KABARBURSA.COM – Percepatan pengembangan baterai generasi baru di Tiongkok mulai memunculkan risiko yang belum sepenuhnya tercermin dalam valuasi pasar modal, khususnya bagi emiten nikel, smelter, dan industri otomotif berbasis mesin pembakaran internal (ICE).
Masuknya teknologi solid-state dan sodium-ion ke tahap produksi massal berpotensi menggeser asumsi jangka panjang yang selama ini menopang narasi pertumbuhan sektor tersebut.
Operasional pabrik baterai cair-padat Hylic sejak kuartal IV 2025 menandai perubahan penting, yakni teknologi baterai tidak lagi berhenti di tahap riset dan pilot, melainkan mulai memasuki skala industri.
Dengan kapasitas hingga 10 GWh dan investasi sekitar 5 miliar yuan, fasilitas ini memperlihatkan bahwa rantai pasok baterai global sedang bersiap menghadapi fase komersialisasi teknologi baru.
Bagi pasar modal, perubahan ini membawa konsekuensi yang lebih dalam daripada sekadar persaingan produk. Ia menyentuh fondasi proyeksi pendapatan jangka panjang dan kelayakan ekonomi aset-aset padat modal.
Asumsi Lama dalam Valuasi
Selama beberapa tahun terakhir, valuasi emiten nikel dan turunannya bertumpu pada dua asumsi utama, yakni pertumbuhan kendaraan listrik global yang agresif dan dominasi baterai berbasis nikel seperti NMC dan NCA. Pada kimia tersebut, kandungan nikel dapat mencapai 80–85 persen, menjadikan EV sebagai motor utama permintaan nikel kelas baterai.
Namun, data menunjukkan bahwa baterai generasi baru, solid-state dan sodium-ion, membuka jalur teknologi dengan ketergantungan nikel yang jauh lebih rendah, bahkan nihil. Dalam skenario konservatif BloombergNEF, intensitas penggunaan nikel per kendaraan listrik berpotensi turun hingga 30 persen pada 2040 akibat pergeseran kimia baterai.
Sementara bagi investor, ini berarti risiko yang dihadapi tidak lagi bersifat siklikal, melainkan struktural.
Sementara itu, proyek smelter dan HPAL yang dikembangkan dalam beberapa tahun terakhir bersifat padat modal, berbiaya tetap tinggi, dan memiliki horizon pengembalian jangka panjang.
Ketika teknologi baterai bergerak menuju desain low-nickel atau non-nickel, risiko yang muncul adalah berkurangnya justifikasi ekonomi atas kapasitas yang sudah terlanjur dibangun.
Indonesia, sebagai produsen nikel terbesar dunia dengan pangsa sekitar 37 persen produksi global, berada di pusat risiko tersebut. Ketergantungan pada satu narasi permintaan—EV berbasis nikel—membuat perubahan teknologi menjadi variabel kunci bagi keberlanjutan pendapatan emiten terkait.
Tekanan Ganda pada Emiten Otomotif
Di sisi lain, produsen otomotif juga menghadapi tekanan ganda. Pabrikan ICE berisiko kehilangan permintaan lebih cepat dari perkiraan, sementara produsen EV berbasis baterai mahal menghadapi tantangan margin jika baterai murah menjadi standar baru industri.
Pengamat otomotif Yannes Martinus Pasaribu menilai teknologi baterai sodium-ion akan mengubah logika ekonomi industri secara mendasar.
“Na-ion CATL Naxtra jika benar-benar dilaunch akan jadi game changer yg secara resmi mengakhiri era EV sebagai barang mewah dan diprediksi bakal menutup masa depan mobil ICE jauh lebih cepat dari perkiraan,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa teknologi ini akan meruntuhkan hambatan harga yang selama ini menghambat adopsi EV massal.
“Secara fundamental, CATL Naxtra bakal hadir dengan harga lebih murah, kualitas lebih unggul di kondisi ekstrem, serta keamanan lebih tinggi dibanding LFP dan NMC,” kata Yannes.
Menurutnya, keunggulan ekonomi tersebut akan menggeser peta persaingan otomotif, bukan melalui regulasi, tetapi melalui efisiensi biaya.
Mispricing Risiko Teknologi
Bagi pasar modal Indonesia, tantangan utamanya adalah risiko salah harga (mispricing) terhadap perubahan teknologi. Pasar cenderung cepat merespons laporan keuangan dan pergerakan harga komoditas, tetapi sering kali lambat mengantisipasi disrupsi teknologi yang mengubah asumsi dasar bisnis.
Jika produksi massal baterai generasi baru benar-benar terjadi mulai 2026, maka tekanan terhadap valuasi emiten nikel dan otomotif berpotensi muncul sebelum tercermin dalam kinerja keuangan jangka pendek.
Dalam konteks ini, transisi energi bukan lagi sekadar peluang pertumbuhan, melainkan juga ujian bagi ketahanan model bisnis dan narasi investasi yang selama ini dianggap mapan. Bagi investor, membaca arah teknologi menjadi sama pentingnya dengan membaca laporan laba rugi.(*)