KABARBURSA.COM - Pasar otomotif China membuka awal 2026 dengan tekanan signifikan. Penjualan mobil penumpang secara ritel maupun grosir tercatat melemah. Penurunan penjualan otomotif, memaksa produsen besar seperti BYD menggenjot strategi pembiayaan berbunga rendah untuk memperbaiki permintaan.
Mengutip media China IT-Home, pada 25 Februari 2026 unit Ocean Network BYD meluncurkan program kredit dengan tenor atau periode cicilan hingga tujuh tahun. Kredit mobil tujuh tahun tersebut, bisa tanpa uang muka (DP) dan dengan cicilan harian mulai 29 yuan atau sekitar Rp71 ribuan.
Skema kredit mobil BYD ini berlaku hingga 31 Maret 2026 dan berlaku untuk model populer seperti Seal, Sealion, Dolphin, dan Seagull.
Langkah serupa sebelumnya juga ditempuh oleh pabrikan lain seperti Tesla, Xiaomi, Nio, serta merek-merek afiliasi Geely. Beberapa merek mobil tersebut menawarkan promo pembiayaan secara agresif karena anjloknya penjualan pada Januari 2026.
Menurut data China Passenger Car Association (CPCA), penjualan ritel mobil penumpang China per Januari 2026 turun 13,9 persen secara tahunan menjadi sekitar 1,54 juta unit.
Penjualan kendaraan energi baru (NEV) yang mencakup mobil listrik, PHEV, dan elektrifikasi lainnya terhitung anjlok 20 persen, dengan tingkat penetrasi turun ke kisaran 38 persen.
Pada penjualan grosir (dari pabrik ke dealer), volume NEV memang masih tumbuh tipis 1 persen secara tahunan menjadi sekitar 900.000 unit, namun jatuh 42 persen dibanding Desember 2025.
Koreksi tajam ini mencerminkan normalisasi pasar setelah berakhirnya insentif pajak pembelian NEV penuh pada akhir 2025. Tekanan juga dirasakan produsen besar. Penjualan grosir BYD pada Januari tercatat sekitar 205.500 unit, turun hampir 30 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Sebaliknya, pemain baru seperti Xiaomi EV dan Leapmotor masih mencatat pertumbuhan pengiriman tahunan, menandai pergeseran dinamika kompetisi di pasar kendaraan listrik China.
Analis di China menilai pelemahan awal tahun dipicu kombinasi faktor musiman Tahun Baru Imlek, berakhirnya stimulus pajak, serta efek basis produksi yang tinggi akibat lonjakan pembelian pada Desember 2025.(*)