KABARBURSA.COM – Produsen mobil China pasang target penjualan yang ambisius pada 2026. Ironisnya, target ini ditetapkan ketika pasar domestik nyaris stagnan.
CarNewsChina melaporkan, proyeksi pertumbuhan ritel mobil penumpang hanya sekitar 1 persen atau 24 juta unit. Tekanan industri bergeser dari sekadar mengejar volume ke kemampuan menjaga keberlanjutan kinerja keuangan.
Asosiasi Informasi Pasar Mobil Penumpang mencatat penetrasi kendaraan energi baru (NEV) diperkirakan mencapai 61 persen pada 2026, naik tipis 0,6 poin persentase dari tahun sebelumnya.
Namun, pertumbuhan pasar yang terbatas ini kontras dengan target ekspansi penjualan yang ditetapkan banyak produsen, terutama perusahaan rintisan kendaraan listrik dan perusahaan teknologi yang masuk ke sektor otomotif.
Di segmen produsen tradisional, sebagian besar grup otomotif memilih target pertumbuhan yang lebih moderat di kisaran 10–15 persen. Geely Automobile menargetkan penjualan 3,45 juta unit pada 2026, naik sekitar 14 persen dari capaian 2025, dengan kendaraan energi baru dipatok mencapai 2,22 juta unit.
Changan Automobile membidik penjualan 3,3 juta unit, sementara Chery Group menargetkan 3,2 juta unit dan Dongfeng Group menetapkan sasaran 3,25 juta unit, termasuk 1,7 juta kendaraan energi baru.
Sebaliknya, perusahaan rintisan EV menetapkan target pertumbuhan yang jauh lebih agresif. Leapmotor menargetkan penjualan 1 juta unit pada 2026, setelah mengirimkan 596.600 kendaraan pada 2025. Xiaomi Automobile, yang pada 2025 mengirimkan lebih dari 410.000 unit, menetapkan target 550.000 unit pada 2026.
Nio mengusulkan tingkat pertumbuhan penjualan tahunan 40-50 persen dengan target antara 456.000 hingga 489.000 unit.
Perbedaan target tersebut muncul ketika kapasitas produksi industri terus meningkat, sementara permintaan pasar domestik hanya tumbuh marginal. Dalam kondisi ini, persaingan pada 2026 diperkirakan semakin ketat, baik bagi produsen yang mengusung target konservatif maupun agresif.
Perusahaan konsultan Roland Berger, yang dikutip surat kabar Tiongkok NBD, mencatat bahwa dibandingkan pasar negara maju—di mana 10 produsen teratas biasanya menguasai lebih dari 90% pangsa pasar—industri otomotif Tiongkok masih memiliki ruang besar untuk konsolidasi.
Meskipun eliminasi pemain yang lebih lemah terus berlangsung, restrukturisasi industri berpotensi menjadi proses yang berkepanjangan.
Dengan latar belakang pertumbuhan pasar yang terbatas, target penjualan yang tinggi menempatkan tantangan tambahan bagi pelaku industri, terutama dalam menjaga struktur biaya dan keberlanjutan operasi.
Persaingan di pasar otomotif domestik China pada 2026 diperkirakan tidak hanya ditentukan oleh capaian volume penjualan, tetapi juga oleh ketahanan finansial masing-masing produsen di tengah tekanan pasar yang semakin ketat.(*)