KABARBURSA.COM - BYD menghadapi tekanan berat di pasar otomotif Tiongkok setelah kembali mencatat penurunan penjualan bulanan. Penurunan penjualan BYD menandai tren pelemahan terpanjang dalam sejarah perusahaan.
Berdasarkan perhitungan Reuters dari data yang diunggah General Manager of the Brand and Public Relations Division BYD Group, Li Yunfei di Weibo, penjualan BYD pada April 2026 dilaporkan turun sebesar 15,5 persen secara tahunan (YoY).
Penurunan penjualan BYD kali ini, memperpanjang tren negatif menjadi delapan bulan berturut-turut. Hal ini juga melampaui rekor sebelumnya selama enam bulan usai pencabutan subsidi kendaraan listrik di China pada Desember 2019.
Melemahnya permintaan kendaraan di China juga membuat kinerja BYD terus tergerus, meskipun penurunan sepanjang April tidak sedalam kontraksi sebesar 41,1 persen pada Februari.
Secara keseluruhan, penjualan perusahaan pada bulan sebelumnya tercatat turun 20,5 persen menjadi 300.222 unit.
Pada kuartal pertama 2026, penjualan BYD bahkan anjlok 30 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Persaingan ketat di pasar kendaraan listrik China turut mempersempit ruang gerak perusahaan. Sejumlah pemain seperti Leapmotor dan Geely terus memperkecil kesenjangan teknologi. Sehingga ketatnya persaingan antar merek mobil China ini menggerus dominasi BYD.
Meski sempat menjadi produsen mobil terbesar di China pada 2025, posisi BYD merosot ke peringkat keempat pada Januari–Februari 2026. Kinerja tersebut menjadi penurunan terdalam BYD sejak pandemi Covid-19.
Lebih lanjut, kinerja keuangan perusahaan ikut terdampak. BYD membukukan laba bersih sebesar 32,6 miliar yuan sepanjang 2025, turun 19 persen secara tahunan dan lebih dalam dari ekspektasi analis sebesar 12,1 persen.
Hal tersebut merupakan penurunan laba tahunan pertama BYD dalam empat tahun terakhir. Pertumbuhan pendapatan juga melambat ke level 3,5 persen atau yang terendah dalam enam tahun.
Pada kuartal empat, laba BYD dilaporkan anjlok sedalam 38,2 persen menjadi 9,3 miliar yuan atau lebih dari USD1,36 juta. BYD juga mencatat penurunan laba selama tiga kuartal berturut-turut.
Margin keuntungan BYD turut tertekan akibat perang harga di pasar kendaraan listrik China. Margin laba kotor segmen otomotif turun menjadi 20,5 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Untuk meredam tekanan, BYD melakukan efisiensi, termasuk memangkas jumlah karyawan sebesar 10,2 persen menjadi 869.622 orang pada akhir 2025. Di tengah pelemahan pasar domestik, BYD mulai mengandalkan pasar global.
Hasil penjualan ke luar negeri dari produsen asal Shenzen, China ini tumbuh 35 persen menjadi 130.000 unit pada April 2026.
Kontribusi pasar internasional pun semakin signifikan. Pangsa penjualan BYD ke luar China naik lebih dari dua kali lipat menjadi 22,7 persen sepanjang 2025, dan bahkan menyentuh 50 persen dalam dua bulan pertama 2026.
Manajemen BYD menyatakan tetap optimistis terhadap ekspansi global. Dalam paparan kinerja, perusahaan sangat yakin dapat mencapai target penjualan ke luar negeri sebesar 1,5 juta unit pada 2026.
Sebagai bagian dari strategi tersebut, BYD juga memperluas kapasitas produksi global. Pabrik di Eropa dan Indonesia ditargetkan mulai produksi massal pada Maret–April 2026.
Meski demikian, analis di China menilai bahwa prospek jangka pendek masih menantang. Kombinasi lemahnya permintaan domestik China dan persaingan ketat diperkirakan terus menekan margin serta kinerja penjualan BYD dalam waktu dekat.(*)