KABARBURSA.COM - Ledakan penggunaan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) mulai memicu tekanan baru di industri kendaraan listrik China. Lonjakan kebutuhan chip untuk server AI membuat pasokan semikonduktor otomotif makin ketat, mendorong kenaikan biaya produksi kendaraan listrik pintar dan memicu gelombang kenaikan harga mobil listrik di pasar China.
Media China Jiemian News melaporkan, produsen chip mulai mengalihkan kapasitas produksi ke kebutuhan server AI generatif, terutama untuk chip memori kelas atas yang juga digunakan pada kendaraan listrik berbasis teknologi pintar.
Akibatnya, harga chip memori otomotif melonjak sekitar 180 persen dalam tiga bulan terakhir. Sementara itu, harga memori DDR5 kelas atas tercatat naik lebih dari 300 persen di tengah tingginya permintaan industri AI.
Menurut perkiraan UBS yang dikutip Jiemian News, kenaikan harga chip telah menambah biaya produksi kendaraan listrik pintar sekitar 3.000 yuan hingga 7.000 yuan per unit.
Tekanan biaya tersebut muncul di tengah meningkatnya penggunaan teknologi cerdas pada kendaraan listrik generasi terbaru di China, mulai dari fitur pengisian cepat, sistem bantuan pengemudi, hingga komputasi kendaraan yang lebih kompleks.
Gelombang kenaikan harga kendaraan energi baru atau New Energy Vehicle (NEV) kini mulai meluas di pasar China. Lebih dari 15 produsen mobil, termasuk BYD, Xiaomi, GAC Aion, Volkswagen, dan Toyota, telah mengumumkan kenaikan harga kendaraan maupun konfigurasi tambahan dalam beberapa pekan terakhir.
BYD menaikkan harga opsi laser ADAS “God’s Eye B” untuk sejumlah model mulai 1 Mei 2026. Xiaomi juga menaikkan harga seluruh varian SU7 sebesar 4.000 yuan.
Selain tekanan chip, kenaikan biaya juga dipicu lonjakan harga bahan baku baterai seperti litium karbonat. Harga litium karbonat kelas baterai yang berada di level 75.000 yuan per ton pada Juli 2025 dilaporkan melonjak mendekati 200.000 yuan per ton dalam waktu kurang dari satu tahun.
Kenaikan harga aluminium dan tembaga juga ikut menambah tekanan biaya produksi kendaraan listrik di China. Data Asosiasi Mobil Penumpang China (CPCA) menunjukkan margin keuntungan industri otomotif domestik turun menjadi 3,2 persen pada kuartal I-2026. Pada periode Januari-Februari 2026, margin industri bahkan sempat menyentuh level 2,9 persen, terendah dalam satu dekade.
Total keuntungan industri otomotif China pada kuartal I-2026 tercatat turun 18 persen secara tahunan menjadi 78,4 miliar yuan.
Sekretaris Jenderal CPCA Cui Dongshu mengatakan produsen kendaraan listrik kelas atas masih memiliki ruang lebih besar untuk menyerap tekanan biaya dibanding produsen kelas menengah dan bawah yang berada dekat titik impas.
Di tengah kondisi tersebut, sejumlah sumber industri yang dikutip Jiemian News menyebut semakin banyak produsen kendaraan listrik mulai mempertimbangkan penyesuaian harga kendaraan akibat meningkatnya tekanan biaya produksi.(*)