KABARBURSA.COM - Perang harga di pasar otomotif China tidak lagi sekadar mencerminkan persaingan produk, tetapi telah berubah menjadi persoalan ekonomi struktural yang menekan profitabilitas industri, terutama di tingkat dealer.
Melansir Carscoops, data terbaru menunjukkan margin yang kian tergerus, bahkan memaksa banyak pelaku usaha menjual kendaraan di bawah harga pokok produksi.
Studi Asosiasi Dealer Otomotif China mencatat, hanya sekitar 30 persen dealer yang tetap mencatatkan keuntungan pada paruh pertama 2025. Lebih jauh, 75 persen responden mengakui bahwa mereka menjual setidaknya sebagian kendaraan di bawah harga pokok penjualan.
Tekanan ini muncul di tengah ketatnya persaingan produsen lokal dan asing di pasar otomotif terbesar dunia tersebut. Persaingan harga berlangsung bersamaan dengan pergeseran pasar menuju kendaraan listrik (EV) dan plug-in hybrid, yang mendorong produsen berlomba menawarkan harga semakin agresif.
Pada 2025, permintaan domestik untuk kendaraan energi baru meningkat 18 persen. Namun, pertumbuhan tersebut tidak sepenuhnya tercermin dalam kesehatan keuangan pelaku industri, karena pasar mobil penumpang China justru mencatat laju pertumbuhan paling lambat dalam tiga tahun terakhir, yakni hanya 4 persen dengan total penjualan 23,7 juta unit.
Penjualan EV juga didorong oleh subsidi lokal, dengan insentif hingga USD2.900 bagi konsumen yang menukarkan mobil lama mereka dengan EV atau plug-in hybrid.
Sekitar 11,5 juta unit mobil terjual melalui skema insentif tukar tambah tersebut. Meski demikian, pada Desember, penjualan mobil baru dilaporkan turun 14 persen karena beberapa daerah “kehabisan” anggaran subsidi.
Tekanan terhadap margin pelaku usaha semakin terasa karena persaingan lokal yang ketat terus memengaruhi merek domestik maupun asing, dengan banyak pesaing terjebak dalam perang harga. Situasi ini memperlihatkan bahwa peningkatan volume penjualan tidak selalu sejalan dengan perbaikan profitabilitas.
Kondisi tersebut turut membentuk dinamika restrukturisasi produsen asing di China. Mitsubishi memutuskan meninggalkan pasar China dengan menghentikan seluruh produksi dan penjualan, sementara Jaguar Land Rover mengurangi secara signifikan penawaran produknya. Volkswagen juga menghentikan produksi mobil di pabrik Nanjing.
Bahkan Tesla, yang selama ini dianggap sebagai pemain non-lokal terkuat, mengalami penurunan penjualan sekitar 5 persen dan kehilangan predikat mobil listrik terlaris dunia kepada BYD.
Sementara itu, produsen lain memilih bertahan melalui penyesuaian strategi. Toyota tengah membangun pabrik Lexus EV baru di Shanghai, Volkswagen bersiap meluncurkan berbagai model khusus China, dan General Motors akan menawarkan seluruh produknya dengan pilihan EV atau plug-in hybrid.
Di tengah dominasi produsen lokal seperti BYD, Geely, dan Changan yang unggul dalam fitur teknologi dan kecepatan adaptasi, tekanan terhadap harga jual dan margin usaha menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari lanskap industri otomotif China saat ini.(*)