KABARBURSA.COM – BMW melakukan pemangkasan harga besar-besaran di pasar China. Pemangkasan ini dilakukan di tengah pelemahan permintaan otomotif dan tekanan deflasi yang terus berlanjut.
Pemangkasan ini tetap terjadi meski pemerintah setempat berupaya menahan eskalasi perang harga di industri kendaraan.
Pekan lalu, produsen otomotif asal Jerman tersebut mengumumkan penurunan harga resmi pada 31 model yang dipasarkan di Tiongkok.Pemotongan harga terbesar secara nominal terjadi pada BMW i7 M70L, yang dipangkas hingga 301.000 yuan (Rp726 juta).
Sementara itu, pemotongan harga terbesar secara persentase tercatat pada BMW iX1 eDrive25L varian jarak sumbu roda panjang, dengan diskon mencapai 24 persen.
BMW menyatakan bahwa penyesuaian harga tersebut merupakan bagian dari “manajemen harga reguler”, dengan harga transaksi akhir ditentukan melalui negosiasi antara dealer resmi dan konsumen. Namun, langkah ini dilakukan di tengah kondisi pasar otomotif Tiongkok yang menunjukkan pelemahan permintaan secara berkelanjutan.
Berdasarkan data China Automobile Dealers Association (CADA), penjualan ritel kendaraan penumpang nasional pada Oktober 2025 tercatat 2,242 juta unit atau turun 0,8 persen secara tahunan.
Penurunan berlanjut pada November 2025 dengan kontraksi 8,1 persen secara tahunan, dan kembali melemah 14,0 persen pada Desember 2025, meskipun secara bulanan sempat meningkat 1,6 persen.
Tekanan permintaan tersebut berdampak langsung pada produsen otomotif global yang menjadikan Tiongkok sebagai pasar utama, termasuk BMW.
Sepanjang 2020–2023, China menyumbang lebih dari 32 persen dari total penjualan global BMW Group. Namun, pada 2024, kontribusi pasar Tiongkok turun menjadi 29,2 persen dari total pengiriman global.
Pemangkasan harga BMW juga terjadi di tengah upaya pemerintah Tiongkok untuk menertibkan perang harga otomotif. Sejak Mei 2025, Kementerian Perindustrian dan Teknologi Informasi (MIIT) bersama asosiasi industri menyerukan penghentian kompetisi harga tidak sehat.
Regulator juga menghentikan praktik penjualan di bawah biaya produksi. Pemerintah juga memperkuat pengawasan harga dan menyiapkan revisi undang-undang harga sebagai bagian dari kebijakan tersebut.
Meski demikian, penyesuaian harga oleh BMW mengindikasikan bahwa tekanan pasar masih lebih dominan dibandingkan upaya pengendalian administratif.
Melansir dari Carscoops, Direktur Pelaksana Automotive Foresight Yale Zhang, harga baru BMW pada dasarnya mencerminkan harga transaksi yang selama ini sudah berlaku di tingkat dealer, bukan penurunan harga di bawah level pasar.
Dengan mendekatnya perayaan Tahun Baru Imlek pada Februari, sejumlah produsen otomotif diperkirakan akan kembali menawarkan insentif tambahan untuk mendorong penjualan kuartal pertama. Hingga awal 2026, sedikitnya 14 merek otomotif telah meluncurkan program diskon atau insentif di pasar Tiongkok.
Langkah BMW tersebut menambah sinyal bahwa tekanan harga di industri otomotif Tiongkok masih berlanjut, di tengah pelemahan permintaan dan meningkatnya kekhawatiran terhadap risiko deflasi di sektor kendaraan.(*)