KABARBURSA.COM – Pasar sepeda motor listrik di Indonesia mulai memasuki fase komersialisasi. Hal ini membuat motor listrik tidak lagi semata diposisikan sebagai kendaraan pribadi, tetapi sebagai alat pendukung aktivitas ekonomi dan produktivitas usaha.
Pergeseran ini terlihat dari arah pengembangan produk dan strategi industri yang mulai menyasar kebutuhan usaha, logistik skala kecil, serta layanan berbasis aktivitas masyarakat.
Ketua Umum Asosiasi Industri Sepeda Motor Listrik Indonesia (Aismoli) Budi Setiyadi mengatakan, sejumlah produsen kini mengembangkan motor listrik dengan fungsi lebih luas dari sekadar alat transportasi harian. Menurutnya, fokus motor listrik saat ini telah bergeser ke pemanfaatan komersial yang mendukung kegiatan ekonomi masyarakat.
“Kalau sekarang yang sedang cukup gencar didiskusikan antar produsen, mereka akan mengembangkan sepeda motor listrik yang punya nilai manfaat tidak sebagai alat transportasi saja, tapi juga ada sebagai alat untuk kegiatan bisnis,” ujar Budi saat diwawancarai KabarBursa.com, Senin, 5 Januari 2026.
Budi menuturkan, pemanfaatan motor listrik mulai diarahkan untuk mendukung kegiatan usaha seperti pengangkutan barang, pengelolaan lingkungan, hingga aktivitas UMKM.
Beberapa contoh penggunaan yang mulai dilirik antara lain motor listrik untuk pengangkut sampah, kendaraan pendukung usaha jualan keliling, hingga distribusi barang skala mikro.
“(Motor listrik) mendukung kegiatan masyarakat seperti mungkin untuk mengangkut sampah-sampah dari lingkungan, kemudian untuk berjualan seperti UMKM. Atau seperti jualan kopi, dan kemudian berjualan sayuran,” kata dia.
Aismoli mencatat, pendekatan ini membuka peluang pasar baru yang tidak sepenuhnya bergantung pada daya beli individu. Segmen komersial dinilai lebih berbasis kebutuhan usaha dan efisiensi operasional, sehingga memiliki karakter permintaan yang berbeda dibanding pasar kendaraan pribadi.
Budi menilai, penggunaan motor listrik untuk kebutuhan usaha berpotensi memberikan efisiensi biaya operasional yang signifikan, terutama pada sektor logistik mikro dan kegiatan ekonomi harian masyarakat.
“Kelihatannya begitu, dan kita juga nanti akan komunikasi dengan pemerintah karena memang untuk tipe-tipe motor listrik ini kan butuh spesifikasi khusus,” ujarnya.
Ia mencontohkan, kebutuhan motor listrik untuk segmen tertentu memerlukan desain dan spesifikasi yang disesuaikan dengan fungsi usaha. Untuk kegiatan pengangkutan ikan, misalnya, dibutuhkan model dengan fasilitas pendingin. Sementara untuk pengelolaan sampah atau distribusi barang, diperlukan bak atau ruang angkut khusus.
“Mungkin untuk model bisnis seperti pengangkut ikan, kan mungkin butuh semacam model kulkas kayak gitu. Kemudian untuk pengangkut sampah kan mungkin barangkali butuh bak khusus dan sebagainya,” jelas Budi.
Kerja Sama dengan Industri Karoseri
Seiring dengan itu, Aismoli juga mencatat mulai adanya minat kerja sama antara produsen motor listrik dengan industri karoseri. Sejumlah pelaku karoseri disebut telah menghubungi asosiasi untuk menjajaki kolaborasi dengan pabrikan motor listrik, khususnya untuk pengembangan produk sesuai kebutuhan segmen komersial.
“Ada beberapa industri karoseri dari asosiasi karoseri membernya sudah menghubungi saya untuk bisa dihubungkan, bisa B2B dengan beberapa pabrikan sepeda motor listrik,” kata Budi.
Selain kolaborasi, beberapa produsen dalam negeri juga mulai melakukan riset dan pengembangan secara mandiri. Budi menyebut sejumlah merek telah mengembangkan produk khusus seperti becak listrik atau kendaraan multifungsi yang dirancang untuk mendukung aktivitas ekonomi masyarakat.
“Contoh becak listrik itu juga ada yang melakukan R&D sendiri. Misalnya merek Selis juga melakukan R&D, kemudian United juga demikian,” ujarnya.
Menurut Budi, arah pengembangan ini menunjukkan bahwa motor listrik tidak lagi hanya dilihat sebagai alternatif kendaraan ramah lingkungan, tetapi mulai diposisikan sebagai bagian dari ekosistem kegiatan ekonomi, terutama di sektor usaha kecil dan layanan berbasis komunitas.(*)