Logo
>

Nikel Kena Sentimen Buruk, Padahal Konsumsi Belum Turun

Saham nikel tertekan akibat perubahan asumsi teknologi baterai. Padahal, permintaan fisik masih ditopang oleh stainless steel dan belum anjlok signifikan.

Ditulis oleh Citra Dara Vresti Trisna
Nikel Kena Sentimen Buruk, Padahal Konsumsi Belum Turun
Ilustrasi industri nikel untuk keperluan kendaraan listrik. Foto: dok KabarBursa.com

Poin Penting :

    KABARBURSA.COM – Pergerakan pasar saham nikel menunjukkan bahwa perubahan asumsi teknologi baterai tercermin lebih cepat di valuasi dibanding realisasi permintaan fisik komoditasnya. Tekanan harga dan pelemahan saham terjadi saat konsumsi nikel global belum mengalami penurunan tajam.

    Sejak 2023, harga nikel acuan London Metal Exchange (LME) tercatat turun sekitar 40 persen dari level puncaknya. Pada periode yang sama, sejumlah saham emiten nikel ikut melemah, meskipun permintaan fisik, terutama dari sektor stainless steel, masih menjadi penopang utama konsumsi global.

    Pengamat Komoditas dan Founder Traderindo, Wahyu Tribowo Laksono, menilai perbedaan kecepatan ini merupakan karakter dasar pasar modal yang bersifat antisipatif.

    “Pasar saham selalu bersifat forward-looking. Valuasi biasanya terkoreksi begitu ‘asumsi pertumbuhan’ berubah, jauh sebelum permintaan fisik nikel benar-benar turun,” kata Wahyu kepada KabarBursa.com, Selasa, 6 Januari 2026.

    Ia menjelaskan, perubahan asumsi tersebut dipicu oleh pergeseran teknologi baterai global yang tidak lagi sepenuhnya bergantung pada nikel.

    Munculnya baterai berbasis LFP dan ion natrium mengubah ekspektasi jangka panjang terhadap pertumbuhan permintaan nikel kelas baterai, meskipun kontribusi fisiknya saat ini masih terbatas.

    Kondisi ini membuat pasar mulai menerapkan risk discount, terutama pada emiten nikel yang bergantung pada proyek jangka panjang dan belum beroperasi.

    “Paling sensitif adalah emiten berbasis proyek jangka panjang yang belum beroperasi, karena risikonya terkait perubahan asumsi harga jual di masa depan,” ujar Wahyu.

    Sebaliknya, emiten dengan arus kas berjalan dan biaya produksi rendah dinilai lebih mampu bertahan di tengah tekanan sentimen.

    “Emiten dengan biaya produksi rendah tetap bisa profit meskipun harga nikel tertekan ke level dasar,” katanya.

    Menurut Wahyu, pelemahan saham nikel di tengah belum runtuhnya permintaan fisik bukan anomali, melainkan refleksi cara pasar modal bekerja.

    “Pasar mulai menghapus scarcity premium pada nikel. Investor kini menuntut margin keamanan yang lebih tinggi karena ketidakpastian teknologi,” ujarnya.

    Dengan demikian, perubahan valuasi saham nikel saat ini lebih mencerminkan penyesuaian ekspektasi jangka panjang, bukan semata-mata kondisi permintaan dan produksi nikel yang terjadi saat ini.(*)

    Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

    Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

    Gabung Sekarang

    Jurnalis

    Citra Dara Vresti Trisna

    Citra Dara Vresti Trisna adalah Asisten Redaktur KabarBursa.com yang memiliki spesialisasi dalam analisis saham dan dinamika pasar modal. Dengan ketelitian analitis dan pemahaman mendalam terhadap tren keuangan, ia berperan penting dalam memastikan setiap publikasi redaksi memiliki akurasi data, konteks riset, dan relevansi tinggi bagi investor serta pembaca profesional. Gaya kerjanya terukur, berstandar tinggi, dan berorientasi pada kualitas jurnalistik berbasis fakta.