Logo
>

Pengamat: Struktur Biaya EV Bakal Ambruk karena Baterai Na-ion

Baterai Na-ion dari CATL berpotensi mengubah struktur biaya EV secara global, membuat mobil listrik lebih murah dan mempercepat akhir era mobil berbahan bakar.

Ditulis oleh Harun Rasyid
Pengamat: Struktur Biaya EV Bakal Ambruk karena Baterai Na-ion
Ilustrasi salah satu pabrik baterai di China. Foto: dok KabarBursa.com

Poin Penting :

    KABARBURSA.COM – Pengembangan baterai natrium-ion (Na-ion) oleh Contemporary Amperex Technology Co., Ltd. (CATL) mulai dibaca sebagai titik balik struktural bagi industri otomotif global.

    Bukan lagi soal harga jual kendaraan listrik (EV) di tingkat konsumen, teknologi ini dinilai berpotensi meruntuhkan “dinding baterai mahal” yang selama ini membentuk struktur biaya produsen mobil dan peta persaingan industri.

    Pengamat otomotif Yannes Martinus Pasaribu menilai, jika Na-ion CATL Naxtra benar-benar diluncurkan sesuai spesifikasi yang disampaikan, pusat biaya EV akan bergeser dari dominasi harga baterai ke efisiensi manufaktur.

    Menurutnya, selama ini baterai menjadi komponen paling mahal yang membatasi skala produksi dan menahan daya saing EV terhadap kendaraan bermesin pembakaran internal (ICE).

    “Secara fundamental, CATL Naxtra bakal hadir dengan harga lebih murah, kualitas lebih unggul di kondisi ekstrem, serta keamanan lebih tinggi dibanding LFP dan NMC,” kata Yannes kepada KabarBursa.com, Selasa, 30 Desember 2025.

    Ia menjelaskan, harga sel baterai Na-ion diproyeksikan berada di bawah USD19 per kWh, jauh di bawah baterai lithium iron phosphate (LFP) dan nickel manganese cobalt (NMC).

    Struktur biaya ini, kata Yannes, membuat produsen kendaraan tidak lagi terbebani komponen baterai sebagai penentu utama harga pokok produksi EV.

    “EV yang pakai baterai Na-ion CATL Naxtra bakal punya harga beli (CAPEX) yang jauh lebih kompetitif karena biaya produksi selnya rendah,” ujarnya.

    Perubahan struktur biaya tersebut dinilai berdampak langsung pada lanskap industri. Dengan biaya baterai yang lebih rendah, produsen dapat menekan total ongkos produksi tanpa mengandalkan subsidi, sekaligus mempercepat pergeseran dari ICE ke EV.

    Dalam konteks ini, EV tidak lagi diposisikan sebagai produk premium, melainkan sebagai kendaraan massal dengan struktur biaya yang semakin rasional.

    Yannes juga menyinggung implikasi lanjutan terhadap segmen kendaraan elektrifikasi lain, seperti hybrid electric vehicle (HEV) dan plug-in hybrid electric vehicle (PHEV).

    Menurutnya, keunggulan biaya dan umur pakai baterai Na-ion berpotensi memangkas relevansi teknologi transisi tersebut dalam struktur industri ke depan.

    “Ini menjadi solusi atas mahalnya komponen baterai pada sebuah EV dan menyelesaikan dilema keterbatasan bahan baku lithium, mangan, dan nikel,” kata Yannes.

    Dari sisi rantai pasok, penggunaan natrium yang lebih melimpah dibanding lithium dan nikel dinilai ikut mengubah peta ketergantungan bahan baku industri baterai.

    Dengan daya tahan baterai yang diklaim mencapai 10.000 siklus, produsen juga berhadapan dengan umur pakai kendaraan listrik yang lebih panjang, sehingga memengaruhi perhitungan investasi, perencanaan produksi, dan strategi model bisnis jangka panjang.

    “Jika Naxtra benar-benar dilaunch sesuai spec yang disampaikan oleh CATL, bisa jadi 2026 akan jadi titik balik otomotif global,” ujar Yannes.

    Dalam konteks tersebut, kemunculan baterai Na-ion tidak hanya dibaca sebagai inovasi teknologi, tetapi sebagai faktor yang berpotensi mengubah struktur industri otomotif, mulai dari komposisi biaya produksi, persaingan antara ICE dan EV, hingga arah pengembangan rantai pasok global di masa depan.(*)

    Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

    Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

    Gabung Sekarang

    Jurnalis

    Harun Rasyid

    Harun Rasyid adalah jurnalis KabarBursa.com yang fokus pada liputan pasar modal, sektor komersial, dan industri otomotif. Berbekal pengalaman peliputan ekonomi dan bisnis, ia mengolah data dan regulasi menjadi laporan faktual yang mendukung pengambilan keputusan pelaku pasar dan investor. Gaya penulisan lugas, berbasis riset, dan memenuhi standar etika jurnalistik.