KABARBURSA.COM – Penerapan standar nasional wajib konsumsi energi untuk kendaraan penumpang listrik murni di China mulai 1 Januari 2026 tidak hanya mengubah parameter teknis industri kendaraan listrik, tetapi juga berfungsi sebagai alat penyaringan pasar.
Melalui standar ini, model-model kendaraan listrik yang tidak efisien berisiko tersingkir dari pasar, terutama kendaraan berbobot besar, SUV listrik, serta varian lama yang tidak memenuhi ambang batas konsumsi energi terbaru.
Standar tersebut menggantikan kerangka rekomendasi sebelumnya dan memiliki kekuatan hukum langsung terhadap kendaraan yang baru diproduksi.
Dengan karakter mengikat, aturan ini menentukan apakah suatu model masih dapat diproduksi dan dipasarkan, atau justru harus ditingkatkan secara teknis agar tetap memenuhi persyaratan yang berlaku.
Fungsi penyaringan pasar semakin kuat karena standar konsumsi energi ini terhubung langsung dengan kebijakan fiskal. Otoritas Tiongkok menetapkan bahwa hanya kendaraan penumpang listrik murni yang memenuhi batas konsumsi energi wajib yang berhak atas pembebasan pajak pembelian pada 2026 dan 2027.
Model yang gagal memenuhi persyaratan tersebut berpotensi dikeluarkan dari katalog pembebasan pajak, sehingga kehilangan daya saing harga di pasar.
Dalam kerangka ini, standar konsumsi energi tidak bekerja sebagai larangan eksplisit, melainkan sebagai mekanisme seleksi.
Kendaraan yang tidak memenuhi ambang batas tetap dapat ada secara teknis, tetapi tidak lagi memperoleh dukungan fiskal, sehingga secara praktis menghadapi tekanan pasar yang lebih besar.
Regulasi ini menetapkan batas konsumsi listrik maksimum yang dibedakan berdasarkan berat kosong kendaraan dan karakteristik teknisnya. Untuk kendaraan listrik murni dengan berat sekitar dua ton, konsumsi listrik maksimum ditetapkan sebesar 15,1 kilowatt-jam per 100 kilometer.
Regulator menyatakan bahwa setelah peningkatan teknis, kendaraan dengan kapasitas baterai yang sama diharapkan mengalami peningkatan jarak tempuh rata-rata sekitar 7 persen akibat penurunan konsumsi energi.
Kondisi tersebut menempatkan kendaraan listrik berbobot besar dan model berbasis platform lama sebagai kelompok yang paling terdampak. Model-model ini memerlukan peningkatan teknis agar tetap memenuhi standar, sementara sebagian lainnya berisiko dihentikan produksinya apabila penyesuaian tidak dilakukan.
Bagi produsen besar Tiongkok seperti BYD dan Geely, standar baru ini mengukuhkan ambang efisiensi yang telah dipenuhi oleh banyak model penumpang listrik murni terbaru mereka.
Kendaraan yang telah memenuhi persyaratan dapat melanjutkan produksi dengan perubahan minimal, sementara model yang belum memenuhi standar harus ditingkatkan atau dikeluarkan dari daftar kendaraan yang memenuhi syarat pembebasan pajak pembelian.
Dengan diberlakukannya standar ini secara nasional, struktur pasar kendaraan listrik di China berpotensi mengalami penyesuaian. Melalui mekanisme efisiensi energi dan insentif fiskal, regulasi tersebut secara bertahap menyaring model kendaraan yang beredar, mempersempit ruang bagi kendaraan listrik yang kurang efisien untuk tetap bertahan di pasar.(*)