Rasyid

Harun Rasyid adalah jurnalis KabarBursa.com yang fokus pada liputan pasar modal, sektor komersial, dan industri otomotif. Berbekal pengalaman peliputan ekonomi dan bisnis, ia mengolah data dan regulasi menjadi laporan faktual yang mendukung pengambilan keputusan pelaku pasar dan investor. Gaya penulisan lugas, berbasis riset, dan memenuhi standar etika jurnalistik.