Logo
>

Hylic Produksi Massal Baterai Cair-Padat, RI Terancam?

Produksi massal baterai cair-padat oleh Hylic mengubah peta industri global. Indonesia berisiko kehilangan keunggulan jika nikel tak lagi dibutuhkan.

Ditulis oleh Citra Dara Vresti Trisna
Hylic Produksi Massal Baterai Cair-Padat, RI Terancam?
Pabrik baterai Hylic mulai beroperasi. Foto: Hylic

KABARBURSA.COM – Perusahaan baterai asal China, Hylic, mulai mengoperasikan pabrikan pertamanya. Perusahaan ini memproduksi baterai cair-padat (liquid–solid state) secara massal sejak kuartal IV 2025.

Melansir dari CarNewsChina, fasilitas yang berlokasi di Jiangsu tersebut memiliki kapasitas total hingga 10 GWh dan dikembangkan melalui investasi sekitar 5 miliar yuan. Langkah ini menandai transisi teknologi baterai dari fase riset ke produksi industri berskala besar.

Operasional pabrik baterai generasi baru di China mulai mengubah peta ekonomi industri kendaraan listrik global. Keberadaan pabrikan baterai baru ini bukan lagi sekadar persaingan merek atau model kendaraan.

Perubahan kini bergeser ke level yang lebih mendasar, yakni teknologi baterai dan implikasinya terhadap rantai pasok bahan baku dunia. Perkembangan ini tidak berdiri sendiri.

Dalam beberapa tahun terakhir, berbagai produsen baterai global mulai mengalihkan fokus dari baterai lithium-ion konvensional berbasis nikel—seperti NMC dan NCA—ke teknologi alternatif yang lebih murah. Selain itu, konversi ini diklaim lebih aman, dan berpotensi mengurangi ketergantungan pada bahan baku strategis tertentu.

Bagi Indonesia, yang selama ini menempatkan hilirisasi nikel sebagai tulang punggung strategi industrialisasi kendaraan listrik, perubahan ini membawa implikasi ekonomi yang tidak sederhana.

Risiko Teknologi terhadap Model Hilirisasi

Baterai lithium-ion konvensional selama ini menjadi fondasi permintaan nikel global. Pada kimia NMC dan NCA, kandungan nikel bisa mencapai 80–85 persen, dengan intensitas hingga 60–80 kilogram per kendaraan listrik. Asumsi inilah yang menopang investasi besar-besaran Indonesia pada smelter, HPAL, dan fasilitas prekursor baterai.

Namun, baterai generasi baru—baik solid-state maupun sodium-ion—membuka kemungkinan desain baterai dengan kandungan nikel yang jauh lebih rendah, bahkan tanpa nikel sama sekali. Dalam proyeksi konservatif BloombergNEF, transisi teknologi ini berpotensi menurunkan intensitas penggunaan nikel hingga 30 persen pada 2040.

Jika tren tersebut terakselerasi, maka risiko yang dihadapi Indonesia bukan hanya fluktuasi harga komoditas, melainkan perubahan struktural permintaan jangka panjang.

Pengamat otomotif Yannes Martinus Pasaribu menilai teknologi baterai sodium-ion berpotensi menjadi pemicu utama perubahan tersebut. Ia menegaskan bahwa teknologi ini tidak lagi menempatkan kendaraan listrik sebagai produk premium.

“Na-ion CATL Naxtra jika benar-benar dilaunch akan jadi game changer yang secara resmi mengakhiri era EV sebagai barang mewah dan diprediksi bakal menutup masa depan mobil ICE jauh lebih cepat dari perkiraan,” ujar Yannes kepada KabarBursa.com, beberapa waktu lalu.

Menurutnya, rencana penerapan massal baterai sodium-ion pada lebih dari 30 model kendaraan mulai 2026 akan meruntuhkan hambatan harga yang selama ini menjadi kendala utama adopsi EV.

“Secara fundamental, CATL Naxtra bakal hadir dengan harga lebih murah, kualitas lebih unggul di kondisi ekstrem, serta keamanan lebih tinggi dibanding LFP dan NMC,” katanya.

Dari sisi biaya, Yannes menyebut harga sel baterai sodium-ion diperkirakan berada di bawah USD19 per kWh, jauh di bawah baterai LFP yang berada di kisaran USD55–70 per kWh maupun NMC yang dapat menembus USD80–100 per kWh.

Implikasi bagi Indonesia?

Indonesia saat ini menguasai sekitar 37 persen produksi nikel global dan telah menarik investasi besar untuk pengolahan nikel kelas baterai. Kendati demikian, nilai tambah industri masih terkonsentrasi di bahan baku dan prekursor. Sementara penguasaan teknologi inti—sel baterai, sistem manajemen baterai, dan kekayaan intelektual—masih didominasi perusahaan asing.

Jika teknologi baterai bergerak ke arah non-nikel atau low-nickel lebih cepat dari perkiraan, keunggulan komparatif Indonesia berisiko menyempit sebelum industrialisasi EV nasional benar-benar naik kelas.

Yannes menilai perubahan teknologi ini akan menggeser orientasi industri otomotif secara menyeluruh.

“Implementasi baterai Na-ion sangat dimungkinkan bakal menggeser paradigma pabrikan dalam menentukan spesifikasi EV dari yang sebelumnya berorientasi pada performa mewah, menjadi berorientasi pada utilitas harian dan keterjangkauan harga (CAPEX dan OPEX),” ujarnya.

Menurutnya, hasil akhir dari perubahan ini adalah EV yang secara ekonomi lebih rasional bagi konsumen massal. “Perkembangan EV di Indonesia tidak lagi ditentukan oleh kemewahan atau kecanggihan fitur, melainkan oleh kekuatan ekonomi murni yang dibawa oleh teknologi baterai ini,” kata Yannes.

Masuknya teknologi baterai generasi baru ke tahap produksi massal membuat tantangan Indonesia semakin mendesak. Ketergantungan berlebihan pada satu narasi komoditas berisiko menciptakan aset berbiaya tinggi yang kehilangan relevansi sebelum umur ekonominya tercapai.

Di tengah percepatan teknologi global, pertanyaan kunci bagi Indonesia bukan lagi seberapa besar cadangan nikel yang dimiliki, melainkan seberapa cepat strategi industrialisasi dapat beradaptasi ketika nikel tidak lagi menjadi pusat gravitasi industri baterai dunia.(*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Jurnalis

Citra Dara Vresti Trisna

Citra Dara Vresti Trisna adalah Asisten Redaktur KabarBursa.com yang memiliki spesialisasi dalam analisis saham dan dinamika pasar modal. Dengan ketelitian analitis dan pemahaman mendalam terhadap tren keuangan, ia berperan penting dalam memastikan setiap publikasi redaksi memiliki akurasi data, konteks riset, dan relevansi tinggi bagi investor serta pembaca profesional. Gaya kerjanya terukur, berstandar tinggi, dan berorientasi pada kualitas jurnalistik berbasis fakta.