KABARBURSA.COM - Industri otomotif Malaysia bisa tersenyum karena mendulang pencapaian positif. Di tengah kondisi ekonomi global dan geopolitik yang kurang stabil, penjualan mobil baru di Malaysia mampu memecah rekor.
Menurut laporan Paultan, penjualan mobil baru di Negeri Jiran sepanjang 2025 tercatat mencapai 820.752 unit, naik tipis 0,5 persen dibandingkan 816.747 unit pada 2024.
Jumlah penjualan mobil di Malaysia ini, menandai kemampuan industri dalam penjualan yang melampaui 800 ribu unit dalam dua tahun terakhir, serta pertumbuhan empat tahun beruntun pasca-pandemi.
Berdasarkan data tersebut, momentum puncak penjualan kendaraan terjadi pada Desember 2025, menjadi bulan terbaik sepanjang sejarah industri otomotif Malaysia dengan raihan 90.716 unit diserap pasar.
Angka tersebut juga melampaui rekor Desember 2024 yang berada di level 81.735 unit.
Tak hanya itu, pada kuartal IV (Oktober hingga Desember) 2025 tercatat sebagai kuartal terkuat dengan total penjualan sebanyak 241.416 unit.
Asosiasi Otomotif Malaysia (MAA) menilai, performa tersebut ditopang sejumlah faktor struktural. Di antaranya pertumbuhan ekonomi Malaysia yang solid dengan PDB (Produk Domestik Bruto) naik 4,7nl persen dalam tiga kuartal pertama 2025.
Aspek tersebut ditunjang permintaan domestik yang kuat, serta pembiayaan kendaraam yang relatif longgar seiring OPR (Suku Bunga Acuan) yang bertahan di 2,75 persen sejak Juli.
Faktor lainnya, stabilitas sosial-politik dan tingkat pengangguran 2,9 persen di Malaysia juga impresif, bahkan terendah dalam 11 tahun. Hal ini turut memperkuat kepercayaan konsumen akan produk otomotif.
Dari sisi produk, tren SUV (Sport Utility Vehicle) ikut mendorong kenaikan penjualan mobil baru di negara tetangga Indonesia ini. Penjualan kendaraan penumpang naik 13 persen menjadi 228.572 unit, dibandingkan 201.565 unit pada 2024.
Sebaliknya, kendaraan komersial justru tertekan dalam dua tahun berturut-turut, atau turun 11 persen setelah sebelumnya anjlok 14 persen.
Sementara gairah mobil listrik (EV) di Malaysia juga positif. Seban penjualan mobil listrik di Malaysia melonjak 109 persen, dipicu oleh pembelian agresif menjelang berakhirnya masa insentif.
Dampaknya terasa pada sisi hulu. Produksi kendaraan di Malaysia justru turun 5 persen menjadi 747.780 unit, dari 790.347 unit pada 2024. Hal ini menandai kuatnya penetrasi EV impor utuh (CBU) di Negeri Jiran.
Meski mencatat rekor, MAA memproyeksikan pasar otomotif roda empat Malaysia pada 2026 akan melandai dengan estimasi penjualan sekitar 790 ribu unit.
Perbandingan dengan Indonesia
Meski bertetangga dengan Malaysia, penjualan mobil di Indonesia malah bernasib terbalik. Jika Malaysia menunjukkan rasio kepemilikan dan pembelian mobil yang jauh lebih tinggi.
Dengan populasi di bawah 36 juta jiwa, menurut Wordlometers, penjualan mobil baru Malaysia pada 2025 malah tembus 820 ribu unit.
Sementara Indonesia dengan populasi lebih dari 285 juta jiwa, mencatat penjualan mobil baru di bawah 805 ribu unit sepanjang tahun lalu.
Data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), memperlihatkan bahwa penjualan mobil baru secara wholesales (dari pabrik ke dealer) mengalami penurunan 7,2 persen. Dari 865.723 unit selama 2024 menjadi 803.687 unit pada 2025.
Ditinjau dalam segi ritel (dari dealer ke konsumen), penjualan mobil baru di Indonesia tahun 2025 terkoreksi 6,3 persen, dari 889.680 unit per 2024 menjadi hanya 833.692 unit.
Meski demikian, industri otomotif nasional masih memiliki capaian positif dengan lonjakan penjualan sebesar 25,7 persen (wholesales) khusus bulan Desember 2025 dibanding tahun sebelumnya.
Dalam konteks kedua negara, penjualan otomotif bisa disebut sebagai salah satu indikator dalam kemajuan ekonomi. Sebab otomotif merupakan sektor padat karya yang menyerap banyak tenaga kerja, serta memiliki industri pendukung yang saling terkait seperti suku cadang hingga aksesori.
Artinya, otomotif Indonesia relatif stagnan dan belum kembali ke level sebelum pandemi. Pasar Indonesia juga masih bergelut dengan daya beli, suku bunga, dan transisi insentif, meskipun memiliki basis produksi dan pasar domestik yang jauh lebih besar.(*)