KABARBURSA.COM – PT BSA Logistics Indonesia Tbk (WBSA) tiba-tiba masuk radar pengawasan pasar setelah Bursa Efek Indonesia (BEI) dan Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) menerbitkan surat pengumuman kepemilikan saham terkonsentrasi tinggi (high shareholding concentration).
Dalam surat bernomor Peng-00010-HSC/BEI.WAS/05-2026 tertanggal 8 Mei 2026, BEI dan KSEI menyebut sebanyak 95,82 persen saham WBSA kini dikuasai oleh sejumlah pihak tertentu secara agregat. Artinya, saham yang benar-benar beredar bebas di pasar sangat tipis.
Surat itu memang tidak otomatis menunjukkan adanya pelanggaran pasar modal. Namun, dalam praktiknya, status kepemilikan sangat terkonsentrasi biasanya langsung membuat pasar lebih sensitif terhadap volatilitas harga, karena ruang transaksi publik menjadi sempit.
Volatilitas Saham Sangat Tinggi
Dan, memang seperti itu yang terjadi. Dalam empat perdagangan terakhir (periode 5 hingga 8 Mei 2026), saham WBSA bergerak sangat agresif dengan pola naik-turun ekstrem. Pada 5 Mei 2026, saham ini naik 9,77 persen ke level 1.460. Sehari setelahnya, WBSA kembali melesat 9,93 persen ke 1.605 disertai net foreign buy Rp44,46 miliar.
Namun reli tersebut tidak bertahan lama. Pada 7 Mei 2026, saham WBSA langsung berbalik jatuh 9,97 persen ke level 1.445 dengan tekanan foreign sell Rp1,34 miliar. Koreksi bahkan berlanjut lebih dalam pada 8 Mei 2026 ketika saham kembali anjlok 9,69 persen ke level 1.305.
Yang menarik, di tengah penurunan tajam itu justru muncul foreign buy Rp39,15 miliar pada perdagangan 8 Mei. Aktivitas tersebut membuat pergerakan WBSA terlihat sangat tidak biasa karena harga jatuh dalam kondisi akumulasi asing masih tercatat masuk.
Nilai transaksi saham ini juga melonjak tajam. Pada 6 Mei, nilai transaksi WBSA mencapai Rp64,03 miliar dengan volume hampir 399 juta saham. Meski kemudian terkoreksi, transaksi pada 7–8 Mei masih tetap besar di kisaran Rp49 miliar dan Rp9 miliar.
Volatilitas tersebut muncul ketika struktur saham WBSA memang sedang sangat ketat. Berdasarkan surat KSEI, hanya sekitar 4,18 persen saham yang benar-benar tersebar di publik, sementara sisanya berada dalam penguasaan kelompok tertentu.
Struktur Kepemilikan Berubah Total
Cerita WBSA sendiri cukup menarik karena struktur kepemilikannya sudah berubah total dibanding awal pendirian perusahaan.
Saat pertama kali berdiri pada Maret 2021, komposisi pemegang saham BSA Logistics terdiri dari Tiga Beruang Kalifornia Pte. Ltd. sebesar 70 persen dan PT Bina Sinar Amity sebesar 30 persen.
Namun struktur tersebut berubah drastis pada 2022. Tiga Beruang Kalifornia meningkatkan kepemilikan menjadi 92,5 persen, sementara porsi PT Bina Sinar Amity terdilusi menjadi 7,5 persen sebelum akhirnya keluar sepenuhnya dari struktur pemegang saham.
Perubahan itu membuat Grup Sinarmas tidak lagi memiliki kepemilikan langsung di WBSA. Dalam prospektus e-IPO, perseroan bahkan secara tegas menyatakan tidak memiliki hubungan afiliasi dengan entitas yang terafiliasi Grup Sinarmas.
Meski begitu, hubungan bisnis antara keduanya masih berjalan melalui kerja sama operasional seperti jasa freight forwarding, kepabeanan, dukungan tenaga kerja, hingga penyewaan lahan logistik.
WBSA juga tercatat memberikan fasilitas pinjaman kepada BSA dengan plafon hingga Rp35 miliar dan bunga 8 persen per tahun. Sampai September 2025, fasilitas tersebut sudah menghasilkan pendapatan bunga bagi perusahaan.
Saat ini kendali utama WBSA berada di tangan Tiga Beruang Kalifornia Ltd., entitas yang terafiliasi dengan Waresix, startup logistik berbasis Singapura.
Nama Andree Susanto dan Edwin Wibowo tercatat sebagai ultimate beneficial owner (UBO) perusahaan. Struktur ini membuat WBSA lebih dekat dengan ekosistem logistik berbasis teknologi dibanding model konglomerasi logistik konvensional.
Profil Singkat WBSA
WBSA sendiri masuk bursa melalui IPO dengan menawarkan sekitar 1,8 miliar saham baru atau setara 20,75 persen modal ditempatkan dan disetor penuh. Kisaran harga IPO berada di level Rp150 hingga Rp170 per saham dengan potensi dana maksimal sekitar Rp306 miliar.
Dari sisi bisnis, WBSA bergerak di sektor logistik terintegrasi berbasis B2B dengan layanan yang mencakup distribusi, pergudangan, freight forwarding, dan rantai pasok.
Namun kini perhatian pasar bukan lagi semata soal model bisnisnya, melainkan struktur sahamnya yang mulai menjadi sorotan regulator.
Karena ketika lebih dari 95 persen saham berada di tangan kelompok tertentu, ruang gerak pasar publik menjadi sangat sempit. Dan dalam kondisi seperti itu, volatilitas harga biasanya menjadi jauh lebih sensitif dibanding saham dengan distribusi publik yang lebih lebar.(*)