KABARBURSA.COM – Di tengah penerapan tarif tinggi Uni Eropa terhadap kendaraan listrik (EV) asal Tiongkok, Inggris justru muncul sebagai jalur alternatif bagi produsen mobil China untuk memperluas ekspansi di Eropa.
Status Inggris yang berada di luar Uni Eropa membuat pasar otomotif negara tersebut relatif lebih terbuka, terutama bagi model hybrid dan bermesin konvensional yang tidak tercakup dalam kebijakan tarif protektif.
Berdasarkan catatan The Guardian, penjualan mobil China tercatat meningkat di Eropa meskipun kawasan tersebut menerapkan tarif tinggi terhadap kendaraan listrik (EV) asal China.
Kebijakan tersebut diberlakukan akhir tahun lalu untuk melindungi industri otomotif lokal Uni Eropa. Namun, tarif itu tidak mencakup kendaraan hybrid dan bermesin konvensional. Sehingga penjualan model-model tersebut justru melonjak.
Inggris, yang kini berada di luar Uni Eropa menjadi pasar yang relatif lebih terbuka. Absennya produsen mobil domestik berskala besar membuat konsumen Inggris tidak lagi memiliki banyak pilihan berbasis sentimen nasional alias embel-embel produk lokal.
“Tanpa merek domestik yang benar-benar memiliki volume penjualan tinggi untuk dipilih konsumen Inggris, konsumen Inggris pada dasarnya tidak lagi dapat berpartisipasi dalam apa yang dikenal sebagai pembelian patriotik,” kata analis Matthias Schmidt.
Hal tersebut berbeda dengan negara lain di Eropa yang masih memiliki sentimen produk lokal.
“Di Jerman dan Prancis, setengah dari pasar mobil baru di masing-masing negara secara efektif dikendalikan oleh merek domestik. Sementara di Tiongkok, kita sekarang juga melihat bahwa dua pertiga pasar dikuasai oleh merek domestik," jelas Schmidt.
Kondisi tersebut kini membuka ruang lebih luas bagi produsen Tiongkok untuk memperluas pengaruhnya di wilayah Barat.
Alasan perkembangan pasar mobil China di Eropa dipengaruhi beberapa faktor seperti kombinasi harga kompetitif, teknologi yang semakin matang, serta portofolio produk yang beragam.(*)