KABARBURSA.COM – Target penjualan mobil nasional pada 2026 dinilai lebih realistis jika ditempatkan sebagai fase pemulihan moderat, bukan lonjakan agresif. Setelah tiga tahun berturut-turut mengalami penurunan pascapuncak 2022, pasar otomotif Indonesia masih dibayangi tekanan daya beli, sensitivitas terhadap suku bunga, serta ketidakpastian kebijakan fiskal.
Pengamat otomotif Yannes Martinus Pasaribu menilai ekspektasi pertumbuhan penjualan mobil pada 2026 perlu dikelola secara hati-hati. “Target rasional sales mobil 2026 paling masuk akal kalau diposisikan sebagai pemulihan moderat, di mana sales akan terlihat datar atau bahkan sedikit turun dibandingkan akhir 2025, bukan lonjakan,” kata Yannes kepada KabarBursa.com, Jumat, 9 Januari 2026.
Mengacu data dari Gabungan Industrik Kendaraan Bermotor Indonesia (GAIKINDO) menunjukkan penjualan mobil nasional (wholesales) sempat mencapai 1.048.040 unit pada 2022, sebelum turun menjadi 1.005.802 unit pada 2023 dan kembali melemah ke 865.723 unit pada 2024.
Untuk 2025, angka setahun penuh tercatat 803.687 unit. Tren ini menegaskan bahwa pasar otomotif belum sepenuhnya keluar dari fase penyesuaian struktural setelah pemulihan pascapandemi.
Menurut Yannes, tekanan masih terasa pada paruh pertama 2026. “Artinya semester I masih cenderung berat karena pasar perlu waktu menyesuaikan harga on-the-road pascapencabutan insentif impor dan konsumen masih wait-and-see,” katanya.
Sensitivitas permintaan terhadap bunga kredit, inflasi biaya hidup, dan nilai tukar rupiah membuat pemulihan diperkirakan berlangsung bertahap.
Dalam skenario tengah yang dinilai realistis, Yannes memperkirakan penjualan mobil 2026 berada di kisaran 830.000–870.000 unit, dengan titik tengah sekitar 850.000 unit.
Proyeksi ini didasarkan pada asumsi tidak adanya guncangan makroekonomi besar dan kebijakan fiskal yang lebih pasti dibandingkan 2025. “Dari basis 2025 yang diperkirakan hanya mencapai di sekitar 780 ribu unit, skenario tengah yg realistis ada di kisaran 830.000–870.000 unit,” ujarnya.
Konteks makroekonomi memberikan ruang pemulihan terbatas. Pemerintah dalam RAPBN 2026 menetapkan asumsi pertumbuhan ekonomi di kisaran 5,2–5,8 persen, dengan target 5,4 persen.
Bank Indonesia memprakirakan pertumbuhan ekonomi 2026 berada pada rentang 4,9–5,7 persen, sementara Bank Dunia dan IMF memproyeksikan pertumbuhan sekitar 5 persen.
Namun, pertumbuhan tersebut dinilai belum otomatis mendorong lonjakan permintaan kendaraan, mengingat struktur pembelian mobil sangat bergantung pada pembiayaan.
Di sisi moneter, pelonggaran suku bunga mulai terlihat pada 2025. BI 7-Day Reverse Repo Rate turun bertahap dari 5,75 persen pada April 2025 menjadi 4,75 persen pada akhir 2025. Meski demikian, dampaknya ke cicilan kredit kendaraan diperkirakan tidak instan, karena transmisi ke bunga kredit konsumsi membutuhkan waktu.
Yannes melihat peluang perbaikan mulai terbuka pada paruh kedua 2026. “Lalu semester II berpotensi rebound terbatas karena suplai EV yang lebih terjangkau mulai masuk dari pemain yqng sudah produksi/merakit lokal dan memenuhi TKDN,” ujarnya.
Masuknya kendaraan listrik berbiaya lebih rendah dari pabrikan yang telah memproduksi secara lokal dinilai dapat menahan kontraksi pasar sekaligus membentuk titik keseimbangan baru.
Dengan latar belakang historis penjualan yang menunjukkan fluktuasi tajam saat krisis dan pemulihan bertahap setelahnya, pasar otomotif Indonesia pada 2026 diperkirakan bergerak dalam fase konsolidasi.
Fokus kebijakan pada kepastian fiskal, stabilitas makro, dan keterjangkauan kredit dinilai menjadi faktor kunci agar pemulihan moderat tersebut dapat terwujud tanpa kembali menekan daya beli konsumen.(*)