KABARBURSA.COM – Pelemahan penjualan mobil nasional sepanjang 2025 kian menegaskan tingginya sensitivitas pasar otomotif terhadap bunga kredit, terutama di segmen entry level yang bergantung pada pembiayaan.
Data otoritas keuangan menunjukkan pembelian kendaraan bermotor masih didominasi skema kredit, sementara tekanan suku bunga dan inflasi membuat cicilan semakin terasa berat bagi konsumen kelas menengah.
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat outstanding pembiayaan kendaraan bermotor roda empat per Oktober 2024 mencapai Rp298,30 triliun atau sekitar 56,39 persen dari total pembiayaan kendaraan bermotor.
Pada posisi akhir Desember 2024, total piutang pembiayaan kendaraan bermotor (roda dua dan roda empat, baru dan bekas) tercatat Rp350.135,42 miliar, naik 7,87 persen dibandingkan Desember 2023. Dari jumlah tersebut, pembiayaan roda empat mencapai Rp237.556,60 miliar.
Di sisi suku bunga, data Bank Indonesia menunjukkan tren kenaikan bunga pinjaman konsumsi—yang kerap dijadikan proksi kredit kendaraan bermotor—dari 10,13 persen pada Desember 2023 menjadi 10,36 persen pada Desember 2024. Sepanjang Januari–November 2025, rata-rata bunga pinjaman konsumsi berada di kisaran 10,46 persen per tahun.
Pengamat otomotif Yannes Martinus Pasaribu menegaskan tekanan bunga kredit berdampak langsung pada keputusan pembelian mobil, mengingat ketergantungan pasar terhadap pembiayaan masih sangat tinggi.
“Anjloknya sales mobil pada 2025 itu sangat related dengan susutnya daya beli middle class, ketika harga kebutuhan pokok naik dan suku bunga acuan masih tinggi, banyak keluarga middle class (terutama yg aspiratif/berpotensi kuat untuk naik kelas secara sosial dan ekonomi) terpaksa memindahkan uang dari belanja barang tahan lama seperti mobil ke kebutuhan primer dan dana darurat.”
Ia menambahkan, data juga menunjukkan middle class menyusut 16,6 persen dari 57,33 juta jiwa (2019) jadi 47,85 juta jiwa (2024). Sementara sekitar 80 persem pembelian mobil bergantung kredit. Jadi bunga yqng tinggi langsung membuat cicilan terasa berat.
Secara mekanis, kenaikan bunga kredit berdampak langsung pada cicilan bulanan. Dengan asumsi harga mobil entry level Rp250 juta, uang muka 20 persen, tenor 60 bulan, dan skema anuitas, cicilan pada bunga 10 persen berada di kisaran Rp4,25 juta per bulan.
Kenaikan bunga 25 basis poin meningkatkan cicilan sekitar Rp24 ribu per bulan, sementara kenaikan 100 basis poin menambah beban hampir Rp100 ribu per bulan. Mengacu pada bunga pinjaman konsumsi BI, cicilan pada Desember 2023 berada di kisaran Rp4,26 juta per bulan dan meningkat mendekati Rp4,29 juta per bulan pada rata-rata 2025.
Tekanan tersebut paling terasa di segmen mobil terjangkau. Yannes mengungkapkan, dampak yang paling terasa di segmen entry level.
“Penjualan LCGC turun 28,7 persen yoy karena harga naik jauh dari sekitar Rp80 juta di 2013 jadi Rp138-200 jutaan saat ini,” ujarnya.
Lebih lanjut, Ia juga menyoroti biaya kepemilikan lain seperti pajak, bunga kredit, dan depresiasi yang ikut menekan daya beli.
Kondisi ini memperlihatkan bahwa stabilitas suku bunga dan relaksasi kredit menjadi faktor krusial dalam pemulihan pasar otomotif, khususnya bagi segmen yang selama ini menjadi tulang punggung volume penjualan nasional.(*)