KABARBURSA.COM – Ada pergeseran yang cukup signifikan di bisnis asuransi kendaraan. Pergeseran ini terjadi di tengah peningkatan kompleksitas teknologi kendaraan.
Saat ini asuransi tidak hanya berfungsi sebagai pelindung dari risiko tabrakan, tapi juga terlibat dalam pengelolaan risiko teknologi, sensor, kalibrasi hingga sistem perangkat lunak kendaraan.
Perubahan ini tercermin dalam laporan industri terbaru Crash Course dari CCC yang mencatat peningkatan struktural dalam frekuensi kerugian total kendaraan.
Laporan tersebut menunjukkan bahwa hampir satu dari empat mobil yang terlibat kecelakaan kini berakhir sebagai kerugian total, dengan frekuensi meningkat dari 22,1 persen pada 2024 menjadi 22,8 persen pada 2025.
Lonjakan ini bukan disebabkan oleh memburuknya perilaku mengemudi, melainkan oleh perubahan desain kendaraan dan kompleksitas teknologi yang terpasang.
Kendaraan modern semakin banyak dilengkapi sistem Advanced Driver Assistance Systems (ADAS) dan elektronik terintegrasi. Dalam kondisi ini, benturan ringan yang sebelumnya hanya membutuhkan perbaikan sederhana kini dapat memicu rangkaian pemeriksaan teknologi yang mahal.
Penutup bemper, misalnya, tidak lagi sekadar komponen fisik, tetapi juga menjadi rumah bagi radar, lidar, dan sensor sonik yang memerlukan penggantian dan kalibrasi ulang.
Dampaknya langsung terasa pada proses klaim asuransi. Hingga kuartal ketiga 2025, hampir 88 persen penilaian dalam program perbaikan langsung (Direct Repair Program/DRP) mencakup pemindaian diagnostik, sementara sekitar 36 persen memerlukan proses kalibrasi. Prosedur ini dinilai krusial untuk memastikan sistem ADAS berfungsi dengan benar setelah perbaikan.
Kompleksitas teknologi tersebut turut mendorong kenaikan biaya perbaikan. Data CCC menunjukkan rata-rata total biaya perbaikan meningkat dari 4.700 dolar AS menjadi 4.768 dolar AS hingga kuartal ketiga 2025.
Selain itu, biaya klaim medis juga naik seiring meningkatnya frekuensi cedera dan munculnya perawatan berbiaya tinggi pada tahap awal proses klaim.
Di sisi lain, meningkatnya usia armada kendaraan memperkuat tekanan tersebut. Lebih dari 72 persen penilaian kerugian total melibatkan kendaraan berusia tujuh tahun atau lebih.
Kombinasi antara kendaraan yang menua dan teknologi yang semakin padat membuat perbaikan menjadi kurang ekonomis, sehingga mendorong lebih banyak kasus berakhir sebagai kerugian total.
Kondisi ini memperpanjang waktu perbaikan, meningkatkan risiko biaya sewa kendaraan pengganti, dan menambah beban pada model biaya perusahaan asuransi.
Bahkan kendaraan yang tidak dinyatakan sebagai kerugian total tetap berkontribusi pada kenaikan premi, karena biaya perbaikannya lebih tinggi dibandingkan periode sebelumnya.
Laporan CCC menegaskan bahwa dampak dari perubahan ini tidak hanya dirasakan konsumen, tetapi juga menjalar ke dealer, bengkel perbaikan, dan perusahaan asuransi itu sendiri.
Dalam lanskap kendaraan yang semakin digital, pengelolaan klaim kini menuntut kemampuan teknis yang lebih dalam, menjadikan teknologi sebagai faktor utama dalam perhitungan dan pengelolaan risiko asuransi kendaraan.(*)