KABARBURSA.COM – Tesla, produsen kendaraan listrik (EV) asal Amerika Serikat, menghadapi tekanan kebijakan dan reputasi di pasar China sejak 2021. Mobil setrum produk Elon Musk ini mulai dari pembatasan akses fisik hingga pengetatan regulasi terkait data dan fitur kendaraan.
Meski begitu, Tesla tetap membukukan volume penjualan ritel yang besar dalam tiga tahun terakhir di pasar otomotif terbesar dunia itu.
Tekanan terhadap Tesla di China mulai mengemuka pada Maret 2021, ketika perusahaan tersebut dilaporkan dilarang memasuki kompleks militer akibat kekhawatiran terkait kamera dan sensor kendaraan.
Pembatasan serupa kembali terjadi pada Mei 2021, saat Tesla disebut tidak diperkenankan parkir atau masuk ke sebagian kompleks dan kantor pemerintah dengan alasan keamanan data.
Pada April 2021, Tesla juga menjadi sorotan regulator dan media negara setelah protes konsumen viral di Shanghai Auto Show. Tekanan tersebut mendorong otoritas untuk meminta perusahaan memastikan kualitas produk dan layanan purna jual.
Beberapa bulan kemudian, pada Juni 2021, Tesla melakukan recall di China berupa perbaikan keselamatan melalui pembaruan perangkat lunak yang merujuk pada otoritas pengawasan pasar.
Aspek tata kelola data kendaraan turut menjadi perhatian regulator. Sejak 1 Oktober 2021, China memberlakukan aturan pengelolaan keamanan data otomotif yang mengatur pemrosesan data kendaraan, perlindungan data penting dan personal, serta aspek keamanan nasional. Aturan ini berdampak pada seluruh industri kendaraan terkoneksi, termasuk Tesla.
Pelonggaran terhadap Tesla baru terlihat pada April 2024, ketika Model 3 dan Model Y masuk dalam daftar kendaraan yang memenuhi persyaratan keamanan data.
Dengan status tersebut, akses Tesla ke sejumlah area institusional dibuka kembali secara bertahap, menyusul hasil uji kepatuhan keamanan data.
Tekanan kebijakan kembali muncul pada April 2025, ketika Kementerian Perindustrian dan Teknologi Informasi China (MIIT) memberlakukan pengetatan terhadap sejumlah fitur otonom tertentu, termasuk fungsi yang dapat beroperasi tanpa supervisi pengemudi. Kebijakan ini berdampak pada industri “intelligent driving”, termasuk merek-merek yang menawarkan fitur tersebut.
Meski menghadapi rangkaian tekanan tersebut, kinerja penjualan ritel Tesla di China tetap mencatat angka besar. Berdasarkan data China Passenger Car Association (CPCA), Tesla membukukan penjualan ritel sebanyak 603.664 unit pada 2023.
Angka ini meningkat menjadi 657.102 unit pada 2024, yang juga dilaporkan sebagai rekor penjualan Tesla di China. Pada 2025, penjualan ritel Tesla tercatat sebesar 625.698 unit.
Di segmen SUV, salah satu penopang utama penjualan Tesla di China adalah Model Y. Data CPCA mencatat Tesla Model Y menjadi SUV terlaris di China sepanjang 2025 dengan penjualan ritel mencapai 425.337 unit. Capaian ini menempatkan Model Y di atas sejumlah pesaingnya, termasuk Geely Xingyue L dan Geely Boyue L.
Namun, data CPCA juga menunjukkan perubahan posisi relatif Tesla di pasar kendaraan energi baru (NEV). Pada 2025, pangsa pasar Tesla berada di 4,9 persen, sementara produsen lokal seperti BYD dan Geely mencatat volume dan pangsa yang lebih tinggi di segmen tersebut.
Rangkaian peristiwa sejak 2021 hingga 2025 memperlihatkan bahwa Tesla tidak terlepas dari tekanan regulasi dan reputasi di China, khususnya terkait isu keamanan data, kualitas produk, dan fitur kendaraan.
Di sisi lain, data penjualan menunjukkan bahwa perusahaan tersebut tetap mempertahankan skala bisnis yang besar di pasar China, dengan Model Y masih menjadi kontributor utama di segmen SUV, meskipun menghadapi perubahan struktur persaingan dan kebijakan industri yang semakin ketat.(*)