KABARBURSA.COM – Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) melaporkan bauran EBT mencapai 15,75 persen dengan total kapasitas terpasang sebesar 15.630 megawatt (MW), tertinggi dalam lima tahun terakhir.
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia mengatakan, capaian tersebut diraih di tengah dinamika dan tantangan yang dihadapi sektor energi nasional sepanjang 2025.
Dalam konteks pemerataan akses energi, Bahlil menegaskan bahwa pemerintah juga menempatkan kehadiran listrik sebagai bagian dari tanggung jawab sosial negara.
“Arahan dari Bapak Presiden Prabowo, bahwa sampai dengan 2029-2030, semua desa-desa atau dusun-dusun yang jumlahnya 5.700 dan 4.400, harus semua listriknya sudah ada. Kehadiran listrik itu sebagai bentuk kehadiran sosial, dan negara harus hadir,” tegas Bahlil.
Selain peningkatan bauran EBT, pemerintah mendorong transisi energi melalui kebijakan bahan bakar nabati, salah satunya implementasi mandatori B40.
Sepanjang Januari hingga Desember 2025, pemanfaatan biodiesel domestik tercatat mencapai 14,2 juta kiloliter atau setara 105,2 persen dari target, yang diklaim mampu menekan impor solar serta meningkatkan nilai tambah minyak sawit mentah.
Namun, peningkatan kapasitas dan kebijakan tersebut belum sepenuhnya tercermin pada tingkat adopsi di masyarakat. Data penjualan kendaraan listrik menunjukkan pertumbuhan, tetapi porsinya masih relatif kecil dibandingkan total penjualan kendaraan nasional.
Hingga November 2025, penjualan mobil listrik secara wholesales tercatat sekitar 82 ribu unit dari total penjualan kendaraan yang mencapai lebih dari 700 ribu unit. Di sisi infrastruktur, jumlah stasiun pengisian kendaraan listrik umum (SPKLU) juga masih terkonsentrasi di wilayah tertentu, terutama di Pulau Jawa.
Pengamat mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, menuturkan bahwa kenaikan bauran EBT lebih banyak ditopang oleh pembangunan proyek dan kapasitas pembangkit, sementara adopsi di tingkat konsumsi masih menghadapi kendala harga dan infrastruktur.
Menurutnya, transisi energi di sektor transportasi, khususnya kendaraan listrik, belum berjalan merata karena daya beli dan kesiapan fasilitas pendukung belum seimbang dengan target yang dicanangkan pemerintah.
Ibrahim menyebut mahalnya harga kendaraan listrik menjadi salah satu faktor utama yang membatasi adopsi di masyarakat.
“Produksi sedikit, dia membuat harga mahal sehingga masyarakat tidak bisa melakukan pembelian. Hanya orang-orang tertentu saja yang bisa membeli mobil listrik, ya karena misal harga yang bagus 500 juta,” ujar Ibrahim kepada KabarBursa.com, Rabu, 14 Januari 2025.
Ia juga menyoroti penjualan kendaraan listrik di Indonesia yang belum signifikan. “Dalam satu bulan cuma 7 ribu unit, maksimal 9 ribu penjualan,” ujarnya.
Lebih jauh, Ibrahim menilai keterbatasan infrastruktur pengisian daya serta kekhawatiran konsumen terhadap jarak tempuh masih menjadi hambatan, sehingga masyarakat cenderung bertahan menggunakan kendaraan berbahan bakar fosil meski insentif telah diberikan.
Pemerintah menilai peningkatan bauran EBT dan kapasitas terpasang sebagai fondasi penting dalam transisi energi jangka menengah.
Namun, data adopsi dan pandangan pengamat menunjukkan bahwa tantangan berikutnya terletak pada pemerataan pemanfaatan EBT di tingkat konsumsi, seiring upaya negara memperluas akses energi hingga ke wilayah paling dasar.(*)