KABARBURSA.COM – Saham PT Indosat Tbk (ISAT) mulai bergerak liar menjelang cum date dividen tunai Rp111 per saham yang dijadwalkan pada 13 Mei 2026. Dalam sepekan terakhir, saham ini bukan hanya mencuri perhatian karena kenaikan harga yang agresif, tetapi juga karena arus dana asing yang tiba-tiba membesar di pasar reguler.
Pergerakan ISAT sebenarnya mulai berubah sejak awal Mei. Pada 4 Mei 2026, saham ini masih berada di level 2.080. Namun hanya dalam empat hari perdagangan, harga langsung melesat hingga 2.240 pada 8 Mei 2026 atau naik sekitar 7,69 persen dalam waktu singkat.
Yang menarik, kenaikan tersebut tidak datang dalam kondisi pasar sepi. Nilai transaksi harian ISAT justru membesar secara konsisten dan menunjukkan adanya aktivitas akumulasi yang cukup agresif.
Pada 4 Mei, nilai transaksi tercatat Rp33,23 miliar dengan net foreign buy mencapai Rp21,43 miliar. Arus dana asing tersebut menjadi salah satu yang terbesar dalam beberapa pekan terakhir dan langsung diikuti kenaikan harga sebesar 4,26 persen.
Aksi beli asing ternyata belum berhenti. Pada 5 Mei, ISAT kembali mencatat net foreign buy Rp2,87 miliar ketika harga naik ke 2.110. Sehari berikutnya, aliran dana asing justru makin besar dengan net buy Rp10,26 miliar di tengah kenaikan harga menuju 2.130.
Momentum paling agresif muncul pada 7 dan 8 Mei. Pada 7 Mei, investor asing memborong saham ISAT senilai Rp25,09 miliar dan hanya melepas Rp15,50 miliar, menghasilkan net foreign buy Rp9,59 miliar. Harga saham pun naik lagi ke level 2.150.
Lalu pada 8 Mei, pasar seperti benar-benar memutar fokus ke ISAT. Nilai transaksi melonjak menjadi Rp41,71 miliar dengan volume mencapai 185,77 ribu lot dan frekuensi transaksi 6,85 ribu kali. Asing kembali mencatat net buy besar Rp11,64 miliar dan harga saham langsung ditutup melonjak 4,19 persen ke level 2.240.
Kenaikan tersebut membuat ISAT sempat menyentuh area tertinggi 2.320 sebelum akhirnya sedikit terkoreksi pada perdagangan 11 Mei 2026. Pada sesi itu, saham turun 3,57 persen ke level 2.160 setelah sebelumnya dibuka tinggi di 2.250.
Tekanan tersebut mulai dibaca pasar sebagai fase normal menjelang cum date. Dalam pola perdagangan saham dividen, kondisi seperti ini cukup sering terjadi ketika trader jangka pendek mulai melakukan profit taking setelah reli cepat beberapa hari sebelumnya.
Meski begitu, secara keseluruhan ritme transaksi ISAT masih menunjukkan bahwa saham ini sedang aktif diputar pasar.
Dividen History
Berbicara tentang dividen Rp111 per saham yang dibagikan ISAT tahun ini, menjadi salah satu faktor penting yang menjaga perhatian pasar tetap tinggi. Cum date dijadwalkan pada 13 Mei 2026, sementara ex date berada pada 18 Mei 2026. Adapun recording date jatuh pada 19 Mei dan pembayaran dividen akan dilakukan pada 5 Juni 2026.
Jika melihat sejarahnya, ISAT memang termasuk salah satu emiten yang cukup rutin membagikan dividen dalam jangka panjang. Namun nominalnya bergerak sangat dinamis mengikuti kondisi industri telekomunikasi dan kinerja perseroan.
Pada 2025, ISAT membagikan dividen Rp83,8 per saham. Angka itu kini naik menjadi Rp111 pada 2026. Sebelumnya, perseroan sempat membagikan dividen jumbo Rp268,4 pada 2024 dan Rp255,7 pada 2023.
Bahkan dalam catatan historis lebih panjang, ISAT pernah membagikan dividen sangat besar di era sebelum restrukturisasi industri telekomunikasi. Pada 2021, misalnya, perseroan tercatat membagikan dividen hingga Rp920,14 dan Rp828,13 per saham dalam dua distribusi berbeda.
Namun setelah industri memasuki fase konsolidasi dan kebutuhan investasi jaringan meningkat besar, pola dividen ISAT mulai lebih konservatif. Fokus perusahaan perlahan bergeser ke penguatan bisnis data, ekspansi jaringan, efisiensi operasional, hingga monetisasi layanan digital.
Di titik ini, pasar mulai membaca ISAT bukan lagi sekadar saham telekomunikasi defensif, tetapi juga bagian dari cerita pertumbuhan digital dan konsumsi data Indonesia yang terus berkembang. Karena itu, ketika arus asing mulai masuk agresif menjelang cum dividen, banyak pelaku pasar melihat ada kombinasi menarik antara momentum jangka pendek dan positioning jangka panjang.
Meski reli cepat dalam beberapa hari terakhir membuat saham mulai rawan profit taking jangka pendek, posisi ISAT saat ini masih terlihat cukup aktif diperebutkan pasar. Terlebih, foreign flow selama lima hari perdagangan terakhir masih berada di zona positif dengan total net buy yang cukup besar.
Dalam situasi seperti sekarang, arah ISAT tampaknya tidak lagi hanya ditentukan oleh momentum dividen. Pasar mulai membaca lebih jauh bagaimana saham ini diposisikan sebagai emiten telekomunikasi yang tetap mampu menjaga daya tarik di tengah kompetisi industri dan perubahan pola konsumsi digital nasional.(*)
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.